Malang, Tugumalang.id – Banyak orang tua merasa khawatir ketika melihat buah hatinya mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi makanan tertentu, khususnya susu atau produk olahannya. Salah satu kondisi yang cukup sering menjadi penyebabnya adalah intoleransi laktosa. Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memahami apa itu intoleransi laktosa, gejala yang muncul, hingga cara penanganannya pada anak.
Dalam video edukasi kesehatan di kanal YouTube RS Premier Jatinegara, dr. Frieda Handayani, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menjelaskan bahwa laktosa merupakan jenis gula alami yang terdapat di dalam susu dan berbagai produk turunannya.
“Laktosa adalah gula yang terdapat dalam makanan kita sehari-hari, seperti susu dan produk turunannya. Produk turunan atau dairy products bisa terdiri dari keju, cokelat, mayones, cream cheese, yoghurt, hingga makanan seperti roti, pizza, dan martabak,” jelas dr. Frieda.
Faktor Etnis Bisa Memengaruhi Risiko Intoleransi Laktosa
dr. Frieda mengungkapkan bahwa faktor etnis turut memengaruhi kemampuan tubuh dalam mencerna laktosa. Anak-anak Asia umumnya memiliki jumlah enzim laktase yang lebih sedikit dibandingkan anak-anak Eropa atau Kaukasia.
Enzim laktase sendiri berfungsi membantu usus memecah laktosa menjadi sumber energi yang dapat diserap tubuh. Ketika jumlah enzim ini terbatas, laktosa tidak dapat dicerna secara optimal dan akhirnya menumpuk di saluran pencernaan.
Kondisi tersebut kemudian memicu berbagai gangguan pencernaan, terutama setelah anak mengonsumsi susu atau makanan berbahan dasar dairy products dalam jumlah berlebihan.
Baca juga: Organisasi Kesehatan PAFI Memberikan Tips Ampuh Menangani Diare Pada Orang Dewasa dan Anak-anak
Gejala Intoleransi Laktosa pada Anak yang Perlu Diwaspadai
Orang tua perlu lebih jeli memperhatikan reaksi tubuh anak setelah mengonsumsi susu maupun produk turunannya. Menurut dr. Frieda, terdapat beberapa gejala umum intoleransi laktosa yang sering muncul, antara lain:
- Perut terasa kembung
- Sering buang angin
- Sakit perut atau mulas
- Diare
- Muntah dengan rasa asam
- Nyeri di area dada
“Jika diare terus-menerus, maka di sekitar anus akan terjadi kemerahan dan lecet. Itu adalah tanda-tanda intoleransi laktosa pada anak,” tambah dr. Frieda.
Ia juga menjelaskan bahwa intoleransi laktosa umumnya tidak menyebabkan demam. Namun, demam bisa muncul apabila anak mengalami dehidrasi akibat diare berkepanjangan.
Cara Mengatasi dan Diagnosis Intoleransi Laktosa pada Anak
Kabar baiknya, intoleransi laktosa bukan kondisi yang memerlukan pengobatan ekstrem. Penanganan utama dilakukan melalui pengaturan pola makan dan pembatasan konsumsi laktosa sesuai toleransi tubuh anak.
dr. Frieda menegaskan bahwa anak tetap boleh mengonsumsi makanan mengandung laktosa, tetapi jumlahnya perlu dibatasi dan dipantau dengan baik agar tidak memicu keluhan pencernaan.
Untuk memastikan diagnosis intoleransi laktosa, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan pH tinja. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar asam tinggi disertai riwayat konsumsi susu berlebih, maka kondisi intoleransi laktosa dapat ditegakkan.
Baca juga: Susu Hewan Herbivora, Obat Nabi yang Kandungannya Terkumpul dari Berbagai Macam Tumbuhan
Sebagai langkah awal, orang tua dapat mulai mengurangi konsumsi dairy products pada anak ketika gejala muncul. Namun, apabila keluhan tidak kunjung membaik atau semakin berat, konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/Magang
redaktur: jatmiko


















