Tugumalang.id – Taman Demo, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mendadak ramai pada Selasa, (23/06/2026). Bukan tanpa alasan, gelaran pameran tahunan Nata Karya 7.0 kembali menyapa dengan membawa berbagai karya mahasiswa arsitektur.
Menariknya, pameran bukan hanya ajang pamer kreativitas semata, melainkan panggung penilaian akhir semester bagi mata kuliah berbasis desain.
Selain pameran karya, Nata Karya juga menghadirkan Ar. Rani Yuni Wulandari, IAI., alumnus Arsitektur ITN Malang angkatan 2013, yang membagikan pengalamannya dalam sesi talkshow interaktif.
Baca Juga: Gandeng ITN Malang, Bappelitbangda Mahakam Ulu Matangkan Kajian Tata Wilayah dan Infrastruktur Daerah

Mengusung tema “TRACE: Every Line Tells a Story” (Setiap Garis Menyimpan sebuah Cerita), ajang ini sengaja dirancang untuk memacu semangat kompetitif mahasiswa. Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen pembimbimbing menjelaskan bahwa pameran kali ini berfokus pada karya dari angkatan 2024 dan 2025.
Meskipun jumlah produk di semester ini cenderung lebih sedikit dibanding semester genap, eksplorasi detail yang disuguhkan mahasiswa tidak kalah matang. Untuk angkatan 2024, menampilkan karya dari mata kuliah Perancangan Arsitektur 3 (PA3), baik individu maupun kelompok. Mulai dari berkas gambar teknis cetak, hingga poster presentasi.
Kerennya, menurut Amar, antar-mata kuliah di Arsitektur ITN Malang ini terbukti saling mendukung. Luaran dari PA3, misalnya, digarap bersama dengan mata kuliah Teknik Komunikasi dan Grafis sehingga menghasilkan poster produk yang sangat komunikatif.
Baca Juga: Gandeng ITN Malang, Bappelitbangda Mahakam Ulu Matangkan Kajian Tata Wilayah dan Infrastruktur Daerah
Sementara untuk angkatan 2025, fokusnya ada pada mata kuliah PA 1 serta Komunikasi dan Konstruksi Bangunan dengan produk akhir berupa maket dan kertas gambar.

“Harapan kami di semester ini, mahasiswa bisa mengeksplorasi desain mereka jauh lebih dalam lagi, meskipun karya yang ada sekarang sudah bagus-bagus. Tuntutan dunia arsitektur saat ini tidak hanya soal bangunan yang sekadar bagus, tapi harus estetis sekaligus fungsional,” ujar Amar.
Cerita menarik datang dari karya milik Muhammad Ahsan Mazza, Ahmad Ardiansyah, dan timnya yang berjumlah lima orang dari angkatan 2025. Lewat mata kuliah Komunikasi dan Konstruksi Bangunan, mereka sukses merekonstruksi struktur sebuah kedai kopi nyata yang berada di Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Mereka menerapkan sistem sambungan balok jepit dengan struktur sederhana yang menempatkan kuda-kuda di bagian samping dan atas. Pilihan ini diambil karena ukuran bangunan yang tergolong kompak (skala yang pas), hanya berluas 6×7 meter persegi, sehingga tidak membutuhkan bentang lebar. Prosesnya pun tidak main-main.
“Sebelum memilih konsep ini, kami melakukan survei langsung ke lokasi baru membuat desainnya. Setelah itu kami dokumentasikan, membuat laporan, membuat gambar kerja, dan maketnya. Semua kami kerjakan bersama-sama,” cerita mereka kompak. Untuk maketnya sendiri mereka buat dalam satu malam karena keterbatasan waktu.
Kedai kopi ini sengaja dipilih karena ukurannya pas, tidak terlalu besar maupun kekecilan, serta struktur konstruksi atasnya terlihat jelas, sehingga mereka bisa menyajikan detail konstruksi yang sangat lengkap.
Tidak kalah mencuri perhatian, Desta Alzahia, mahasiswa angkatan 2025, datang dengan ide segar berupa “Ojol Lounge” (ruang tunggu ojek online) menggunakan metode hybrid.
Dalam arsitektur, metode ini menggabungkan beberapa konsep sekaligus, seperti porosity (lubang-lubang), fraktal bertumpuk, dan folding (lengkung). Sesuai dengan pembagian objek dari dosen, Desta mengkombinasikan metode folding dan fraktal.
Menariknya, point of view (POV) utama dari desain Desta terletak pada bentuk lengkungan abstrak kontemporer yang sengaja dibuat kontras atau “melawan” bentuk aslinya yang kaku.
Inspirasi lekukan desain ini ternyata datang dari hal yang tidak terduga, yakni motor Harley Davidson. Bagi Desta, kegagahan dan karakter motor gede tersebut menjadi representasi kuat yang ingin ia tuangkan ke dalam bentuk bangunan modern kontemporer yang biasanya didominasi elemen garis tegak lurus dan bertumpuk.
Di dalam Ojol Lounge rancangannya, Desta memikirkan betul kebutuhan para driver. Area tersebut dilengkapi dengan ruang tunggu utama saat driver menanti orderan, area indoor untuk berhenti sejenak tanpa tempat duduk, zona transisi antara ruang luar dan dalam, serta dilengkapi dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) agar suasana tetap asri dan nyaman.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
Editor: Herlianto. A


















