Kamis, Oktober 15, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Indonesia Krisis Anti Bisa Ular, Profesor UB: Tertinggal dari Malaysia

Redaksi by Redaksi
Mei 26, 2025 5:13 pm
in Pendidikan
Profesor Anti Bisa Ular

Profesor UB Malang yang juga pakar ular, Prof. Nia Kurniawan. Foto: Azmy

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id-Indonesia tengah menghadapi krisis ketersediaan anti bisa ular (anti-venom) atau serum penawar bisa ular. Padahal, angka kematian akibat gigitan ular berbisa di Tanah Air tergolong tinggi. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan oleh Prof. Nia Kurniawan, S.Si., M.P., D.Sc., Guru Besar di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Ia bahkan menyebut Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia dalam hal penanganan medis terhadap kasus gigitan ular.

Pernyataan ini disampaikan Prof. Nia dalam pidato pengukuhannya sebagai Profesor di bidang Taksonomi Vertebrata, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UB. Ia menyoroti lemahnya sistem penanganan medis di Indonesia dalam menghadapi ancaman gigitan ular berbisa yang kian meningkat.

READ ALSO

Reuni Akbar UIN Malang 2026, Merajut Ukhuwah Mengukir Inspirasi

Fakultas Psikologi UIN Malang Tegaskan Komitmen Pembangunan Zona Integritas

Sebagai pakar dalam riset anti-bisa ular, Prof. Nia menekankan pentingnya pengembangan riset anti-venom yang berbasis spesies lokal. Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman vertebrata endemik terbesar kedua di dunia, setelah kawasan Pegunungan Andes dan Mesoamerika.

ular berbisa
Ilustrasi:Ular berbisa keluar Viper. foto/lovepik

“Ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa endemik terus meningkat, salah satunya karena kurangnya dukungan terhadap riset dan sistem penanganan medis berbasis keanekaragaman lokal,” jelasnya.

Baca juga: Pengukuhan 5 Profesor Baru di UB: Inovasi untuk Ekonomi, Lingkungan, dan Konservasi

Ia juga menggarisbawahi bahwa spesies ular di Indonesia sangat beragam. Bahkan dalam satu spesies seperti kobra, karakteristik racunnya bisa berbeda antar wilayah. “Bisa ular di Jawa Barat berbeda dengan di Jawa Timur, Papua, atau Nusa Tenggara Timur. Karena itu, komposisi protein racunnya tidak bisa disamaratakan,” ungkap Prof. Nia.

Produksi Anti Bisa Ular Hanya Terbatas pada Tiga Jenis

Saat ini, satu-satunya produsen anti-bisa ular di Indonesia hanyalah Bio Farma, dan itu pun hanya mencakup tiga jenis ular: kobra, weling, dan welang. “Masih banyak jenis ular lain seperti ular hijau yang belum tersentuh. Padahal, kasus gigitan dari spesies lain juga cukup tinggi di lapangan,” tambahnya.

Sebab itulah, Prof Nia mulai mengembangkan riset dari pemodelan digital atau in silico, guna mengidentifikasi karakteristik racun secara efisien sebelum masuk ke tahap laboratorium.

”Pengembangan serum yang efektif harus dimulai dari karakterisasi protein racun ular berdasarkan daerah asal. Tidak bisa lagi kita mengandalkan serum impor seperti dari Thailand atau Australia, karena belum tentu cocok digunakan di Indonesia,” jelasnya.

Perlu Riset Lokal untuk Anti Bisa Ular yang Efektif

Saat ini, tahap pengembangannya telah memasuki proses karakterisasi protein racun yang nantinya akan diuji lebih lanjut di laboratorium. Harapannya, Indonesia bisa memproduksi anti-bisa ular lokal yang lebih efisien dan dapat menyelamatkan nyawa dalam hitungan menit, terutama di wilayah terpencil.

Baca juga: Teliti Pemetaan Habitat Ikan hingga Sistem Pemerintahan, 4 Profesor Lintas Ilmu UB Malang Dikukuhkan

Soal penanganan medis anti-bisa ular ini, kata Prof Nia, di Malaysia sudah maju. Bahkan Malaysia telah memanfaatkan bisa ular untuk terapi kanker, karena sifat racunnya yang dapat membunuh sel kanker tanpa merusak sel normal. “Kita sudah tertinggal jauh, padahal peluang pengembangan riset racun ular sangat besar di Indonesia,” ujarnya.

Dengan semakin meningkatnya ancaman kematian akibat gigitan ular berbisa dan minimnya alternatif pengobatan, Prof. Nia menekankan perlu kebijakan nasional yang mendukung riset dan pengembangan anti-bisa berbasis biodiversitas lokal, termasuk regulasi pendistribusiannya.

“Ini bukan hanya soal riset ilmiah, tapi soal menyelamatkan nyawa. Sudah saatnya Indonesia mandiri dalam pengembangan anti-bisa ular dari spesiesnya sendiri,” tandasnya.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko

Tags: anti-bisa ularAnti-venomindonesia krisis anti-bisa ularkrisis anti-bisariset anti-bisa ularriset anti-venom ularUB Malanguniversitas brawijaya

Related Posts

Reuni Akbar UIN Malang tahun 2026 dilanjutkan dan pelantikan katan alumin. /Foto: Dok. UIN Malang
Pendidikan

Reuni Akbar UIN Malang 2026, Merajut Ukhuwah Mengukir Inspirasi

Kamis, 15 Okt 2026
Fakultas Psikologi UIN Malang tegaskan komitmen pembangunan zona integritas. /Foto: Dok. Fakultas Psikologi UIN Malang.
Pendidikan

Fakultas Psikologi UIN Malang Tegaskan Komitmen Pembangunan Zona Integritas

Kamis, 15 Okt 2026
Tujuh ilmuwan Universitas Brawijaya masuk daftar Top dua persen Researchers tahun 2026 atau peneliti terbaik dunia. Foto: Dok. UB
Pendidikan

7 Ilmuwan UB Masuk Daftar Peneliti Terbaik Dunia 2026

Rabu, 14 Okt 2026
ITN Malang English Festival 2026, Siswa BSS Borong Juara
Advertorial

ITN Malang English Festival 2026, Siswa BSS Borong Juara

Rabu, 14 Okt 2026
Seminar Green Tech ITN Malang
Advertorial

Seminar Green Tech ITN Malang Diserbu 230 Peserta

Rabu, 14 Okt 2026
Universitas Negeri Malang dan MGBK SMK Malang Raya Perkuat Kompetensi Guru BK
Advertorial

Universitas Negeri Malang dan MGBK SMK Malang Raya Perkuat Kompetensi Guru BK

Rabu, 14 Okt 2026
Next Post
Atlet gulat Kota Batu

Atlet Gulat Kota Batu Borong 5 Medali di Kejuaraan Nasional, Siap Tempur di Porprov Jatim 2025

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.