Minggu, Juni 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Internasional

Rencana Meredupkan Matahari Semakin Nyata Akibat Naiknya Suhu Bumi Setiap Tahun

Redaksi by Redaksi
Desember 2, 2022 2:51 pm
in Internasional
Ilustrasi matahari yang menyinari bumi.

Ilustrasi matahari yang menyinari bumi. Foto/Pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Rencana untuk melakukan solar geoenginereeing, solusi kontroversial meredupkan sinar matahari ke bumi, semakin dikaji dengan serius. Bulan lalu, Amerika Serikat mengumumkan akan ikut turun tangan dalam penelitian rencana itu.

The White House Office of Science and Technology Policy (OSTP), akan melakukan penelitian selama 5 tahun untuk mempelajari geoengineering. Ini akan menjadi proyek intervensi paling ekspansif dalam sistem planet kita.

READ ALSO

Acoustic Kitty, Saat CIA Jadikan Kucing sebagai Mata-mata di Era Perang Dingin

Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini 10 Fakta Menariknya

Tujuannya demi memanipulasi iklim untuk mendinginkan bumi akibat peningkatan emisi gas karbondioksida dan pemanasan global.

Dilansir dari The New Yorker, masalah pemanasan global semakin mengkhawatirkan dan bumi yang terlalu panas dapat mengancam penduduk. Misalnya, Cina mengalami gelombang musim panas di musim semi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kemudian, kekeringan melanda Eropa dan Tanduk Afrika, Pakistan mengalami banjir terburuk dalam beberapa dekade, dan mencairnya es di Kutub. Semua ini terjadi karena suhu permukaan bumi naik 1,5 derajat Celcius per tahunnya.

Ilmuwan memperkirakan suhu bumi akan terus naik menjadi 1,5-2 derajat Celcius sebelum 2030 dan bumi akan mencapai titik kritis iklim, yang mana membuat mereka mulai mendalami solusi manipulasi iklim ini.

Meski masih kontroversial dan berisiko, solar geoengineering dilaporkan dapat diimplementasikan berdasarkan Solar Radiation Management (SRM) atau manajemen radiasi matahari. Dilansir dari website Oxford Geoengineering Programme, SRM bekerja dengan cara memantulkan kembali sebagian kecil energi matahari ke luar angkasa, menangkal suhu yang disebabkan oleh peningkatan gas efek rumah kaca di atmosfer yang menyerap energi dan menaikkan suhu.

Ada tiga teknik SRM yang diusulkan, meliputi; 1) Albedo enchancement, yaitu upaya meningkatkan reflektivitas awan atau permukaan tanah sehingga lebih banyak panas matahari yang dipantulkan kembali ke angkasa.

2) Space reflectors, yaitu upaya menghalangi sebagian kecil sinar matahari sebelum mencapai bumi, dan 3) Stratospheric aerosols, yaitu penyemprotan aerosol ke atmosfer untuk memantulkan sinar matahari menjauh dan mengurangi suhu.

Di antara ketiga cara tersebut, semprotan aerosol (terutama sulfur dioksida) merupakan yang terpopuler dan dipertimbangkan. Gagasan meredupkan matahari lewat aerosol ini meniru kejadian gunung berapi yang meletus dan hal itu mendorong partikel ke atmosfer.

Letusan gunung berapi yang besar, seperti contohnya Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1992, secara terukur dapat mendinginkan dunia selama satu hingga dua tahun.

Dampak

Menyemprotkan aerosol memang dapat menghasilkan beberapa dampak positif seperti pendinginan yang cepat, mencegah laju kenaikan permukaan laut, gelombang panas, cuaca ekstrem, perubahan iklim, dan mencairnya es di kutub.

Akan tetapi, dapat berdampak buruk pula bagi sistem alami di bumi. Aerosol dapat membuat perubahan drastis di bumi, dapat merusak lapisan ozon, mengubah kualitas tanaman yang digunakan untuk fotosintesis, mempengaruhi ketahanan pangan, mengubah langit menjadi kabur.

Seperti contoh, Gunung Tambora pernah meletus pada tahun 1815, memuntahkan awan panas yang menyebabkan suhu bumi turun satu derajat Celcius untuk sementara.

Letusan dahsyat itu sempat menghasilkan “setahun tanpa musim panas” pada tahun 1816 di sebagian besar belahan bumi utara. Tetapi, bahan pangan anjlok karena tanaman mati dan banyak danau membeku.

Di lain sisi, pola cuaca juga akan berbeda dan sulit diprediksi di seluruh belahan dunia. Curah hujan akan berbeda, dapat menyebabkan banjir di suatu daerah dan kekeringan di daerah lain.

Sebuah penelitian berjudul Solar geoengineering could redistribute malaria risk in developing countries yang diterbikan di Jurnal Nature Communications, menjelaskan bagaimana geoengineering dapat meningkatkan malaria di negara berkembang dan daerah dataran rendah di Afrika dan Asia, sambil mengurangi penularan di wilayah lain.

Implementasi solar geoengineering memang sebuah solusi berbasis teknologi untuk mengatasi krisis iklim. Tetapi, cara ini masih diperdebatkan lantaran menjadi langkah menuju bencana dan kerugian bagi beberapa wilayah di bumi.

Diperlukan solusi yang mempertimbangkan komponen sentral agar terjadi keseimbangan dan keadilan bagi seluruh negeri.

Penulis: Nurukhfi Mega Hapsari

Editor: Herlianto. A

Tags: MatahariMeredupkan MatahariRekayasa Mataharisolar geoenginereeing

Related Posts

Kucing sebagai mata-mata
Internasional

Acoustic Kitty, Saat CIA Jadikan Kucing sebagai Mata-mata di Era Perang Dingin

Selasa, 7 Apr 2026
Fakta menarik Mojtaba Khamenei
Internasional

Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini 10 Fakta Menariknya

Senin, 9 Mar 2026
Potret Mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (Foto: Pinterest @zahra)
Internasional

Fakta-Fakta Penting Tewasnya Ali Khamenei dalam Serangan Udara di Teheran

Selasa, 3 Mar 2026
Bendera Iran, Amerika, dan Israel (Foto: Dado Ruvic/ Reuters)
Internasional

Dulu Sahabat, Kini Saling Serang: Sejarah Hubungan Iran, Amerika dan Israel

Selasa, 3 Mar 2026
Demonstrasi massa dalam Revolusi Iran 1978–1979 yang menuntut perubahan pemerintahan. (Foto: Pinterest @Eliza Annette)
Internasional

Perjalanan Revolusi Iran 1978–1979 dan Lahirnya Republik Islam

Selasa, 3 Mar 2026
Asap hitam terlihat membumbung di kawasan perkotaan di tengah eskalasi Perang Iran–Israel. (Foto: Mahmud HAMS/ AFP)
Internasional

Fakta Serangan Amerika dan Balasan Iran serta Dampaknya

Selasa, 3 Mar 2026
Next Post
Sertifikasi tanah

Pentingnya Dibentuk Tim Percepatan Sertifikasi Tanah Wakaf di Kota Batu

BERITA POPULER

  • Bapenda Kota Malang

    Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.