MALANG, Tugumalang.id – Waktu selalu menghadirkan cerita yang menarik dari setiap perjalanan yang telah dilalui. Ungkapan demikian rasanya pas menggambarkan perjalanan Surya Burhanuddin dan Sjenny Djamain dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Dalam buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny diceritakan bagaimana awal perjalanan kehidupan mereka, dari meniti karier hingga merangkai cerita sebagai keluarga yang harmonis.
Semua bermula di penghujung tahun 1969. Tahun yang begitu istimewa bagi Surya dan Sjenny di mana segalanya mulai berakar. Sebagaimana pepatah Jawa Witing Tresno atau dimulainya cinta.
Di sebuah kampus teknik yang berada di kawasan jantung, Jakarta, tepatnya bernama Akademi Teknik Nasional (ATN). Dua anak muda, Surya dan Sjenny kala itu berstatus sebagai mahasiswa baru.
Baca Juga: Sharing Session Tugu Media Group, Surya Burhanuddin Tekankan Kekuatan Mimpi
Layaknya pohon yang saling bertumbuh, berakar, bertaut, berjalinan, dan tak genar dihantam angin di berbagai musim. Keduanya sama-sama merajut asa dan harapan di masa depan dan tak pernah berpikir dari sekian ratus mahasiswa saat itu, takdir Tuhan membawa menuntun menulis cerita selama setengah abad.
Pertemuan di Ruang Kelas Sederhana
ATN bukanlah kampus besar saat itu yang memiliki fasilitas mewah bagi mahasiswanya. Tetapi merupakan kampus teknik tertua yang ada di Jakarta. Sehingga kampus ini merupakan salah satu perguruan tinggi yang memiliki nilai sarat sejarah.
Kampus ATN didirikan pada tahun 1950 oleh Prof. Dr. Ir. Roosseno, salah satu tokoh yang terkenal sebagai Bapak Beton Indonesia.

Meski jauh dari kata mewah, kampus ini menjadi jujukan mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
Di antara deru laju ibukota, datang seorang pemuda bernama Surya Burhanuddin. Pemuda yang lahir di Padang, 29 Maret 1950 ini terkenal nyentrik saat itu. Ia datang ke kampus dengan motor Vespa, yang kelak menjadi saksi dari perjalanan panjang Surya dalam meniti karier maupun kehidupan pribadinya.
Baca Juga: Diaspora yang Sukses di Petronas Malaysia Berbagi Hewan Qurban di Desa Kalipare Kabupaten Malang
Surya tidak tumbuh dari keluarga kaya yang serba ada, ia tumbuh dari keluarga sederhana namun justru inilah yang membentuk semangat juangnya seperti baja. Di sela-sela kegiatan kuliah, Surya menjalani banyak pekerjaan, baik serabutan hingga membantu menggambar desain rumah.
Sementara Sjenny Djamain yang lahir di Makassar pada 5 Desember 1949 memiliki latar belakang keluarga seniman. Lulusan SMA Negeri 1 Kebayoran Baru Jakarta ini dikenal memiliki suara yang merdu.
Bersama sang adik. Ida dan Rien. Mereka membentuk Trio Djamain Sisters yang kala itu mengisi acara hiburan di TVRI dan juga berbagai panggung.
Tidak perkenalan istimewa atau obrolan yang panjang di cafe atau taman kampus. Pertemuan Surya dan Sjenny terjadi di ruang kelas yang sederhana.
“Pertemuan pertama Surya dan Sjenny terjadi di ruang kelas yang sederhana dan didominasi oleh suara riuh percakapan khas mahasiswa baru. Tidak ada perkenalan istimewa, tidak pula percakapan panjang, hanya pandangan singkat antara dua anak muda yang sedang menata masa depan,” kenang Surya yang dituliskannya dalam buku tersebut.
Sebagaimana falsafah witing tresno, benih-benih cinta keduanya tumbuh seiring dengan deru waktu, di antara tugas kuliah, suara dosen, dan juga rumus-rumus teknik.
Bukan bahasa cinta yang dibuat-dibuat untuk menciptakan kesan romantis. Kisah keduanya begitu sederhana, tebengan pulang dengan motor Vespa dan percakapan sepanjang jalan menjadi wahana bagi keduanya untuk saling mengenal satu sama lain.
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
Percakapan sederhana dua anak muda tentang cita-cita di masa depan, membawa Surya dan Sjenny pada takdir. Layaknya bunga yang tumbuh alami di taman semua mengalir mengikuti laju waktu.
Seperti pepatah Jawa, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, cinta datang karena terbiasa. Begitulah cinta Surya kepada Sjenny. Cinta seorang pemuda dengan kesan sederhana dan memiliki cita-cita besar.
Sebagai seorang mahasiswa yang disibukkan oleh aktivitas kuliah di tengah sistem gugur yang ketat. Bagi Surya, urusan asmara bukanlah prioritas utama, melainkan bagaimana dirinya dapat menyelesaikan studi dan merajut impian di masa depan.
