Oleh: Mastur Sonsaka
SELAMA dua abad, kita sepakat bahwa manusia adalah homo sapiens. Sebagai makhluk yang dilempar ke dunia atau merujuk pada istilah Heidegger Geworfenheit yang keberadaannya mendahului esensinya yang mencari kebenaran lewat permenungan.
Kemudian mengukur nilainya lewat keotentikan, dasein, cogito ergo sum, authenticity, bahasa itu telah retak.
Pada tahun 2010-2013 lahir sebuah generasi yang tidak pernah mengenal dunia tanpa algoritma. Ini bukan soal mereka lebih mahir main HP atau smartphone. Milenial masih ingat dunia tanpa internet, mereka adalah imigran digital. Sementara Gen Z masih ingat dunia sebelum TikTok, mereka adalah generasi transisi.
Sedangkan Gen Alpha tidak, mereka tidak punya nostalgia analog. Tidak punya trauma migrasi digital, mereka tidak bermigrasi ke dunia digital, mereka dilahirkan di dalamnya.
Baca juga: Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU
Karena itu, kita membuat kesalahan fatal ketika menilai mereka dengan kamus lama, menyebut mereka kecanduan, rusak, kurang fokus, dan harus diperbaiki agar kembali menjadi manusia abad ke-19.
Penulis mengajukan tesis yang berbeda, bahwa mereka bukan homo sapiens yang rusak. Mereka adalah spesies eksistensial yang baru.
Generasi Tanpa Masa Transisi
Kita sebut mereka homo algorithmicus dan prototype paling murni adalah Gen Alpha. Bukan patologi, melainkan bentuk mengada yang baru, seperti amfibi pertama yang keluar dari air, bukan ikan yang gagal.
Mengapa Gen Alpha adalah prototype? karena ia lahir tanpa masa transisi. Habitatnya sudah ganda sejak lahir, fisik dan data. Ia tidak bingung, ia memang begitu, kita yang bingung melihatnya.
Jika dikaji lebih dalam, ada tiga level yang modus mengadanya berbeda secara radikal. Pertama, level ontologis dari dasein menjadi datasein. Filsafat klasik menyebut manusia sebagai dasein, ada di dunia.
Bahwa dunia adalah tempat menjejak home algorithmicus adalah datasein, yakni ada di data dan di dunia, keberadaannya hibrida.
Inilah mengapa kita salah paham ketika koneksinya terputus lalu ia panik. Kita mengira mereka manja. Padahal separuh dunianya runtuh. Seperti amfibi yang menggelepar di luar air, bukan karena mania, tapi karena ia butuh dua habitat. Mematikan WiFi bagi Datasein bukan mematikan hiburan, tapi menghapus satu dimensi keberadaannya.
Baca juga: Generasi Baby Boomers, X, Y, Z dan Alpha, Kenapa Harus Dipisahkan? Begini Ulasannya
Kedua adalah level epistemologi, dari cogito menjadi vireo. Homo sapiens berkata cogito ergo sum yakni kebenaran dicari lewat berpikir lambat, lewat buku dan guru. Homo Algorithmicus berkata, vireo ergo sum yakni saya terlihat maka saya ada.
Ia tidak mencari kebenaran melainkan kebenaran disodorkan kepadanya melalui kurasi algoritmik. Gen Alpha bukan malas berpikir, mereka berpikir melalui feed. Otoritas pengetahuannya bukan lagi institusi melainkan algoritma yang mengenalnya lebih intim daripada dirinya sendiri.
Ini bukan kemalasan intelektual. Ini adalah perubahan cara kerja pengetahuan. Jika cogito bertanya apa yang benar?, vireo bertanya apa yang relevan bagi sekarang?.
Ketiga, level aksiologis dari authenticity menjadi performativity bahwa homo sapiens mengukur nilai melalui keotentikan yang privat, lambat, dan abadi, serta menjadi diri sendiri.
Homo algorithmicus mengukur nilai melalui performativitas yang relevan dan teroptimasi. Makna baginya bukan sesuatu yang tebal dan abadi, melainkan sesuatu yang cepat, intens, disposable, dan butuh saksi.
Maka kegagalan terbesarnya bukan bad faith, menjadi titik otentik. Melainkan Oblitus yaitu dilupakan oleh sistem, tidak relevan, tidak terdata.
Kecemasannya pun bukan kecemasan klasik, takut mati, takut bebas. Kecemasan spesies baru ini adalah cemas jika tidak terdata, tidak divalidasi, dan tidak relevan. Untuk memahami kecemasan ini, masyarakat tidak bisa menggunakan kamus abad 19. Seperti tidak bisa menghakimi amfibi dengan ilmu tentang ikan, sebab kita membutuhkan ontologi baru.
Apa Itu Eksistensialisme Algoritmik?
Eksistensialisme algoritmik adalah ontologi itu. Ia bukan cabang dari eksistensialisme klasik, bukan kritik moral terhadap teknologi.
Ia adalah upaya pertama untuk memberi bahasa bagi homo algorithmicus agar ia dapat memahami dirinya sendiri. Bukan sebagai homo sapiens yang gagal, melainkan sebagai manusia baru yang tetap manusia.
Tugas filsafat hari ini bukan menarik Gen Alpha kembali ke gua analog, bukan pula membiarkan mereka tenggelam pasrah menjadi data.
Tugas filsafat hari ini adalah mengajarkan cara dwelling ganda, cara menjadi amfibi yang sehat, yang tahu kapan harus berada di air dan kapan harus naik ke darat, yang mampu hidup di dalam feed tanpa kehilangan kemampuan untuk pulang.
Algoritma dapat memprediksi apa yang akan kamu klik berikutnya. Tetapi algoritma tidak akan pernah dapat memprediksi mengapa pada suatu sore, tiba-tiba ingin mematikan semua layar dan menatap langit tanpa alasan.
Di celah yang tidak terprediksi itu, di jeda antara vireo dan cogito, antara datasein dan dasein, di situlah masih menjadi manusia.
Manusia baru yang tetap manusia homo algorithmicus dan Gen Alpha sebagai prototype-nya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang yang sekarang berkhidmat di KPU Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.
































