Malang, Tugumalang.id – Universitas Brawijaya (UB) turut mengangkat pamor Kota Malang, Jawa Timur, sebagai Kota Kreatif UNESCO Media Arts melalui DIPA MediArt Festival 2026. Festival yang berlangsung selama sepekan ini menghadirkan pameran seni lintas disiplin, pertunjukan, diskusi, hingga lokakarya.
Mengusung tema “Responding Malang as UNESCO City of Media Art”, festival yang digagas melalui program prioritas Global UB itu resmi dibuka di Gazebo Raden Wijaya, Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (27/10/2026) malam. Kegiatan ini berlangsung hingga 2 November 2026.
Festival ini dirancang sebagai wadah seni media multidisiplin yang mempertemukan sains, teknologi, humaniora, dan komunikasi untuk mengasah talenta muda. Selain pameran, pengunjung dapat menikmati berbagai produk kesenian, seperti video mapping, pertunjukan seni, diskusi, dan lokakarya yang melibatkan beragam disiplin ilmu serta komunitas kreatif.

Festival ini menghadirkan tiga zona pameran dengan pendekatan berbeda. Pertama, Immersive Gallery menjadi pusat pengalaman visual dan program publik melalui perpaduan proyeksi digital, teknologi interaktif, serta pertunjukan yang melibatkan respons manusia terhadap ruang digital.
Kedua, New Media Art Gallery yang dihadirkan Fakultas Vokasi UB menampilkan eksplorasi seni kontemporer melalui proyeksi, layar digital, sensor, dan perangkat elektronik. Ketiga, Fine Art Gallery yang melibatkan Fakultas Ilmu Budaya UB menyajikan karya seni rupa, termasuk lukisan, seni grafis, dan batik.
Di zona Fine Art Gallery, pameran menampilkan 20 karya seni rupa dua dimensi dari 34 seniman yang terdiri atas mahasiswa dan alumni Program Studi Seni Rupa Murni UB. Kehadiran karya mahasiswa dan alumni dalam satu ruang menjadi bagian dari kesinambungan proses kreatif sekaligus pertukaran pengalaman antargenerasi.
Executive Director DIPA MediArt Festival 2026 Dr. Redy Eko Prasetyo menjelaskan, festival tersebut menjadi pemantik strategis untuk menumbuhkan atmosfer kreatif berbasis digital dan new media art secara organik di lingkungan kampus.
“Tujuan kegiatan ini secara garis besar berkeinginan untuk membangun sebuah ekosistem baru berbasis seni media secara organik di lingkungan UB,” jelas Redy.
Selama tujuh hari penyelenggaraan, pengunjung disuguhi berbagai program publik. Di antaranya, talkshow animasi dan bisnis media art, audio visual fun jamming (VJ Battle), pemutaran film animasi, pertunjukan, kelas parfum, linocut print, hingga wayang suket.
Menariknya, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat berinteraksi, belajar, dan mengenal beragam praktik seni serta teknologi secara langsung. Bagi UB, pendekatan ini menjadi upaya mengaktifkan ruang-ruang kampus sebagai wadah dialektika konstruktif antara akademisi, mahasiswa, seniman, pelaku industri kreatif, dan masyarakat.
Baca juga: 150 Jenis Hewan Eksotik Unjuk Gigi di Prana Satwa Brawijaya 2026
Wakil Rektor IV UB Prof. Andi Kurniawan menuturkan, dalam kerangka Globalizing UB, festival ini menjadi upaya menerjemahkan agenda internasionalisasi universitas ke dalam program kreatif yang berangkat dari potensi lokal. Salah satu hal terpenting dari kegiatan ini adalah peluang kolaborasi berkelanjutan.
“Pada prinsipnya, festival ini berusaha menginkubasi keunggulan komparatif yang ada di UB sehingga bisa dihantarkan menjadi international outlook. Tak hanya sebatas di UB saja, tapi juga ekosistem lain sekitar,” tuturnya.
Andi menambahkan, penyelenggaraan festival tersebut juga menjadi bentuk nyata dukungan UB terhadap penetapan Kota Malang sebagai UNESCO City of Media Arts pada Oktober 2025. Menurut dia, pengakuan itu membuka peluang bagi berbagai pihak untuk memperkuat praktik kreatif berbasis teknologi dan mengembangkan identitas kota melalui karya serta kolaborasi.
Dalam konteks tersebut, DIPA MediArt Festival menjadi ruang bagi UB untuk mengambil peran melalui pengembangan pengetahuan, talenta, dan jejaring kolaborasi. Kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana potensi akademik dapat dihubungkan dengan dinamika industri kreatif dan komunitas yang lebih luas.
Baca juga: Universitas Brawijaya dan Sungkyunkwan University Perkuat Human Capital Mahasiswa Indonesia Melalui Program Global Scholars
Melalui integrasi akademisi, industri kreatif, dan masyarakat, UB berharap festival ini menjadi landasan berkelanjutan untuk memperkuat talenta muda sekaligus memajukan ekosistem seni media di tingkat lokal maupun global.
Andi menilai, festival tersebut juga menjadi bagian dari transformasi digital dalam pendidikan yang dikembangkan UB. Dia berharap kegiatan itu dapat digelar secara rutin setiap tahun.
“Ini sebetulnya juga merupakan salah satu bagian dari transformasi digital dalam pendidikan yang coba UB hadirkan. Melihat antusias pesertanya hari ini, saya berpikir ini layak dijadikan annual setiap tahun,” akunya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko






































