Oleh: Rohim Warisi
Tugumalang.id – Beberapa minggu terakhir ada sesuatu yang aneh pada Anjali. Awalnya saya tidak terlalu memikirkannya.
Sebab orang yang mengurus pesantren memang kadang terlihat aneh-aneh. Hari ini tampak baik-baik saja, besok tiba-tiba uring-uringan hanya karena ada santri yang pakaiannya jatuh dari jemuran, lalu dibiarkan, kotor, dan akhirnya tidak bisa dipakai lagi.
Atau karena ada santri yang menghilang saat kerja bakti, lalu muncul tepat ketika semuanya sudah selesai, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Atau sandal yang hilang lalu ditemukan di tempat yang tidak masuk akal, seakan-akan barang itu memang punya urusan sendiri di luar aturan manusia.
Pokoknya, semakin lama seseorang mengurus pesantren, semakin aneh alasan-alasan yang bisa membuatnya marah.
Hal-hal seperti itu tidak pernah benar-benar dianggap kejadian di pesantren. Hanya lewat, lalu hilang begitu saja tanpa perlu dibahas lagi.
Jadi ketika melihat Anjali lebih sering diam, saya mengira itu hanya salah satu bentuk keanehan yang biasa.
Namun ternyata tidak sesederhana itu.
Perubahan itu berlangsung cukup lama, sampai saya mulai tidak bisa lagi menyebutnya sekadar kebiasaan yang berubah. Bahkan saya mulai bisa menebak kapan Anjali sedang banyak pikiran dan kapan tidak, hanya dari cara ia tidak benar-benar hadir di tempat yang sama seperti biasanya.
Biasanya ia tetap menyapa santri yang berpapasan, tetap menegur santri yang ribut, tetap memarahi santri yang ketahuan membawa ponsel. Tapi beberapa minggu terakhir berbeda. Ia lebih sering melamun, lebih sering terlihat duduk sendirian, lebih sering seperti sedang tidak berada di tempat yang sama dengan orang lain meski tubuhnya masih di sana.
Dan yang paling aneh, ia mulai sering datang ke perpustakaan. Bukan untuk membaca. Bukan pula untuk meminjam kitab. Ia hanya datang sebentar, lalu pergi.
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan. Sebab perpustakaan bukan tempat yang terlalu menarik untuk diamati. Kalau ada santri yang berlari ke sana, biasanya hanya dua kemungkinan. Kemungkinan pertama memang ingin belajar. Kemungkinan kedua sedang dikejar pengurus.
Dan di pesantren, kemungkinan kedua jauh lebih sering terjadi.
Namun Anjali tidak sedang belajar. Dan jelas tidak sedang dikejar siapa pun. Ia hanya datang. Masuk beberapa menit. Lalu keluar lagi. Begitu terus. Berulang-ulang. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di sana.
Tentu saja saya penasaran. Kalau ada penyakit yang lebih sulit disembuhkan daripada masuk angin, mungkin itu adalah rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain. Dan saya sudah lama mengidapnya.
Suatu siang saya memberanikan diri bertanya. “Nyari apa?”
Anjali menoleh. “Tidak nyari apa-apa.” Saya mengangguk.
Jawaban yang terdengar masuk akal. Sama masuk akalnya dengan orang yang berkata “saya baik-baik saja” sambil menangis. Atau “saya tidak marah” sambil membanting pintu. Hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi, karena semua orang sudah cukup pandai membaca kebohongan kecil masing-masing.
Namun sejak hari itu saya mulai memperhatikan perpustakaan. Bukan karena saya tiba-tiba menjadi rajin, atau merasa ada yang perlu dicari. Hanya saja beberapa hal memang sulit untuk tidak diperhatikan ketika sudah pernah terlihat. Dan beberapa hari kemudian, saya menemukan penyebab semuanya. Atau setidaknya, saya mengira telah menemukannya.
Penyebab yang saya maksud ternyata hanya selembar kertas. Saya menemukannya beberapa hari kemudian. Bukan sengaja sebenarnya. Meski kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin memang sengaja. Sebab rasa penasaran sering membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun.
