Tugumalang.id – Memperingati Hari Sumpah Pemuda tak harus lewat upacara seremonial. Sejumlah anak muda berbagai latar belakang di Kota Malang memilih merayakannya dengan berbicara selama 28 jam tanpa henti melalui event “28 Jam Pemuda Bicara: Indonesia Youth Talkshow” pada 27-28 Oktober 2026.
Kegiatan bertajuk “28 Jam Pemuda Bicara: Indonesia Youth Talkshow” itu membawa semangat Merajut Ekosistem Kreatif di Era Digital. Selama 28 jam, generasi muda menyuarakan aspirasi, berbagi inspirasi dan menunjukkan kontribusi nyata di era digital.
Direktur Yayasan Pengembangan Pendidikan Insan Pancasilais (YPPIP), Andreas G Sudibjo mengatakan bahwa kegiatan ini berangkat dari keresahannya terhadap peringatan Sumpah Pemuda yang dinilai kerap terjebak dalam kegiatan seremonial.
Baca Juga: Wabup Malang Serahkan Penghargaan pada Puluhan Anak Muda di Hari Sumpah Pemuda 2025
“Jadi tujuan utamanya, kami ingin mengangkat aspirasi anak muda. Mereka ingin berbicara tentang siapa diri mereka, apa yang mereka pikirkan, dan apa yang mereka butuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda sebenarnya memiliki banyak gagasan dan potensi. Namun, tidak semuanya memiliki panggung untuk menyampaikan pemikiran maupun menunjukkan karya. Di sisi lain, media sosial kerap digunakan tanpa memperhatikan tanggung jawab dan kedalaman isi.
Melalui 28 Jam Pemuda Bicara, Andreas ingin menghadirkan ruang digital yang tidak sekadar mengejar jumlah penonton. Tetapi juga memberikan nilai melalui pendidikan, aspirasi, dan pembahasan tentang peran pemuda.
“Selama 28 jam, semuanya harus berisi. Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda bukan hanya soal tren di media sosial,” tegasnya.
Salah satu hal yang ingin ditonjolkan ialah kontribusi nyata pemuda di tengah masyarakat. Andreas mencontohkan sosok pemuda yang terlibat dalam aksi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana, termasuk Aceh Tamiang dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Baca Juga: Wabup Malang Serahkan Penghargaan pada Puluhan Anak Muda di Hari Sumpah Pemuda 2025
Kisah tersebut membuktikan bahwa kepedulian generasi muda tidak terbatas pada aktivitas di dunia maya atau kritik terhadap persoalan politik. Anak muda juga mampu turun langsung membantu masyarakat yang membutuhkan.
Selain aksi sosial, forum ini mengangkat potensi ekonomi kreatif sebagai bidang yang dapat dikembangkan generasi muda. Kreativitas, komunitas, dan kemampuan memanfaatkan teknologi dinilai menjadi modal penting untuk menghasilkan karya sekaligus membuka peluang baru.
Andreas juga menilai Kota Malang memiliki potensi besar sebagai ruang pertemuan gagasan anak muda dari berbagai daerah. Sebagai kota pendidikan, Malang dihuni generasi muda dengan latar belakang budaya yang beragam, mulai dari Sumatera hingga berbagai wilayah Indonesia lainnya.
Keberagaman tersebut menurutnya, menjadi gambaran nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu, kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi pemuda asli Malang, tetapi juga mereka yang datang untuk belajar, berkarya, dan membangun jejaring di kota ini.
Respons penonton selama siaran berlangsung turut menjadi indikator awal antusiasme terhadap kegiatan tersebut. Andreas menyebut jumlah penonton sempat menembus ribuan orang pada waktu waktu tertentu, meskipun jumlahnya berfluktuasi selama siaran.
Ia berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan di kota kota lain apabila mendapat respons positif. Dengan begitu, semakin banyak anak muda yang memiliki kesempatan untuk menyampaikan gagasan, memperkenalkan karya, dan membangun kontribusi bagi masyarakat.
Melalui 28 Jam Pemuda Bicara, ia ingin menunjukkan bahwa ruang digital dapat menjadi tempat tumbuhnya gagasan yang bermanfaat. Semangat Sumpah Pemuda pun diharapkan tidak hanya diperingati setiap tahun, tetapi diwujudkan melalui karya, solidaritas dan kontribusi nyata bagi Indonesia.
Bagi Andreas, momentum Sumpah Pemuda semestinya menjadi pengingat bahwa anak muda bukan sekadar pengguna teknologi atau objek pembangunan.
“Mereka merupakan bagian penting dari solusi yang memiliki ide, kepedulian dan kemampuan untuk menciptakan perubahan,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A






