Namun, takdir selalu punya caranya sendiri. Seperti angin yang menembus celah-celah ruang hampa, angin itu datang dengan lembut dan membawa benih cinta untuk tumbuh di hatinya.
Perasaan yang bagai gayung pun bersambut, perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan dan menuntun keduanya ke tujuan yang sama.
“Perasaan itu datang begitu alami, tanpa perencanaan sama sekali. Ia tak sempat menimbang apakah ini peluang atau ancaman anugerah atau ujian,” ungkap Surya.
Dengan kapasitas diri yang masih muda dan pengalaman yang terbatas. Ia hanya mengikuti aliran waktu seperti air yang mengalir, mengamini setiap pertemuan dan kebersamaan tanpa terlalu banyak bertanya.
Perjalanan Cinta Bukan Hanya Tentang Getar Rasa
Memahami perjalanan cinta bukan tentang hanya sekadar getar rasa. Kisah Surya dan Sjenny tumbuh secara perlahan dan tetap terpelihara dengan penuh kehangatan.
Namun sebagaimana laksana kapal yang tengah mengarungi lautan, akan selalu datang ombak yang menempa untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Kegelisahan dan menunggu jawaban dari doa akan takdir Tuhan sempat menyelimuti keduanya. Sebagai seorang pemuda yang baru menyelesaikan studi, tentu Surya ingin menggapai cita-citanya terlebih dahulu, setidaknya memiliki pekerjaan untuk menghidupi pasangan.
Ia percaya bahwa ketergesa-gesaan dapat melahirkan keputusan yang tidak optimal. Maka, ia menimbang dengan hati-hati, berusaha, menemukan formula yang tepat antara mimpi, usaha, dan waktu untuk mencapai cita-cita.
Sedangkan bagi Sjenny dihadapkan pada kegelisahan tentang norma dan adat yang berlaku, bahwa tak mungkin seorang gadis berlama-lama menunggu. Pertanyaan yang terbesit di keluarga, “sampai kapan kesiapan menjadi pria itu akan diwujudkan?”.
Bagi Surya rasanya seperti berjalan di jembatan yang rapuh, antara cita-cita dan tanggung jawab. Baginya situasi itu bak menghela raambut di tepung. Ia harus menjaga keseimbangan antara cinta dan juga logika, antara hati dan realitas hidup yang sedang dibangun.
Di sinilah cinta sejati diuji, bukan karena ego atau besar kecilnya rasa, tetapi oleh panjang pendeknya sebuah kesabaran.
Tujuh tahun berjuang, 1969-1976 bukanlah waktu yang singkat untuk menyemai cinta dan bertahan menghadapi ujian yang silih berganti datang. Mereka tumbuh sebagai anak muda menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Tahun demi tahun berlalu, terasa lebih lambat untuk mengikrarkan cinta ke jenjang yang lebih serius. Surya sibuk menata masa depannya dan menyiapkan masa depan yang layak dari kerja kerasnya.
Begitu pun dengan Sjenny terus mengasah dirinya menyeimbangkan dunia teknik dan dunia seni, dua dunia yang begitu ia cintai.
Surya kemudian berhasil meraih gelar Bachelor of Engineering (BE), sebuah gelar akademik yang didapatkan dari kerja keras, melewati sistem perkuliahan yang ketat.
Ia percaya tuntutan Ilahi Rabbi yang menjadi solusi dalam menghadapi setiap ujian yang datang. Bayangan sosok Sjenny selalu ada dalam pikiraanya, seperti lagu yang tak kunjung selesai, di tengah upaya menggapai cita-cita.
Sebagaiman riak ombak dan hantaman gelombang yang justru menjadikannya karang kokoh, tegap menghadapi lautan.
Demikian pula cinta yang sejati, takkan goyah oleh terpaan dan akan semakin kuat dalam genggaman waktu dan restu Tuhan.
Tentang Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny (1976-2026)
Buku ini memberi makna dari peristiwa menuju renungan kehidupan ini. Tidak hanya melulu berbicara tentang kisah pribadi, seseorang, tapi lebih dari itu juga memberikan makna inspirasi dan motivasi yang luas tentang:
1. Daya juang dalam bekerja selama 32 tahun untuk meningkatkan nilai diri sendiri dan nilai tempat bekerja, dalam skala ruang wilayah Nusantara dan 5 benua dunia.
2. Bagaimana mendidik generasi muda sebagai aset dengan melakukan investasi global untuk menjadikan asset yang bernilai global.
3. Implementasi rasa syukur dengan memberi makna bagi kehidupan orang lain, melalui kedermawanan menuntun lebih dari 700 generasi muda Indonesia, menimba ilmu global lintas negara menembus langit menggapai dunia.
Buku ini secara tersurat memiliki 356 halaman, namun secara tersirt memiliki ribuan halaman makna. Jika pembaca ingin memiliki buku inspiratif ini dapat menghubungi +6017-290-9680 (Subur).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


















