Kegiatan bertajuk FEMI-Care (Female Menstrual Insight & Care) tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang kesehatan menstruasi. Edukasi ini digelar karena literasi kesehatan menstruasi di kalangan remaja putri masih menjadi perhatian.
Data Riskesdas 2018 menunjukkan lebih dari 60 persen remaja putri Indonesia memiliki pengetahuan rendah tentang menstruasi. Sekitar 32 persen di antaranya juga berisiko mengalami anemia.
Baca juga: Tim Fakultas Kedokteran UM Lakukan Capacity Building Kader Balita sebagai Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting
Di lingkungan pesantren, stigma dan anggapan tabu mengenai menstruasi masih kuat. Akses informasi terbatas dan edukasi kesehatan reproduksi belum diberikan secara terstruktur. Akibatnya, santriwati cenderung mendapatkan informasi dari teman sebaya yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Tim pelaksana terdiri atas Maya Anjar Enjelina Tilawah sebagai ketua, bersama Tiqi Liana Putri, Elvina Friska Rindani, Neha Rizki Aprilianingrum, dan Nadine Aulia Rahma Syaputri. Kegiatan tersebut didampingi dosen pembimbing Alifia Candra Puriastuti, S.Keb., Bd., M.Kes.
Edukasi berlangsung dengan pendekatan edukatif, promotif, dan preventif. Rangkaian kegiatan diawali koordinasi dan sosialisasi dengan pihak pesantren, dilanjutkan pre-test, ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, permainan kartu Myth or Fact, serta post-test.
Materi yang diberikan mencakup pengertian menstruasi menurut medis dan Islam, perbedaan darah haid dan istihadhah beserta hukum ibadahnya, fungsi organ reproduksi, fisiologi dan fase siklus menstruasi, hingga perubahan psikologis selama menstruasi dan cara mengatasinya.
Santriwati juga mendapatkan penjelasan mengenai ciri menstruasi normal pada remaja, gangguan siklus, jumlah darah dan nyeri menstruasi, serta anemia dan pencegahannya.
Materi lainnya membahas manajemen kebersihan menstruasi atau Menstrual Hygiene Management (MHM), penggunaan produk kewanitaan yang aman, pencatatan siklus menstruasi, serta pola hidup selama menstruasi. Termasuk aktivitas fisik, asupan gizi, dan pola istirahat.
Baca juga: Inovasi Mahasiswa UM Hadirkan Spesimen Hewan untuk Pembelajaran Biologi di SMAN 1 Bululawang
Hasil evaluasi mencatat kenaikan rata-rata nilai peserta dari 67,5 pada pre-test menjadi 74,16 pada post-test. Artinya, terdapat peningkatan 6,66 poin atau sekitar 9,9 persen.
Selain hasil evaluasi tersebut, peserta menunjukkan antusiasme selama mengikuti edukasi. Mereka juga tertarik memainkan kartu Myth or Fact sebagai media pembelajaran tentang menstruasi yang selama ini kerap dianggap tabu.
Pihak pesantren turut mendukung pelaksanaan kegiatan dengan menyediakan tempat dan fasilitas serta membantu koordinasi peserta.
Program FEMI-Care juga dikaitkan dengan pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan akses informasi kesehatan reproduksi. Sementara itu, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) diwujudkan melalui pembelajaran nonformal yang inklusif dan kontekstual di lingkungan pesantren.
Untuk menjaga keberlanjutan program, tim memberikan media edukasi yang dapat dimanfaatkan kembali. Santriwati juga didorong berperan sebagai edukator sebaya agar informasi kesehatan menstruasi dapat disebarkan secara mandiri.
Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi kendala berupa suasana tempat kegiatan yang kurang kondusif dan penyesuaian jadwal dengan waktu ibadah. Tim merekomendasikan kegiatan serupa dengan materi lebih bervariasi, tetapi tetap menggunakan media permainan agar menarik bagi santriwati.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis FK Universitas Negeri Malang
editor: jatmiko





