Siang itu perpustakaan sedang sepi. Penjaganya tidak ada. Entah sedang makan, tidur, atau sedang melakukan kegiatan lain yang lebih menarik daripada menjaga perpustakaan. Saya mengambil sebuah kitab dari rak dekat jendela.
Rak yang belakangan sering didatangi Anjali. Ketika membuka kitab itu, selembar kertas kecil jatuh ke lantai. Kertas biasa. Sudah agak kusam. Terlipat beberapa kali. Awalnya saya mengira itu daftar piket. Atau catatan pelajaran. Atau surat hutang santri yang tidak pernah dibayar.
Namun ternyata bukan.
Di sana hanya ada beberapa baris tulisan tangan. Pendek sekali.
Saya tidak akan menuliskan isi kertas itu di sini.
Pertama, karena saya sudah lupa kalimatnya secara persis.
Kedua, karena setelah dipikir-pikir, tulisan itu sebenarnya tidak istimewa.
Kalau saya unggah ke media sosial hari ini, kemungkinan besar hanya akan mendapat dua tanda suka. Itu pun dari akun yang salah pencet.
Tetapi anehnya, setelah menemukan kertas itu, saya langsung teringat pada masa SMA. Tepatnya pada sebuah acara kelulusan. SMA kami berada di dalam lingkungan pesantren. Jadi suasana kelulusan tidak jauh berbeda dengan acara-acara pesantren lainnya.
Ada sambutan. Ada doa. Ada santri yang menangis. Ada santri yang pura-pura menangis karena teman-temannya menangis. Dan ada beberapa orang yang sejak awal hanya menunggu kapan acara selesai agar bisa makan.
Saya termasuk golongan yang terakhir.
Pada acara itulah saya pertama kali menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah lama berada di depan mata. Tentang Anjali. Dan tentang seorang laki-laki.
Laki-laki itu tidak terlalu menonjol dalam urusan pelajaran. Tapi ia punya satu hal yang agak merepotkan.
Kalau ada acara pesantren, orang pertama yang dicari biasanya dia. Speaker mati, dia. Mikrofon mendengung, dia. Hadrah hilang, dia. Listrik padam pun, kadang tetap dia yang dicari, seolah semua masalah selalu punya nama yang sama.
Selain itu ia juga menjadi vokalis hadrah.
Dan saya tidak tahu sejak kapan suara laki-laki bisa membuat sebagian orang tiba-tiba rajin menghadiri latihan hadrah.
Yang jelas, beberapa santri putri mulai sering memiliki alasan untuk berada di sekitar aula. Tentu saja saya tidak menuduh siapa-siapa.
Termasuk Anjali.
Meski kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin saya memang sedang menuduhnya.
Namun waktu itu saya belum benar-benar yakin. Saya baru mulai curiga pada acara kelulusan tersebut. Sebab di antara banyaknya santri yang hadir hari itu, saya melihat seseorang yang terlalu sering memandang ke arah panggung.
Dan orang itu tentu bukan saya. Namanya Anjali.
Saya tidak tahu sejak kapan tepatnya semuanya bermula. Dan sejujurnya, saya juga tidak terlalu percaya pada cerita cinta yang bisa menunjuk tanggal kejadian secara pasti. Jarang sekali ada orang yang bisa berkata, “Saya mulai jatuh cinta pada hari Selasa pukul 09.17 pagi.” Perasaan biasanya datang lebih licik dari itu.
Awalnya hanya kebetulan. Lalu menjadi kebiasaan. Kemudian berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Begitulah kira-kira yang saya lihat pada Anjali. Atau setidaknya begitulah yang saya kira.
Sebab sekali lagi, saya tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kepalanya.
Saya hanya kebetulan berada di sekitar mereka pada masa itu. Setelah acara kelulusan, kami masih beberapa kali berkumpul untuk berbagai urusan sekolah. Persiapan wisuda. Pengembalian buku. Foto angkatan. Dan berbagai kegiatan yang biasanya lebih banyak dipakai untuk memperpanjang perpisahan daripada menyelesaikan urusan.
