Senin, Agustus 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Indonesia Krisis Anti Bisa Ular, Profesor UB: Tertinggal dari Malaysia

Redaksi by Redaksi
Mei 26, 2025 5:13 pm
in Pendidikan
Profesor Anti Bisa Ular

Profesor UB Malang yang juga pakar ular, Prof. Nia Kurniawan. Foto: Azmy

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id-Indonesia tengah menghadapi krisis ketersediaan anti bisa ular (anti-venom) atau serum penawar bisa ular. Padahal, angka kematian akibat gigitan ular berbisa di Tanah Air tergolong tinggi. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan oleh Prof. Nia Kurniawan, S.Si., M.P., D.Sc., Guru Besar di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Ia bahkan menyebut Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia dalam hal penanganan medis terhadap kasus gigitan ular.

Pernyataan ini disampaikan Prof. Nia dalam pidato pengukuhannya sebagai Profesor di bidang Taksonomi Vertebrata, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UB. Ia menyoroti lemahnya sistem penanganan medis di Indonesia dalam menghadapi ancaman gigitan ular berbisa yang kian meningkat.

READ ALSO

Mahasiswa Unisma Tembus Jurnal Scopus Q2 Lewat Riset Strategi Membaca

Dosen ITN Malang Bantu Warga Candirenggo Pilah Sampah dari Rumah

Sebagai pakar dalam riset anti-bisa ular, Prof. Nia menekankan pentingnya pengembangan riset anti-venom yang berbasis spesies lokal. Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman vertebrata endemik terbesar kedua di dunia, setelah kawasan Pegunungan Andes dan Mesoamerika.

ular berbisa
Ilustrasi:Ular berbisa keluar Viper. foto/lovepik

“Ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa endemik terus meningkat, salah satunya karena kurangnya dukungan terhadap riset dan sistem penanganan medis berbasis keanekaragaman lokal,” jelasnya.

Baca juga: Pengukuhan 5 Profesor Baru di UB: Inovasi untuk Ekonomi, Lingkungan, dan Konservasi

Ia juga menggarisbawahi bahwa spesies ular di Indonesia sangat beragam. Bahkan dalam satu spesies seperti kobra, karakteristik racunnya bisa berbeda antar wilayah. “Bisa ular di Jawa Barat berbeda dengan di Jawa Timur, Papua, atau Nusa Tenggara Timur. Karena itu, komposisi protein racunnya tidak bisa disamaratakan,” ungkap Prof. Nia.

Produksi Anti Bisa Ular Hanya Terbatas pada Tiga Jenis

Saat ini, satu-satunya produsen anti-bisa ular di Indonesia hanyalah Bio Farma, dan itu pun hanya mencakup tiga jenis ular: kobra, weling, dan welang. “Masih banyak jenis ular lain seperti ular hijau yang belum tersentuh. Padahal, kasus gigitan dari spesies lain juga cukup tinggi di lapangan,” tambahnya.

Sebab itulah, Prof Nia mulai mengembangkan riset dari pemodelan digital atau in silico, guna mengidentifikasi karakteristik racun secara efisien sebelum masuk ke tahap laboratorium.

”Pengembangan serum yang efektif harus dimulai dari karakterisasi protein racun ular berdasarkan daerah asal. Tidak bisa lagi kita mengandalkan serum impor seperti dari Thailand atau Australia, karena belum tentu cocok digunakan di Indonesia,” jelasnya.

Perlu Riset Lokal untuk Anti Bisa Ular yang Efektif

Saat ini, tahap pengembangannya telah memasuki proses karakterisasi protein racun yang nantinya akan diuji lebih lanjut di laboratorium. Harapannya, Indonesia bisa memproduksi anti-bisa ular lokal yang lebih efisien dan dapat menyelamatkan nyawa dalam hitungan menit, terutama di wilayah terpencil.

Baca juga: Teliti Pemetaan Habitat Ikan hingga Sistem Pemerintahan, 4 Profesor Lintas Ilmu UB Malang Dikukuhkan

Soal penanganan medis anti-bisa ular ini, kata Prof Nia, di Malaysia sudah maju. Bahkan Malaysia telah memanfaatkan bisa ular untuk terapi kanker, karena sifat racunnya yang dapat membunuh sel kanker tanpa merusak sel normal. “Kita sudah tertinggal jauh, padahal peluang pengembangan riset racun ular sangat besar di Indonesia,” ujarnya.

Dengan semakin meningkatnya ancaman kematian akibat gigitan ular berbisa dan minimnya alternatif pengobatan, Prof. Nia menekankan perlu kebijakan nasional yang mendukung riset dan pengembangan anti-bisa berbasis biodiversitas lokal, termasuk regulasi pendistribusiannya.

“Ini bukan hanya soal riset ilmiah, tapi soal menyelamatkan nyawa. Sudah saatnya Indonesia mandiri dalam pengembangan anti-bisa ular dari spesiesnya sendiri,” tandasnya.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko

Tags: anti-bisa ularAnti-venomindonesia krisis anti-bisa ularkrisis anti-bisariset anti-bisa ularriset anti-venom ularUB Malanguniversitas brawijaya

Related Posts

Mahasiswa Unisma Tembus Jurnal Scopus Q2 Lewat Riset Strategi Membaca
Pendidikan

Mahasiswa Unisma Tembus Jurnal Scopus Q2 Lewat Riset Strategi Membaca

Sabtu, 29 Agu 2026
Dosen ITN Malang Bantu Warga Candirenggo Pilah Sampah dari Rumah
Advertorial

Dosen ITN Malang Bantu Warga Candirenggo Pilah Sampah dari Rumah

Jumat, 28 Agu 2026
UIN Malang Buka Posko Kesehatan Gratis untuk Warga Nahdliyin di Muktamar ke-35 NU
Advertorial

UIN Malang Buka Posko Kesehatan Gratis untuk Warga Nahdliyin di Muktamar ke-35 NU

Jumat, 28 Agu 2026
ITN Malang Gandeng Perbakin, Lahan Kampus 2 Jadi Fasilitas Latihan Menembak
Advertorial

ITN Malang Gandeng Perbakin, Lahan Kampus 2 Jadi Fasilitas Latihan Menembak

Jumat, 28 Agu 2026
Drama Umar bin Khattab Warnai Maulid Nabi di SMP Insan Permata Malang
Advertorial

Drama Umar bin Khattab Warnai Maulid Nabi di SMP Insan Permata Malang

Jumat, 28 Agu 2026
Mahasiswa KKN Unikama dan Diskominfo Malang Perkuat SDM Operator Desa di Pakisaji
Pendidikan

Mahasiswa KKN Unikama dan Diskominfo Malang Perkuat SDM Operator Desa di Pakisaji

Kamis, 27 Agu 2026
Next Post
Atlet gulat Kota Batu

Atlet Gulat Kota Batu Borong 5 Medali di Kejuaraan Nasional, Siap Tempur di Porprov Jatim 2025

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.