Tugumalang.id – Angka kasus penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kota Batu, Jawa Timur masih menjadi fenomena gunung es. Sebab itu, Dinas Kesehatan Kota Batu melakukan skrining di kantong-kantong TBC di Kota Batu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya deteksi dini penyakit Tuberkulosis (TBC), yakni infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pemerintah sendiri mencanangkan target eradikasi TBC pada 2030 alias zero TBC.
Baca Juga: Gandeng RSUD Karsa Husada, Dinkes Kota Batu Intensifkan Percepatan Layanan TBC-RO
Saat ini, fenomena gunung es penyakit ini diperparah dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. Menguatnya gunung es tersebut diperparah dengan situasi denial pada masyarakat yang menganggap penyakit TBC sebagai stigma negatif.
Hingga pertengahan 2025 ini, Dinkes Kota Batu mencatat ditemukan ada 330 kasus, 323 orang di antaranya sensitif obat (bisa diobati, red), namun 7 orang sisanya RO atau resisten. Pasien TBC RO adalah kondisi di mana bakteri mycobacterium tuberculosis dalam tubuhnya sudah kebal terhadap obat-obatan TBC standar (lini 1), terutama rifampisin.
Sebagai upaya jemput bola, Dinkes Kota Batu melakukan skrining di salah satu kantong TBC yakni di Puskesmas Sisir. Kepala Puskesmas Sisir, Sachariano, dalam penyuluhannya menjelaskan bahwa TBC dapat menular melalui percikan dahak saat seseorang batuk atau bersin, bahkan tanpa disadari.
Baca Juga: Wawali Kota Batu Bentuk Tim Percepatan Menuju Kota Sehat dan Eliminasi TBC
“TBC tidak selalu menunjukkan gejala langsung. Kuman bisa ‘tidur’ di dalam tubuh dan aktif ketika daya tahan menurun. Karena itu, deteksi dini penting untuk mencegah penularan,” jelasnya.
Sachariano juga mengungkapkan Kelurahan Sisir terdapat sejumlah warga yang saat ini sedang menjalani pengobatan TBC dengan rentang usia beragam. Ia menekankan bahwa masyarakat tidak perlu takut karena pengobatan dan pencegahan dapat dilakukan secara teratur melalui pendampingan tenaga kesehatan.
Sementara itu, petugas Dinkes Kota Batu, Yoni Hadi Purnomo, menjelaskan bahwa tahapan skrining TBC dilakukan dengan dua metode. Yakni pemeriksaan dahak dan tuberculin skin test.
“Bagi warga yang memiliki gejala batuk, akan dilakukan pemeriksaan dahak menggunakan tes cepat molekuler. Sementara yang tidak bergejala tetap diperiksa melalui tuberculin skin test untuk mendeteksi infeksi,” ujarnya.
Yoni menambahkan, hasil tes akan muncul dua hari kemudian dan bagi warga yang menunjukkan hasil positif akan menjalani pemeriksaan lanjutan berupa foto toraks, untuk memastikan kondisi paru-paru agar segera mendapat penanganan. Seluruh pemeriksaan dan pengobatan ditanggung oleh Pemerintah Kota Batu.
Selain pemeriksaan, kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi agar masyarakat tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC.
“Orang dengan TBC tidak boleh dijauhi, tapi harus didukung agar mau berobat. Setelah dilakukan terapi berkala, risiko penularan dapat menurun,” tambah Yoni.
Melalui kegiatan skrining ini, Dinkes berharap masyarakat semakin sadar pentingnya pencegahan dan deteksi dini TBC, sekaligus memperkuat langkah bersama menuju eliminasi TBC di Kota Batu.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