Di masa-masa itulah saya mulai sering melihat mereka berada dalam ruang yang sama. Bukan berdua. Pesantren bukan tempat yang ramah untuk hal-hal yang terlalu jelas seperti itu. Selalu ada orang lain di sekitar, selalu ada keramaian kecil yang membuat semua terlihat biasa saja. Kadang di aula, kadang di perpustakaan, kadang di lapangan ketika sekolah sedang menyiapkan acara. Dan di antara semua itu, mereka tetap ada di tempat yang sama, seolah memang kebetulan, padahal kalau diperhatikan terlalu sering untuk disebut kebetulan. Entah kenapa, setiap ada acara, laki-laki itu selalu tampak sedang memegang kabel. Saya bahkan pernah curiga kalau sebenarnya ia tidak menyukai sound system. Ia hanya tidak tahu cara melepaskan diri darinya.
Yang paling saya ingat adalah suatu sore menjelang magrib. Beberapa siswa sedang membantu membereskan aula setelah sebuah acara sekolah. Kursi-kursi dilipat. Spanduk diturunkan. Kabel digulung. Pekerjaan yang kelihatannya sederhana, sampai benar-benar dikerjakan.
Laki-laki itu sedang duduk di atas panggung. Memperbaiki sebuah mikrofon yang sejak siang bermasalah. Sementara beberapa orang lain sibuk membereskan peralatan. Termasuk Anjali. Saya tidak ingat percakapan mereka.
Mungkin karena memang tidak ada percakapan yang penting. Namun saya masih ingat satu hal.
Ketika seseorang meminta bantuan mengangkat speaker, laki-laki itu turun dari panggung. Dan tanpa sadar meninggalkan buku catatannya. Anjali yang melihatnya mengambil buku itu. Hanya sebentar. Mungkin tidak sampai sepuluh detik. Lalu mengembalikannya ketika pemiliknya kembali. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang romantis. Tidak ada musik yang tiba-tiba berbunyi dari langit. Namun saya masih mengingat kejadian itu sampai sekarang.
Aneh memang.
Dari sekian banyak peristiwa dalam hidup, otak manusia kadang memilih menyimpan hal-hal yang tidak penting. Belakangan saya mulai curiga. Bukan karena mereka sering berbicara.
Justru karena mereka jarang berbicara. Bukan karena mereka terlihat dekat. Justru karena mereka terlalu berhati-hati untuk terlihat dekat.
Ada jenis perasaan yang bisa disembunyikan dari orang lain.
Tetapi sulit disembunyikan dari orang yang mengalami hal yang sama.
Dan saya mulai melihat tanda-tandanya. Cara seseorang mencari wajah tertentu di tengah kerumunan. Cara seseorang tiba-tiba memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah menarik. Cara seseorang mengingat detail-detail kecil yang seharusnya sudah dilupakan. Saya melihat semua itu pada Anjali.
Dan, kalau saya tidak salah, pada laki-laki itu juga. Meski tentu saja saya bisa keliru. Saya memang sering keliru. Bahkan sampai hari ini.
Setelah lulus SMA, hidup berjalan sebagaimana mestinya. Atau setidaknya begitulah yang terlihat dari luar. Sebagian teman menikah. Sebagian kuliah. Sebagian bekerja. Sebagian lagi menghilang tanpa kabar, lalu muncul kembali ketika ada acara haul atau reuni. Dan ada juga yang menghilang tanpa kabar, kali ini untuk selamanya.
Saya dan Anjali termasuk yang tetap tinggal cukup lama di lingkungan pesantren. Kami kuliah sambil mengabdi. Keputusan yang dari luar terdengar sederhana, sampai dijalani sendiri. Mungkin karena orang tua. Mungkin karena guru. Mungkin karena tidak ada pilihan yang benar-benar kami yakini saat itu. Tapi waktu berjalan, dan tanpa sadar kami belajar menerima—bahwa tidak semua hal harus dipahami dulu untuk tetap dijalani dengan tenang.
Lama-lama, kami juga mulai terbiasa dengan ritme di dalamnya.
