Tugumalang.id – Kegigihan Eko Cahyono dalam mengelola perpustakaan gratis selama 25 tahun layak mendapat apresiasi. Meski dihadapkan pada beberapa tantangan selama rentang waktu itu, dia tetap bisa mengatasi dan menyediakan bacaan selama bertahun-tahun tanpa dibayar bagi warga di Desa Sukopuro, Kabupaten Malang.
Tekad yang kuat untuk meningkatkan akses pendidikan di komunitasnya menjadi satu alasan mengapa dia bertahan sampai sekarang. Dia telah menjadi pilar penting dalam menciptakan lingkungan literasi yang inklusif di desa terpelosok tersebut.
Eko Cahyono konsisten menyediakan bahan bacaan yang berkualitas dan gratis sejak juni 1998. Perpustakaan itu bernama perpustakan Anak Bangsa berada di Desa Sukopuro,Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Desa ini termasuk pelosok, berjarak satu jam dari Kota Malang.
Baca Juga: Cerita Kakek Asal Pakisaji Gowes Sepeda Onthel ke 5 Negara
Menurut cerita Eko Cahyono, apa yang dia lakukan berawal dari hobi membaca, cinta, passion, ketabahan, serta dampak yang nyata. Saat ini, dia menyediakan sekitar 108.000 eksemplar buku bacaan dengan 90 ribu judul buku.
Perpustakaan yang dijalankan Eko Cahyono tidak hanya menjadi tempat bagi anak-anak untuk dapat membaca buku-buku bermutu tinggi, tetapi juga menjadi pusat kegiatan pendidikan bagi orang banyak.
Dalam perjalanan 25 tahun ini, ia telah berhasil mendapat perhatian serta dukungan dari warga sekitar dan donatur untuk memperluas koleksi perpustakaan, serta menyediakan program-program edukasi yang beragam.
Melalui dedikasinya, Eko telah membuka pintu bagi anak-anak dan dewasa di desa maupun di luar daerah untuk mengakses pengetahuan tanpa hambatan finansial. Prestasinya menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.
Baca Juga: Cerita Pilu Mahasiswa Poltekom Malang Niat Kuliah Malah Jadi Penjaga Kampus
Ini menegaskan bahwa kekuatan literasi dapat mengubah takdir orang-orang yang membaca. Sampai saat ini total orang yang sudah berkunjung ke perpustakannya sudah sekitar 12 ribu orang.
Orang-orang yang berkunjung itu, disebut anggota aktif.”kalau anggota pasif, adalah dia yang pinjam buku dari anggota aktif, jumlahnya tidak terdata,” katanya.” Saya kira yang pasif sangat banyak, karena puluhan ribu buku saya yang dipinjam,tapi tidak Kembali. Tidak apa-apa meski tidak Kembali, yang penting buku itu bermanfaat dan dibaca orang-orang,” imbuhnya.
Berkat kerja kerasnya itu, ada banyak orang yang bercerita setelah membaca atau pinjam buku di Perpustakan Anak Bangsa ini dapat merubah hidupnya. Banyak penghargaan yang didapat berkat mendirikan Perpustakaan Anak Bangsa ini, seperti diundang Presiden Jokowi mendapatkan pengharagaan yang paling berkesan dari Astra Internasional.
Dia mendapatkan 1 Indonesia Awards tahun 2012, mendapatkan penghargaan MNCTV Pahlawan Indonesia dan pada tahun 2017 mendapatkan penghargaan Pendidikan anak sejak dini, duta PAUD nasional.
Eko Cahyono tidak menyangka selama perjalanaan 25 tahun ini bisa dikenal banyak orang dan dapat bermanfaat bagi orang banyak, dengan menyediakan ratusan ribu buku gratis, mulai dari mengambil buku, mengumpulkan buku dan menyediakan buku untuk orang-orang yang ingin membacanya.
Penulis: Chisma Haryati Kartika (Magang)
Editor: Herlianto. A





























