Kota Batu, Tugumalang.id – Kolaborasi praktik baik dilakukan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bersama kalangan akademisi melalui program PROTEG atau Program Terapan Ekonomi Guru. Program ini dirancang untuk membantu meningkatkan kesejahteraan guru honorer agar lebih berdikari atau mandiri secara ekonomi.
Program tersebut telah digagas sejak awal 2026 dan perdana digelar di Van Der Man Coffee, Kota Batu, Jawa Timur. Pendampingan dilakukan melalui berbagai skema pengembangan usaha, mulai dari bidang kuliner, percetakan, permainan anak, tata busana, hingga usaha kreatif berbasis teknologi.
Tak hanya mendorong lahirnya usaha, kolaborasi praktik baik itu juga mencakup penguatan aspek legalitas hingga perluasan pemasaran. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan program ini menjadi solusi nyata untuk menjawab persoalan kesejahteraan guru honorer.
“PROTEG bukan sekadar program, tetapi bukti nyata kepedulian. Kita melihat langsung guru-guru honorer yang kini mampu berdiri mandiri secara ekonomi, dengan usaha yang legal dan berkelanjutan,” tegas Aries.
Baca juga: Dindik Jatim Pastikan SMA, SMK, hingga SLB Negeri Bebas Pungli dan Penahanan Ijazah
Ia menambahkan, kolaborasi Dindik Jatim dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi salah satu kunci keberhasilan program. Pendampingan yang terstruktur dinilai mampu meningkatkan kompetensi kewirausahaan tanpa mengganggu tugas utama peserta sebagai pendidik.
“Ketika kesejahteraan guru terjaga, semangat mengajar juga akan semakin kuat. Inilah pendidikan berdampak yang kita bangun bersama untuk masa depan Jawa Timur,” imbuhnya.
Program PROTEG Jangkau Ratusan Guru Honorer di Jawa Timur
Sementara itu, Koordinator Pelaksana PROTEG, M Zainul Asrofi, menjelaskan program ini telah berjalan sejak 2024 dan menyasar guru honorer di seluruh Jawa Timur. Pada tahun pertama, sebanyak 200 guru mengikuti program tersebut, lalu meningkat menjadi 500 peserta pada 2025.
Pendampingan terstruktur itu, jelasnya, meliputi perencanaan usaha, pemasaran, pengembangan produk, pengelolaan bisnis, hingga praktik menjalankan usaha secara mandiri.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara daring dan luring, dilengkapi coaching serta pendampingan sesuai karakter usaha masing-masing peserta. Penekanan khusus juga diberikan pada pemanfaatan teknologi dan digital marketing agar jangkauan usaha semakin luas.
Dari 500 peserta PROTEG 2025, sekitar 30 persen dinilai memiliki usaha yang sangat baik dan layak dilepas mandiri. Sebanyak 60 persen masuk kategori baik, sementara kurang dari 10 persen masih berkinerja rendah.
“Memang ada guru yang memilih fokus mengajar dan tidak tertarik usaha. Itu pilihan bebas. Tapi yang terbaik kami undang hari ini untuk penguatan branding sekaligus apresiasi,” jelasnya.
Baca juga: Kadindik Jatim Jamin Bantuan Pendidikan untuk Anak Putus Sekolah di Malang Tepat Sasaran
Sebanyak 30 guru terbaik tersebut mendapatkan pembekalan lanjutan terkait pemasaran digital, copywriting, dan branding. Dalam penguatan ini, PROTEG juga menggandeng konsultan branding yang berpengalaman mendampingi UMKM di berbagai daerah.
“Kami berharap 30 terbaik ini ke depan bisa menjadi fasilitator bagi peserta lain. Meski saat ini ada efisiensi, semangat berbagi dan berdaya harus tetap dijaga,” ujarnya.
Kisah Aryo Kembangkan Usaha Kopi Lebih Mandiri
Salah satu peserta PROTEG, Aryo Saputro Panji Riyanto, mengaku sangat terbantu dengan hadirnya program tersebut. Para peserta, kata dia, dibekali materi mulai dari Business Model Canvas, manajemen usaha, pengelolaan keuangan, hingga strategi membangun jejaring bisnis.
Bagi Aryo, fase tersebut menjadi titik penting yang mengubah cara pandangnya dalam mengelola usaha.
“Dari PROTEG saya belajar bikin sistem. Sekarang usaha bisa jalan lebih rapi dan mandiri, tidak harus selalu saya pegang langsung,” ujarnya.
Berbekal ilmu tersebut, Aryo mengembangkan usaha kopinya dengan lebih serius. Kafe yang sebelumnya ia kelola perlahan bertransformasi menjadi pemasok kopi bagi sejumlah kafe di wilayah Malang Raya. Ia juga membangun jaringan petani binaan dan mengelola kebun kopi sendiri demi menjaga kualitas serta kesinambungan pasokan.
“Saya ingin usaha ini tidak hanya untung, tapi juga sehat dan berkelanjutan. Petani ikut sejahtera, kualitas kopi terjaga,” katanya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























