Tugumalang.id – Kecerdasan buatan atau AI memang berkembang sangat pesat, namun dalam hal merancang bangunan, sentuhan serta kepekaan seorang arsitek tetap memiliki sisi personal yang tidak mudah digantikan.
Pesan inilah yang membakar semangat mahasiswa dalam gelaran Nata Karya 7.0 yang diadakan oleh Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Selasa, (23/06/2026).
Berpusat di Studio 4A Gedung Arsitektur sesi talkshow sukses menjadi magnet, tidak hanya bagi seluruh angkatan mahasiswa arsitektur, tetapi juga dikunjungi mahasiswa dari kampus lain.
Baca Juga: Konsep Kedai Kopi Sukun dan Sentuhan Harley Davidson Hidupkan Pameran Nata Karya 7.0 Arsitektur ITN Malang
Hadir sebagai narasumber, Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., alumnus Arsitektur S-1, ITN Malang angkatan 2013 yang kini menahkodai Monarc Design Studio (MDS Architects).

Di hadapan para juniornya, arsitek yang berbasis di Pasuruan ini membedah topik hangat yang sedang dihadapi dunia profesional saat ini, yakni bagaimana arsitek harus berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri.
“Kami banyak melakukan percobaan pakai AI untuk tata ruang atau mencari konsep fasad. Apalagi sekarang klien kami sering meminta satu tipe rumah dengan lima fasad berbeda, AI sangat membantu mempercepat proses generate itu. Tapi, ada hal yang tidak bisa digantikan oleh AI secanggih apapun, yaitu psikologi manusia dan rasa (feeling). Di dunia kerja nyata, analisis keilmuan dan kepekaan rasa kitalah yang memenangkan desainya,” ungkap Rani terbuka.
Baca Juga: ITN Malang Kantongi Lisensi Resmi Software Siemens, Modal Kuat Lulusan Terserap Dunia Kerja
Rani juga membagikan tips menghadapi tantangan klasik arsitek, yaitu ketika menghadapi klien yang menuntut proyek “murah, bagus, dan cepat,” atau bahkan mereka yang mempertanyakan mengapa tarif desain arsitek mahal padahal sekarang sudah ada AI.

“Kuncinya, arsitek harus percaya diri dengan apa yang akan disampaikan. Edukasi klien sejak awal. Kalau sudah punya sertifikasi, kita bisa pakai itu sebagai nilai tawar, kalau belum ya lewat kesepakatan-kesepakatan yang jelas,” tambahnya.
Membagikan perjalanan karirnya, Rani mengaku sudah mulai curi start dengan menjadi freelancer sejak kuliah semester 3 dan 4 demi mencari pengalaman. Mulai dari proyek kecil tak dibayar hingga menggarap rumah tinggal berukuran besar.
Lulus tahun 2017, ia sempat bekerja sebagai Fasilitator Teknik di Dinas PUPR Kabupaten Pasuruan (2018-2019), bergabung di PT Archimetric (2019-2020), hingga kini menjabat sebagai Senior Arsitek di PT Patraland Group sejak 2023.
Baca Juga: ITN Malang Kantongi Lisensi Resmi Software Siemens, Modal Kuat Lulusan Terserap Dunia Kerja
Sambil terus bekerja di perusahaan, setelah mendapatkan sertifikasi pada tahun 2021 ia mendirikan MDS bersama rekan sesama alumni ITN Malang.
“Awalnya Monarc Design Studio terdiri dari 4 anggota tim yang tersebar di Jawa Timur. Di usia produktif, memang paling berat menyamakan visi dan misi di tengah jalan, sampai akhirnya berbeda arah. Tapi kami tetap berhubungan baik, dan kemudian pada tahun 2023 resmi melakukan rebranding sebagai MDS Architects dengan personel baru 5 orang yang tersebar di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan,” ungkap Rani.
Saat ini timnya tengah menggarap proyek masif Master Plan Real Estate Mutiara Land Residence seluas 6,8 hektare. Hebatnya, rata-rata tim MDS masih melakoni double job dan kerap lembur di depan komputer hingga rapat malam hari demi membangun relasi dan memperluas jaringan.
Pesan Rani untuk mahasiswa saat ini sangat jelas dengan memanfaatkan teknologi, dan menjadikannya mitra berdampingan.
Mahasiswa arsitektur zaman sekarang dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking), rajin ikut sayembara, aktif di seminar, dan peka terhadap isu teknologi agar cepat beradaptasi saat masuk dunia kerja nanti.
“Perjalanan arsitek itu panjang, mahasiswa harus tahan banting dan punya semangat juang. Untuk branding sekarang sudah gampang, tinggal tunjukkan kemampuan lewat media sosial,” tegasnya.
Inspirasi ini ditangkap oleh peserta, salah satunya Casmira Carla Ina Prada, mahasiswi angkatan 2025 asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Carla sengaja merantau jauh ke Malang dengan misi besar, ingin membawa perubahan di daerah asalnya.
“Di Flores, profesi arsitek belum begitu dipercaya masyarakat, mereka lebih percaya tukang. Bahkan ada yang aslinya arsitek tapi akhirnya terpaksa mencari kerja ke Jawa atau Bali. Saya ingin mempelajari bagaimana caranya agar karya arsitek lokal bisa diterima di sana,” tutur Carla.
Carla lalu bercerita tentang awal mulanya terdampar di kampus ITN Malang. Ia menyukai dunia gambar sejak SMA karena impiannya bisa bekerja dari rumah, namun sempat kebingungan mencari kampus arsitektur.
“Waktu lagi scroll TikTok, saya tidak sengaja melihat live TikTok ITN Malang. Begitu tahu ada prodi Arsitektur, saya langsung putuskan kuliah di sini, padahal awalnya saya sama sekali tidak tahu Kota Malang itu ada di sebelah mana,” kenangnya sambil tertawa.
Masuk ke dunia perkuliahan sempat mematahkan ekspektasinya. Carla awalnya mengira gambar arsitektur harus sangat estetik dan penuh seni tingkat tinggi.
“Ternyata tidak begitu. Yang paling penting dari gambar arsitek adalah bagaimana orang lain bisa paham pesan dan maksud yang ingin kita sampaikan,” pungkasnya optimis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
Editor: Herlianto. A

















