Jumat, Oktober 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Pahlawan Nasional Mohammad Tabrani, Wartawan Asal Madura yang Gagas Bahasa Indonesia jadi Bahasa Nasional

Redaksi by Redaksi
November 10, 2023 1:09 pm
in News
Mohammad Tabrani Soerjowitjirto ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 2023.

Mohammad Tabrani Soerjowitjirto ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 2023. (Foto/MUSEUM SUMPAH PEMUDA)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Sosok Mohammad Tabrani sangatlah penting dalam sejarah gerakan pemuda di era kemerdekaan. Atas jasanya, tokoh Jong Java asal asal Madura Jawa Timur ini menjadi salah satu nama yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada momen peringatan Hari Pahlawan Nasional 2023.

Nama Tabrani ditetapkan bersamaan dengan nama pahlawan lainnya, yakni Ida Dewa Agung Jambe (Bali), Bantaha Santiago (Sulawesi Utara), Ratu Kalinyamat (Jawa Tengah), K.H. Abdul Chalim (Jawa Barat) dan K.H Ahmad Hanafiah (Lampung).

READ ALSO

Polres Batu Dipimpin AKBP Panji Gedhe Prabawa Eks Satgas Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah

BAKN RI dan OJK Dorong Pantai CMC Tiga Warna Jadi Pionir Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas

Lantas, seperti apa sosok dan profil dari Mohammad Tabrani? Berikut ini kisah perjalanan hidup, perjuangan dan kontribusinya bagi bangsa Indonesia.

Baca Juga: Abdul Manan Wijaya, Pahlawan Nasional Asli Malang yang Ahli Strategi Perang

Riwayat Hidup Mohammad Tabrani

Nama lengkapnya adalah Mohammad Tabrani Soerjowitjirto yang kemudian disingkat menjadi M. Tabrani S. Pria kelahiran Pamekasa, 10 Oktober 1904, ini adalah seorang politikus muda sekaligus jurnalis yang memberi pengaruh besar pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Lahir dari pasangan R Pandji Soeradi Soerowitjitro dan R Ayu Siti Aminah, Tabrani kecil menghabiskan masa kecilnya dengan bersekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya karena pada masa itu, di Madura belum terdapat MULO.

Dikemudian hari, Tabrani pulang kampung dan mendirikan Neutrale MULO sehingga anak-anak Madura tak perlu jauh-jauh ke Surabaya usai lulus dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

M. Tabrani (Duduk nomor 3 dari Kiri) sebagai ketua Kongres Pemuda 1 pada tahun 1926.
M. Tabrani (Duduk nomor 3 dari Kiri) sebagai ketua Kongres Pemuda 1 pada tahun 1926. (Foto/Dok. Museum Sumpah Pemuda)

MULO merupakan sebutan bagi pendidikan dasar atau sekolah menengah pertama yang masuk dalam program pendidikan dasar 9 tahun. Usai bersekolah di Surabaya, Tabrani melanjutkan pendidikan ke Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren atau OSVIA yang ada Bandung.

OSVIA merupakan sekolah khusus bagi pribumi yang nantinya diproyeksikan menjadi pegawai negeri sipil. Sekolah untuk calon pegawai bumiputra ini dikemudian hari kita kenal dengan nama Institut Pemerintahan Dalam Negeri atau IPDN.

Baca Juga: KH Masjkur, Pahlawan Nasional Asal Malang yang Sempat Jadi Menteri di Era Kemerdekaan

Jejak Karir Tabrani Sebagai Jurnalis

Mengutip catatan Soebagijo I.N (1981) dalam karyanya berjudul “Jagat Wartawan Indonesia”, minat jurnalistik Tabrani mulai muncul usai ia menamatkan sekolahnya di OSVIA pada 1925. Kala itu, ia sudah memimpin Harian Baroe.

Setelahnya, saat ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Köln di Eropa, Tabrani masih berkontribusi dan membantu surat kabar Indonesia selama periode 1926 hingga 1930. Di Eropa, Tabrani menempuh pendidikan Ilmu Jurnalistik yang kala itu tak terlalu populer dan hanya ada beberapa orang, seperti Djamaluddin Adinegoro dan Jusuf Jahja

Sosok Mohammad Tabrani memang lekat dengan dunia jurnalistik. Usai menamatkan pendidikan dan kembali ke tanah air, karir Tabrani sebagai jurnalis dan redaksi media terus menanjak. Ia pun dipercaya menjadi pimpinan majalah Reveu Politik Jakarta pada 1930 hingga 1932.

Setelahnya, pada 1932 hingga 1933, Tabrani memimpin media Sekolah Kita yang ada di Pamekasan. Lalu ia juga memimpin redaksi di Harian Pemandangan dan Mingguan Pembangoenan.

