Malang, Tugumalang.id-Indonesia tengah menghadapi krisis ketersediaan anti bisa ular (anti-venom) atau serum penawar bisa ular. Padahal, angka kematian akibat gigitan ular berbisa di Tanah Air tergolong tinggi. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan oleh Prof. Nia Kurniawan, S.Si., M.P., D.Sc., Guru Besar di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Ia bahkan menyebut Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia dalam hal penanganan medis terhadap kasus gigitan ular.
Pernyataan ini disampaikan Prof. Nia dalam pidato pengukuhannya sebagai Profesor di bidang Taksonomi Vertebrata, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UB. Ia menyoroti lemahnya sistem penanganan medis di Indonesia dalam menghadapi ancaman gigitan ular berbisa yang kian meningkat.
Sebagai pakar dalam riset anti-bisa ular, Prof. Nia menekankan pentingnya pengembangan riset anti-venom yang berbasis spesies lokal. Menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman vertebrata endemik terbesar kedua di dunia, setelah kawasan Pegunungan Andes dan Mesoamerika.

“Ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa endemik terus meningkat, salah satunya karena kurangnya dukungan terhadap riset dan sistem penanganan medis berbasis keanekaragaman lokal,” jelasnya.
Baca juga: Pengukuhan 5 Profesor Baru di UB: Inovasi untuk Ekonomi, Lingkungan, dan Konservasi
Ia juga menggarisbawahi bahwa spesies ular di Indonesia sangat beragam. Bahkan dalam satu spesies seperti kobra, karakteristik racunnya bisa berbeda antar wilayah. “Bisa ular di Jawa Barat berbeda dengan di Jawa Timur, Papua, atau Nusa Tenggara Timur. Karena itu, komposisi protein racunnya tidak bisa disamaratakan,” ungkap Prof. Nia.
Produksi Anti Bisa Ular Hanya Terbatas pada Tiga Jenis
Saat ini, satu-satunya produsen anti-bisa ular di Indonesia hanyalah Bio Farma, dan itu pun hanya mencakup tiga jenis ular: kobra, weling, dan welang. “Masih banyak jenis ular lain seperti ular hijau yang belum tersentuh. Padahal, kasus gigitan dari spesies lain juga cukup tinggi di lapangan,” tambahnya.
Sebab itulah, Prof Nia mulai mengembangkan riset dari pemodelan digital atau in silico, guna mengidentifikasi karakteristik racun secara efisien sebelum masuk ke tahap laboratorium.
”Pengembangan serum yang efektif harus dimulai dari karakterisasi protein racun ular berdasarkan daerah asal. Tidak bisa lagi kita mengandalkan serum impor seperti dari Thailand atau Australia, karena belum tentu cocok digunakan di Indonesia,” jelasnya.
Perlu Riset Lokal untuk Anti Bisa Ular yang Efektif
Saat ini, tahap pengembangannya telah memasuki proses karakterisasi protein racun yang nantinya akan diuji lebih lanjut di laboratorium. Harapannya, Indonesia bisa memproduksi anti-bisa ular lokal yang lebih efisien dan dapat menyelamatkan nyawa dalam hitungan menit, terutama di wilayah terpencil.
Baca juga: Teliti Pemetaan Habitat Ikan hingga Sistem Pemerintahan, 4 Profesor Lintas Ilmu UB Malang Dikukuhkan
Soal penanganan medis anti-bisa ular ini, kata Prof Nia, di Malaysia sudah maju. Bahkan Malaysia telah memanfaatkan bisa ular untuk terapi kanker, karena sifat racunnya yang dapat membunuh sel kanker tanpa merusak sel normal. “Kita sudah tertinggal jauh, padahal peluang pengembangan riset racun ular sangat besar di Indonesia,” ujarnya.
Dengan semakin meningkatnya ancaman kematian akibat gigitan ular berbisa dan minimnya alternatif pengobatan, Prof. Nia menekankan perlu kebijakan nasional yang mendukung riset dan pengembangan anti-bisa berbasis biodiversitas lokal, termasuk regulasi pendistribusiannya.
“Ini bukan hanya soal riset ilmiah, tapi soal menyelamatkan nyawa. Sudah saatnya Indonesia mandiri dalam pengembangan anti-bisa ular dari spesiesnya sendiri,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko































