Malang, Tugumalang.id – Kegiatan birdwatching menjadi salah satu alternatif wisata sekaligus upaya mencegah penangkapan burung di lereng Gunung Arjuno, terutama kawasan yang berada di Malang.
Birdwatching merupakan aktivitas mengamati jenis dan perilaku burung di alam. Kegiatan ini mulai digencarkan Yayasan Profauna Indonesia pada 2026.
Birdwatching di lereng Gunung Arjuno diikuti sekitar 15 orang setiap bulan. Peserta berasal dari berbagai daerah, seperti Malang, Surabaya, Sidoarjo, Tangerang, hingga Jakarta.
Peserta diajak menelusuri kawasan hutan dengan beragam vegetasi, mulai kawasan pinus hingga hutan campur. Mereka mengamati burung menggunakan teropong binokuler dan kamera khusus.
Baca juga: 3 Wisata Fauna di Malang untuk Liburan Edukatif Bersama Keluarga
Jalur trekking yang digunakan memiliki tingkat kesulitan sedang dengan jarak tempuh sekitar 6 kilometer. Sepanjang perjalanan, peserta berkesempatan mengamati berbagai jenis burung yang hidup di kawasan lereng Gunung Arjuno.
Puluhan jenis burung teridentifikasi
Tim Profauna telah mengidentifikasi sedikitnya 55 jenis burung di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya elang jawa (Nisaetus bartelsi), elang hitam (Ictinaetus malaiensis), kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris), paok pancawarna (Hydrornis guajanus), uncal loreng (Macropygia unchall), caladi tilik (Picoides moluccensis), dan takur tohtor (Psilopogon armillaris).

Keragaman tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengikuti kegiatan birdwatching. Ekolog Profauna Indonesia Rosek Nursahid mengatakan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan turut mendukung dan dilibatkan dalam pengembangan kegiatan tersebut.
“Masyarakat lokal menyediakan makanan bagi peserta. Mereka juga membantu melakukan kegiatan survei lokasi,” kata Rosek, Rabu (7/10/2026).
Baca juga: Menelusuri Sejarah Batu Secret Zoo, Ikon Wisata Edukasi Modern di Kota Batu
Ia menyebut pengembangan birdwatching tidak hanya berfokus pada pengalaman wisata. Kegiatan ini juga digalakkan untuk mendorong perubahan cara pandang masyarakat sekitar terhadap keberadaan burung di hutan.
Dengan adanya wisata pengamatan burung, masyarakat lokal semakin terdorong menjaga kelestarian satwa. Mereka kini melarang orang berburu maupun menangkap burung di kawasan hutan lereng Gunung Arjuno.
“Program kami untuk melestarikan hutan dan satwa liar di lereng Gunung Arjuno dimulai sejak lima tahun lalu lewat pendekatan perhutanan sosial dan pengembangan wisata khusus birdwatching,” ujarnya.
Masyarakat dilibatkan menjaga hutan
Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan. Dengan adanya aktivitas wisata berbasis alam, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut menjaga habitat yang menjadi daya tarik utama wisata tersebut.
Selain mengembangkan birdwatching, Profauna juga menjalankan program rehabilitasi hutan lindung di lereng Gunung Arjuno. Program tersebut dilakukan bekerja sama dengan kelompok tani hutan dan Perhutani untuk memulihkan kawasan hutan lindung yang sebelumnya telah terlanjur dirambah dan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko


