Kala itu, melalui harian Pemandangan, Tabrani memperjuangkan dan menyuarakan Petisi Sutardjo. Yang mana berisi tuntutan pada Hindia Belanda untuk memberi kesempatan rakyat Indonesia membentuk parlemennya sendiri pada 1936.

Tabrani menjadi pemimpin majalah Reveu Politik di Jakarta dari tahun 1930 hingga 1932, pemimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan dari tahun 1932-1936, dan menjadi direktur sekaligus pemimpin Harian Pemandangan dan Mingguan Pembangoenan.

Di Harian Pemandangan, Tabrani pun menjabat sebagai pemimpin redaksi selama dua periode. Mulai Juli 1936 hingga Oktober 1940 dan Juli 1951 hingga April 1952. Ia pun sempat bergabung dengan bagian jurnalistik Dinas Penerangan Pemerintah. Kiprahnya membuat Tabrani juga dipercaya sebagai ketua umum Persatuan Djurnalis Indonesia atau PERDI pada 1939 hingga 1940.

Beda Pendapat dengan Moh Yamin, Tabrani Usulkan Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Nasional

Jejak perjuangan dan sosok Mohammad Tabrani tak hanya dikenal sebagai jurnalis. Namun juga berdiri di barisan organisasi kepemudaan. Terbukti dengan dipercayanya Tabrani menjadi Ketua Kongres Pemuda 1 yang berlangsung di Loge Ster in Het Oosten atau Lojo Bintang Timur Batavia pada 30 April hingga 2 Mei 1926.

Salah satu momen paling terkenal adalah saat Tabrani berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin pada kongres pemuda pertama tersebut. Dalam laman Kemdikbud, disebutkan bahwa Mohammad Yamin sempat naik pitam karena Tabrani menolak butir ketiga pidato Yamin yang berisi “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu”.

Alasannya, karena bahasa Melayu lebih merujuk pada salah satu suku bangsa di Nusantara. Ia mencontohkan bahasa Melayu Riau atau bahasa Mardiken yang juga digunakan oleh kolonial Portugis dan Belanda. Menurut Tabrani, harusnya bahasa persatuan adalah bahasa nasional yang dapat digunakan dan dituturkan oleh masyarakat dari Aceh hingga Papua.

Sebagai ketua kongres, Tabrani berpendapat bahwa bahasa persatuan harusnya menggunakan Bahasa Indonesia, bukan Melayu. Perbedaan pendapat ini bahkan membuat pengambilan keputusan ditunda hingga tanggal 28 Oktober 1928 yang kemudian dikenal sebagai ikrar sumpah pemuda. Dimana akhirnya Bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa persatuan.

Tabrani pun wafat pada 12 Januari 1984 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Atasa jasanya, ia dianugerahi tanda jasa perintis kemerdekaan. Hingga pada Jumat, 10 November 2023 ia mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional. Demikianlah sosok Mohammad Tabrani patut menjadi teladan bagi generasi muda.

Penulis: Imam A. Hanifah

Editor: Herlianto. A

Tags: Hari Pahlawan NasionalJurnalis Jadi PahlawanMohammad TabraniPahlawan

Related Posts

AKBP Panji Gedhe Prawaba pimpinan baru Polres Batu saat disambut tradisi pedang pora. Foto: Dok.
News

Polres Batu Dipimpin AKBP Panji Gedhe Prabawa Eks Satgas Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah

Jumat, 16 Okt 2026
Ketua BAKN RI Andreas Eddy Susetyo (kiri) dan Kepala Eksekutif OJK Hasan Fawzi saat meninjau potensi karbon mangrove di Pantai CMC Tiga Warna. Foto: Azmy
News

BAKN RI dan OJK Dorong Pantai CMC Tiga Warna Jadi Pionir Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas

Kamis, 15 Okt 2026
Tingkat Pengangguran Terbuka di Kota Batu Melonjak, Didominasi Lulusan SMA
News

Tingkat Pengangguran Terbuka di Kota Batu Melonjak, Didominasi Lulusan SMA

Kamis, 15 Okt 2026
DPRD Kota Malang Dorong Regulasi Penataan Kabel Semrawut
News

DPRD Kota Malang Dorong Regulasi Penataan Kabel Semrawut

Senin, 12 Okt 2026
DPRD Kabupaten Malang Temukan Masalah Penyerahan PSU Perumahan di Pakis
News

DPRD Kabupaten Malang Temukan Masalah Penyerahan PSU Perumahan di Pakis

Senin, 12 Okt 2026
KH Marzuqi Mustamar Mengaku Batal Umrah karena Tak Diizinkan Masuk Arab Saudi
News

KH Marzuqi Mustamar Mengaku Batal Umrah karena Tak Diizinkan Masuk Arab Saudi

Minggu, 11 Okt 2026
Next Post
Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memberikan penghargaan pada orang-orang yang berjasa.

Peringati Hari Pahlawan, Wahyu Hidayat Deklarasikan Ekraf Sebagai Simbol "Local Heroes"

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.