Malang, Tugumalang.id – Harga telur ayam di Kabupaten Malang masih berada di bawah harga ideal di tingkat peternak. Kondisi ini dikhawatirkan membuat peternak skala kecil kesulitan menutup biaya produksi dan terancam gulung tikar.
Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Malang Nur Zulaikha mengatakan, harga telur di tingkat peternak bahkan sempat menyentuh Rp17 ribu per kilogram.
Memasuki awal September 2026, harganya mulai naik menjadi sekitar Rp19 ribu-Rp21 ribu per kilogram. Namun, harga tersebut masih belum ideal dan belum memberikan keuntungan bagi peternak.
“Itu harga di peternak. Kalau harga di pasar bisa berbeda-beda, tergantung lokasinya,” kata Nur.
Selisih harga di tingkat peternak dan pasar biasanya berkisar Rp500-Rp1.000 per kilogram. Besarnya selisih bergantung pada jarak dari sentra produksi. Di Kabupaten Malang, peternakan telur banyak ditemui di Kecamatan Kalipare dan Tumpang.
Baca juga: Harga Telur Anjlok di Malang, Peternak Ayam Kepanjen Kuras Tabungan
Nur mengakui, rendahnya harga telur telah menimbulkan keluhan dari kalangan peternak. Harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan.
“Banyak keluhan dari peternak karena tidak seimbang antara biaya produksi sama harga jual,” ujarnya.
Salah satu komponen biaya produksi yang menjadi beban peternak adalah pakan, khususnya jagung. Kenaikan harga jagung turut membuat titik impas atau break even point (BEP) usaha peternakan telur semakin tinggi.
Nur menambahkan, harga telur yang paling ideal sebenarnya berada di kisaran Rp28 ribu per kilogram. Harga tersebut masih relatif terjangkau konsumen sekaligus memberikan keuntungan yang cukup bagi peternak.
Jika belum bisa mencapai Rp28 ribu, setidaknya harga telur berada di kisaran Rp24 ribu per kilogram. Angka tersebut menjadi batas agar peternak dapat tetap menjalankan usahanya meski belum memperoleh keuntungan besar.
“Di harga tersebut, sebenarnya peternak belum untung. Tapi setidaknya mereka tidak sampai rugi,” jelasnya.
Saat harga telur di tingkat peternak hanya Rp19 ribu per kilogram, terdapat selisih sekitar Rp5 ribu dari harga Rp24 ribu yang menjadi batas agar peternak tidak rugi. Jika harga murah ini berlangsung lama, peternak dikhawatirkan tidak mampu mempertahankan usahanya.
Baca juga: Harga Telur Ayam Anjlok, Peternak Menjerit
Kondisi tersebut dinilai paling rentan bagi peternak dengan skala kepemilikan kecil, terutama yang memiliki populasi ayam petelur di bawah 2 ribu ekor. Nur khawatir banyak peternak kecil gulung tikar apabila harga telur tak kunjung naik.
Jika banyak peternak berhenti berproduksi, konsumen juga bisa dirugikan. Berkurangnya jumlah peternak dan produksi telur berpotensi membuat harga telur melonjak ketika pasokan tidak lagi mencukupi.
“Kalau sudah collapse, peternaknya tidak ada, harga telur akan melonjak. Konsumen juga yang akan rugi,” ujar Nur.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko































