Selasa, September 1, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Kampung Naga Tasikmalaya, Hidup Tanpa Listrik, Pernah Dibakar DI/TII

Redaksi by Redaksi
September 2, 2022 11:05 am
in Pilihan Redaksi
kampung adat tasikmalaya

Suasana kampung naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. Foto: Herlianto.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

TASIKMALAYA | TuguMalang.id  – Salah satu kampung di Nusantara yang masih mempertahankan cara hidup dan tradisi nenek moyangnya adalah Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Lorong di antara rumah2 warga Kampung Naga. (Foto: Herlianto.A)

Kampung yang pernah dibakar pasukan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kartosuwryo pada tahun 1965 ini, memilih hidup tidak menggunakan listrik hingga saat ini.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Tim “Jelajah Jawa Bali, Mereka yang Memberi Arti” berkunjung ke kampung yang berjarak sekitar 3 jam dari Kota Bandung ini.

Kamis 1 September 2022, matahari baru naik setinggi tiang bendera, tim Tugu Media Group bersiap untuk turun ke lembah di mana warga Kampung Naga berada. Seorang mengenakan odeng khas Sunda memberhentikan kami.

“Maaf pak, kalau mau ke Kampung Naga sebaiknya pakai guide. Ini sebetulnya bukan tempat wisata, tetapi kampung adat. Kalau pakai guide bapak akan banyak tahu cerita kampung ini,” kata pria itu yang ternyata bernama Cahyana, sekaligus warga Kampung Naga.

Kerajinan tangan karya warga Kampung Naga. (Foto: Herlianto.A)

Kami pun sepakat untuk memakai jasa Cahyana pada jelajah kali ini. Kami turun ke sebuah lembah di kedalaman 500 meter dengan tangga cor yang memiliki 444 anak tangga.
Di sepanjang tangga yang meliuk-liuk seperti ular itu, berderat rumah warga yang sebetulnya masih keturunan dari Kampung Naga, hanya saja mereka keluar dari kampung tersebut dan sebutannya sudah menjadi Sanaga.

“Kami di kampung kalau ada anak yang menikah dengan orang luar dan memilih tinggal di luar tidak masalah. Cuma dia sudah tidak disebut warga kampung naga,” kata dia.

Lanskap Kampung Naga
Setelah melalui separuh perjalanan tampak di sebelah timur Kampung Naga terbentang sungai Ciwulan yang air berasal dari Cikuray Garut. Sungai ini berdampingan dengan hutan larangan Leweung Naga. Sementara di bagian barat Kampung Naga dibatasi hutan Biuk yang juga hutan larangan.

Kaum ibu warga Kampung Naga sedang berbincang. (Foto: Herlianto. A)

“Disebut hutan larangan karena siapapun tidak boleh ke hutan itu,” kata Cahyana yang mengaku sudah mendapat training tour guide itu.

Menurut Cahyana luas Kampung Naga sekitar 15 hektar, jumlah penduduknya saat ini 295. Sebertulnya, dilihat secara dari keturunan, yang tinggal di Kampung Naga hanya 2 persen saja dari total keturunan warga Kampung Naga, 98 persennya berada di luar kampung.
Sementara jumlah bangunan yang ada sebanyak 113 bangunan, termasuk tiga bangunan yang tidak ditinggali, yaitu balai kampung, masjid, dan bumi ageng. Bahkan dari tiga bangunan itu ada yang tidak boleh difoto atau divideo.

“Bangunan bumi ageng tidak boleh difoto karena itu, warisan leluhur yang sangat kami jaga,” kata pria yang telah miliki dua anak itu.

Baik masjid, balai, dan bumi ageng berada di tengah kampung. Sementara di bagian timur, dekat pintu masuk kampung ada lumbung padi dan tempat menumbuk padi.

Sementara, mata pencaharian warga Kampung Naga adalah bertani padi, singkong, dan kapol. Rata-rata warga di situ setiap keluarga memiliki lahan seluas 100 tumbak. Setiap satu tumbak sama dengan 13 meter persegi. Nah gabah dari hasil tani inilah yang dipakai mereka untuk hidup sehari-hari.

Hidup Tanpa Listrik
Menurut Cahyana, warga Kampung Naga pernah ditawari listri oleh pemerintah tetapi semua warga kampung itu sepakat untuk menolak. Masuknya listrik dianggap akan merusak nilai-nilai luhur dan tradisi di kapung itu.

“Dengan listrik orang akan berlomba untuk kaya, beli yang mewah-mewah. Itu akan memunculakn keirian dan bisa jadi pemicu konflik,” kata dia.

Biji kapol yang biasa dijual oleh warga Kampung Naga untuk kebutuhan hidup. (Foto: Herlianto.A)

Kampung Naga, imbuhnya, sangat menjaga kegotongroyongan dan keguyuban. Semua yang ada di kamung itu dibentuk secara sama. Bangunan rumah yang ada di situ semua ukurannya hampir sama yaitu 6×5 meter. Dan tidak ada yang bangun dengan tembok.
Semua rumah menggunakan pondasi batu yang disusun, lantainya papan kayu, temboknya dari bambu sementara atapnya terbuat dari ijuk.

Bagaimana penerangan di waktu malam? Semua warga di sini menggunakan lampu teplok dengan bahan bakar minyak tanah. Dulunya, mereka lampu sejenis teplok tanpa penutup kaca sehingga asap kemana-mana, sekarang sudah ada penutupnya.

“Sebelum ada lampu teplok ini, kami kalau bangun tidur hidung hita semua kena asapnya,” kata dia.

Setelah pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, Kampung Naga ada yang memakai HP, karena kebutuhan anak mereka yang sekolah online. Namun demikian tidak semua anggota keluarga memiliki HP, setidaknya dalam satu keluarga hanya punya satu HP.
“Kami kalau ngecas ke atas, naik ke rumah-rumah Sanaga yang sudah memakai listrik,” kata dia.

Dibakar DI/TII
Setelah obrolan panjang dengan Cahyana, tim Tugu Media Group tiba di rumah salah satu sesepuh Kampung Naga, dia adalah Maun. Maun juga sekaligus sebagai Punduh yaitu jabatan adat yang khusus menjaga kemasyarakatan di situ.

Ceo Tugu Media Group Irham Thoriq memberikan bingkisan pada Maun, Pundauh Kampung Naga. (Foto: Herlianto.A)

Selain Punduk, ada Kuncen yang pegang oleh Ade Suwerlin. Dia adalah jabatan adat yang mengatur soal ritual adat sekaligus. Misalnya, saat berziarah kubur atau ada adat saat bulan maulid, idul Adha, dst. Kuncen juga ditugasi menjaga bangunan sakral Bumi Ageng.
Jabatan adat ke tiga adalah Lebe yang dipegang Karmadi, yaitu pemimpin agama Islam. Dia yang menjaga masjid, menjadi khotib saat jumat, dst. Memang semua warga di Kampung Naga beragama Islam.

Meski kampung naga saat ini hidup dengan tenang dan damai. Tetapi warga kampung ini pernah mengalami trauma yang berat, yaitu saat dibakar oleh pasukan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo pada tahun 1956.

Menurut Punduh Maun, pembakaran kampung yang mengerikan itu terjadi setelah warga selesai salat Isya. Tiba-tiba ada ledakan, dan pasukan DI/TII mengepung kapung tersebut. Lalu tak lama kemudian rumah-rumah warga terbakar.

Warga panik pada berlarian ke sana-kemari. Saat itu Maun berumur 20 tahun. Menurutnya, pembakaran itu terjadi karena warga Kampung Naga menolak berbaiat kepada DI/TII.
“Kami kan punya pemerintah yang dipimpin Soekarno. Dan pemerintahannya tidak menyalaha adat kami, lalu apa kami mengakui negara lain,” pria yang ahli membuat bangunan rumah panggung tersebut.

Api terus terus melahap dengan ganas semua bangunan warga. Di tengah malam kobaran si jago semakin menjadi. Baru sekitar petang api mulai padam. Pagi hari mulai membersihkan sisa bakaran rumahnya. Dalam pembakaran itu menewaskan satu anak beusia 2 tahun.
“Kami tidak melawan, kami hanya menepi,” kenang Maun.

Catatan ini adalah bagian dari program Jelajah Jawa-Bali, tentang Inspirasi dari Kelompok Kecil yang Memberi Arti oleh Tugu Media Group x PT Paragon Technology and Innovation. Program ini didukung oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Pondok Inspirasi, Genara Art, Rumah Wijaya, dan pemimpin.id.

Reporter: Herlianto. A

Tags: Headlinejelajah jawa balikampung nagaMereka yang Memberi Artitasikmalaya

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
kampung adat tasikmalaya

Parade Foto: Desa Adat Kampung Naga Tasikmalaya, Tanpa Listrik dan Menyatu dengan Alam

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.