Tugumalang.id – PROFAUNA Indonesia Foundation bersama warga lokal menelurkan cara brilian untuk menekan kasus perburuan liar di lereng Gunung Arjuno. Cara itu dengan menghadirkan ekowisata pengamatan burung (birdwatching).
Ekolog PROFAUNA Indonesia, Rosek Nursahid menuturkan program birdwatching yang digagas sejak awal tahun 2026 ini memadukan sensasi petualangan, edukasi ekologis, dan aksi konservasi. Melalui skema ini, burung-burung di alam bebas tak lagi dipandang sebagai komoditas buruan untuk dijual.
”Program ini mengedukasi bahwa burung-burung ini adalah aset lingkungan yang terus mendatangkan manfaat ekonomi berkelanjutan,” ungkap Rosek, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga: Populasi Lutung Jawa di Lereng Gunung Arjuno Menyusut Drastis dalam Dua Dekade
Dalam program ini, warga sekitar lereng Arjuno memegang peranan kunci. Warga tidak sekadar menjadi penonton, melainkan terlibat aktif dalam penyediaan konsumsi, pemanduan (local guide), hingga pemetaan jalur pengamatan. Bahkan, kini pihaknya tengah merintis penyediaan rumah singgah (homestay) bagi pengunjung.
“Ada harapan dari warga menyediakan fasilitas homestay, sehingga tamu yang datang dari luar daerah dapat menginap lebih dekat dengan titik pengamatan,” ungkapnya.
Rosek menambahkan sampai hari ini animo masyarakat luar daerah terhadap birdwatching terbilang tinggi. Setiap bulannya, rata-rata 15 peserta mengikuti trip pengamatan. Peserta datang dari berbagai daerah seperti Malang Raya, Surabaya, Sidoarjo, Tangerang, hingga Jakarta.
Baca Juga: Daya Tarik Lembah Dali Malang: Destinasi Wisata Alam yang Memukau di Lereng Gunung Arjuno
Dampak positif dari keterlibatan ekonomi ini terasa langsung pada proteksi kawasan. Dari semula berburu, qarga kini berada di garda terdepan untuk melarang serta menindak aktivitas pemburu burung liar yang mencoba masuk.
Penyusuran rute birdwatching melintasi kerapatan vegetasi hutan pinus hingga hutan campuran sepanjang 6 kilometer dengan tingkat kesulitan sedang. Para pengamat dibekali teropong binokuler dan kamera berlensa tele untuk mendokumentasikan satwa dari jarak aman.
Berdasarkan pendataan PROFAUNA, sedikitnya ada 55 spesies burung yang berhasil didokumentasikan di lereng Gunung Arjuno. Beberapa di antaranya merupakan spesies ikonik dan dilindungi. Seperti Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Elang Hitam (Ictinaetus malaiensis), Kadalan Birah (Phaenicophaeus curvirostris), Paok Pancawarna (Hydrornis guajanus), Uncal Loreng, Caladi Tilik, dan Takur Tohtor.
“Spesies yang paling diburu kesan pengamat adalah kadalan birah dan elang jawa karena ukuran tubuhnya yang relatif besar serta perpaduan warna bulunya yang sangat mencolok,” kata Rosek.
Sebenarnya, pendekatan konservasi di lereng Gunung Arjuno ini telah dirintis PROFAUNA sejak 2021 melalui skema Perhutanan Sosial. Langkah tersebut diselaraskan dengan program rehabilitasi hutan lindung bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Perum Perhutani untuk memulihkan ekosistem yang sebelumnya sempat dialihfungsikan menjadi pertanian monokultur.
Rosek menegaskan, pergeseran pola pikir masyarakat menjadi kunci utama mitigasi kejahatan satwa liar. Dengan merasakan manfaat finansial dari hutan yang lestari, warga dengan sendirinya menjadi benteng pertahanan bagi keanekaragaman hayati Gunung Arjuno.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


