Sebab mengurus santri ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi santri. Ketika masih menjadi santri, masalah terbesar biasanya hanya seputar hafalan, tugas sekolah, atau uang saku yang habis sebelum waktunya.
Ketika menjadi pengurus, masalah datang dalam bentuk yang lebih kreatif. Ada santri yang kabur. Ada yang berkelahi. Ada yang menangis ingin pulang. Dan ada yang menangis karena temannya pulang sementara dirinya tidak. Pokoknya selalu ada saja.
Dan entah bagaimana, tahun demi tahun berlalu begitu saja.
Tentang laki-laki itu, saya jarang mendengar kabarnya lagi. Sesekali namanya muncul di grup alumni. Biasanya ketika ada yang mengunggah foto aktivitas setelah boyong, entah sedang mengajar, bekerja, atau sekadar duduk di warung sambil bercanda dengan teman lama. Atau ketika seseorang mengabarkan pekerjaan barunya. Atau sekadar ucapan hari raya yang dikirim, lalu dibalas stiker oleh banyak orang tanpa benar-benar dibaca satu per satu. Tidak
lebih dari itu. Setidaknya begitu yang saya tangkap. Mungkin memang saya sengaja tidak terlalu memperhatikan. Ada beberapa hal yang lebih nyaman dibiarkan lewat begitu saja.
Lalu Anjali.
Ah, dia masih seperti Anjali yang dulu saya kenal. Ia menyelesaikan kuliahnya. Tetap mengabdi. Tetap sibuk. Tetap menjadi orang yang sama seperti yang saya kenal dulu. Atau mungkin tidak. Saya tidak yakin. Manusia memang pandai berpura-pura baik-baik saja. Bahkan kepada dirinya sendiri.
Kadang saya melihatnya duduk sendirian di perpustakaan setelah Ashar. Kadang di teras asrama putri setelah Magrib. Kadang di bawah pohon mangga dekat lapangan sekolah. Tempat-tempat yang sebenarnya tidak istimewa. Tetapi sering dipilih orang ketika sedang memikirkan sesuatu. Atau mungkin memikirkan seseorang, entahlah. Namun saya tidak pernah bertanya. Bukan karena menjaga perasaan. Bukan karena ingin tahu. Saya hanya takut mendapat jawaban.
Beberapa tahun kemudian, saya mulai melupakan banyak hal tentang masa SMA. Saya lupa siapa ketua kelas kami di tahun pertama. Saya lupa siapa yang mendapat nilai tertinggi saat kelulusan—mungkin karena saya memang tidak termasuk di dalamnya. Saya bahkan lupa sebagian wajah teman-teman sendiri. Aneh memang. Tetapi begitulah cara kerja ingatan. Ia membuang hal-hal penting. Lalu menyimpan hal-hal yang tidak berguna.
Misalnya suara seseorang ketika menyanyikan shalawat. Atau cara seseorang menggulung kabel setelah acara sekolah selesai. Atau kebiasaan seseorang memeriksa mikrofon sebelum acara dimulai. Hal-hal yang sebenarnya tidak pernah saya anggap perlu. Tetapi justru itu yang tertinggal. Seperti ingatan yang sengaja menolak dilupakan.
Lalu pada suatu malam, foto undangan itu dikirim ke grup alumni. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya melihat Anjali seperti kehilangan sesuatu. Meski saya tidak benar-benar tahu apa.
Saya tidak tahu kapan tepatnya foto undangan itu dikirim ke grup alumni. Mungkin malam. Mungkin sore. Grup alumni memang tempat yang aneh. Kadang berhari-hari tidak ada percakapan. Lalu tiba-tiba ramai hanya karena seseorang mengirim foto lama yang buram. Atau karena ada yang menikah. Dan malam itu, penyebab keramaiannya adalah yang kedua. Puluhan ucapan selamat berdatangan. Doa-doa. Candaan-candaan. Stiker-stiker yang entah kenapa selalu tampak lebih bahagia daripada orang yang mengirimnya.
