Tugumalang.id – Bahan Bakar Minyak atau BBM dicampur etanol tengah menjadi perbincangan masyarakat luas. Diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) berencana menerapkan produksi BBM E10 pada 2026 mendatang. Lalu apa dampaknya?
Guru Besar Fakuktas Teknik Universitas Brawijaya (UB), Prof I Nyoman Gede Wardana memastikan campuran etanol ke BBM aman untuk mesin kendaraan, namun ada dampaknya.
BBM E10 merupakan jenis bahan bakar alternatif dari campuran 10 persen etanol (alkohol yang dihasilkan bahan nabati seperti tebu, jagung atau singkong) dengan 90 persen gasolin (bensin). Saat ini, kandungan etanol pada BBM di Indonesia masih sebesar 5 persen (E5) pada BBM jenis Pertamax Green 95.
Baca Juga: Keluhan BBM Tercampur Air di SPBU Ciliwung Malang, Pertamina Angkat Suara
Diketahui, etanol sudah lazim menjadi campuran BBM di sejumlah negara, bahkan dengan kandungan yang lebih besar. Brazil dengan BBM E27 dan E30, Thailand E10 dengan opsi E20 dan E85, Amerika Serikat dengan E10 bahkan E15 dan E85. Lalu negara negara Uni Eropa seperti Jerman, Prancis hingga Swedia juga E10.
Prof Wardana mengungkapkan bahwa riset penggunaan etanol pada BBM sudah dilakukan di Universitas Brawijaya pada tahun 1980an silam melalui dukungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di bawah arahan BJ Habibie.
Saat itu, pihaknya telah meneliti kualitas BBM dengan campuran etanol 20-30 persen (E20-E30). Untuk itu, isu campuran etanol ke BBM bukan lah hal baru di negeri ini.
Baca Juga: Cek Kualitas BBM, Pertamina Malang Pastikan Stok 7.200 Kiloliter Jelang Lebaran
“Waktu itu, kita dapat dana besar dari Pak Habibie lewat BPPT untuk menguji etanol 20 persen dicampur ke bensin,” ungkapnya usai mengisi FGD bertajuk ‘Menakar Satu Tahun Kemandirian Energi’ di Kota Malang, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, riset tersebut saat itu didasari dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah, yakni singkong sebagai salah satu sumber penghasil etanol. Namun proyek BBM E20 itu tak berjalan di Indonesia lantaran kala itu harga BBM dari fosil di dalam negeri sangat murah.
“Sekarang kondisinya berbeda. Harga bahan bakar fosil jadi mahal dan kita sekaran impor. Idenya Pak Habibie waktu itu adalah mengganti bahan bakar jadi yang bersih, karena etanol itu bahan bakar yang bersih,” ucapnya.
Jauh sebelum ditemukannya minyak fosil, ia menjelaskan bahwa dahulu mesin diesel memang dirancang berbahan bakar dari sumber nabati. Namun setelah bahan bakar fosil ditemukan, mesin mesin diesel mulai dirancang untuk beralih ke bahan bakar fosil.
Belakangan, Prof Wardana belum lama ini juga telah melakukan penelitian soal kualitas BBM yang dicampur etanol. Ia melihat ada peningkatan kualitas BBM setelah dicampur etanol.
“Hasil penelitian saya yang sekarang dengan mahasiswa S2, penambahan etanol justru meningkatkan kualitas bahan bakar,” ujarnya.
Dia memastikan bahwa campuran etanol ke BBM dengan kadar yang tepat akan aman untuk mesin kendaraan. Bahkan 100 persen kadar etanol juga memungkinkan bagi mesin mesin kendaraan terkini.
“Campuran etanol ke BBM aman di mesin. Sebetulnya sampai E100 (100 persen etanol) itu oke,” ungkapnya.
Hanya saja, ia juga mengungkap dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari etanol atau bahan bakar nabati itu.
Nozel injektor yang bekerja penyemprotkan bahan bakar di ruang bakar mesin berpotensi mudah tersumbat. Sumbatan ini bisa mengakibatkan kinerja mesin melemah bahkan mati lantaran suplai BBM terhambat.
“Jadi yang menjadi masalah pada minyak nabati itu, dia punya getah. Namanya fosfolipid atau minyak yang ada fosfornya. Saat mesin berlistrik, dia mudah nempel,” bebernya.
“Nah yang dikhawatirkan nanti di nozelnya itu mampet, karena dia (fosfolipid) nempel,” sambungnya.
Namun menurutnya, sudah ada standar internasional yang telah ditetapkan dan bisa menjadi pedoman agar kandungan fosfolipid dalam etanol tidak mengganggu kinerja nozel injektor saat menyuplai bahan bakar ke dalam ruang bakar mesin.
Di sisi lain, ia memproyeksikan, jika pemerintah menerapkan kebijakan produksi BBM E10, maka bisa mengurangi 10 persen impor BBM nasional. Artinya, ketergantungan impor BBM Indonesia yang selama ini membelenggu akan berkurang.
“300 ribu barel per hari (BBM Indonesia) kan impor dari Singapura. Kalau Indonesia pakai misalnya sampai E20, itu impor dari Singapura akan stop itu,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