Saya membaca semuanya sampai selesai. Satu per satu. Seperti memastikan tidak ada yang tertinggal. Lalu tidak membalas apa pun. Bukan karena tidak tahu harus menulis apa. Saya hanya merasa tidak sedang berada di tempat yang sama dengan mereka.
Saya menutup grup, lalu membiarkannya kembali sunyi. Beberapa menit kemudian, saya membukanya lagi.
Beberapa hari setelah itu saya kembali bertemu Anjali. Di perpustakaan. Tentu saja di perpustakaan. Tempat yang beberapa minggu terakhir lebih sering ia kunjungi daripada sebelumnya. Ia sedang duduk di dekat jendela. Tidak membaca. Tidak menulis. Hanya duduk. Seolah tidak sedang menunggu apa pun, tapi juga tidak sedang berada di mana pun.
Saya pernah membaca bahwa ada orang-orang yang datang ke perpustakaan karena mencintai buku. Saya juga pernah mengenal orang-orang yang datang ke perpustakaan karena mencintai seseorang yang kebetulan berada di dekat buku. Dan saya tidak tahu Anjali termasuk yang mana. Atau mungkin saya tahu. Hanya tidak ingin mengakuinya. Selebihnya, saya hanya duduk di tempat yang sama seperti orang-orang lainnya yang tidak benar-benar punya alasan untuk berada di sana, selain karena sudah terlanjur datang.
Saya duduk tidak jauh dari Anjali. Tidak terlalu dekat untuk dianggap sengaja, tidak terlalu jauh untuk dianggap kebetulan. Beberapa saat kami hanya berada di ruang yang sama tanpa saling melakukan apa pun.
“Sudah lihat?” tanya saya. Anjali menoleh.
“Lihat apa?”
Saya hampir tertawa. Sebab manusia memang lucu. Ketika ada satu hal yang paling memenuhi pikirannya, justru hal itulah yang pura-pura tidak ia pahami.
“Undangan.” “Oh.”
Hanya itu. “Oh.” Pendek. Ringan. Seolah tidak berarti apa-apa. Padahal saya mengenal cukup banyak orang untuk tahu bahwa jawaban paling pendek sering kali menyimpan cerita paling panjang.
Kami tidak membicarakan hal itu lagi. Tidak malam itu. Tidak juga hari-hari setelahnya. Hidup tetap berjalan. Santri tetap ribut. Bel tetap berbunyi. Kitab tetap harus diajarkan. Dan waktu tetap bergerak tanpa peduli siapa yang sedang berusaha melupakan siapa.
Beberapa minggu kemudian saya melihat Anjali semakin jarang datang ke perpustakaan. Rak kitab dekat jendela kembali menjadi rak biasa. Tidak ada lagi seseorang yang datang hanya untuk berdiri beberapa menit lalu pergi. Tidak ada lagi. Seperti sesuatu yang perlahan berhenti tanpa pernah benar-benar diumumkan. Dan entah kenapa, saya merasa lega. Mungkin karena akhirnya ia berhasil berdamai. Atau mungkin karena saya hanya ingin mempercayai hal itu, agar tidak ada yang perlu saya tanyakan lagi kepada diri sendiri.
Malam itu saya kembali membuka foto undangan pernikahan Imam di grup alumni. Nama Imam masih tertulis di sana, di antara ucapan-ucapan selamat yang sudah mulai tidak saya baca satu per satu. Saya tahu seharusnya cukup sekali melihatnya, lalu membiarkannya selesai. Tapi saya selalu kembali ke bagian yang sama, seperti memastikan sesuatu masih benar-benar terjadi.
Saya membayangkan Anjali mungkin sudah berhenti menoleh pada hal-hal yang tidak lagi bisa diubah. Atau setidaknya sedang sampai di titik itu. Ada bagian dari diri saya yang merasa lega membayangkannya begitu. Tapi ada juga bagian lain yang tidak suka mengakui alasan di balik rasa lega itu.
Saya menatap layar itu cukup lama, sampai semua pesan di dalamnya terasa sama saja. Lalu saya menutupnya.
*Penulis Adalah Pengurus Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin Sukosari

Editor: Herlianto. A


















