Malang, Tugumalang.id – Sebanyak 190 siswa SMPIT Insan Permata Malang mengikuti kegiatan Kokurikuler Gema Qur’ani Berkhidmah pada 16–17 Oktober 2026. Selama dua hari, mereka tidak hanya memperkuat hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mengajar anak-anak, menyalurkan bantuan sosial, hingga membersihkan masjid dan musala di Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan komite sekolah dan Pondok Pesantren Ar-Rahmah tersebut mengusung tema Gerakan Edukasi, Muraja’ah, dan Amaliah Qur’ani Berbasis Pengabdian Masyarakat. Program ini dirancang untuk membentuk karakter siswa melalui pembelajaran keagamaan dan pengalaman langsung di tengah masyarakat.
Kepala SMPIT Insan Permata Malang Hafizh Maulana, S.Pd.I, Gr., melalui Wakil Kepala Bidang Kurikulum Ika Puspitasari, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa kegiatan kokurikuler tersebut menjadi salah satu upaya sekolah mengembangkan delapan dimensi profil lulusan.
“Melalui kegiatan Gema Qur’ani Berkhidmah ini, anak anak dinilai dalam delapan dimensi profil lulusan. Jadi, pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata,” jelasnya.
Baca juga: SMPIT Insan Permata Malang Ajak Orang Tua Bangun Koneksi dengan Generasi Alpha
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengabdian masyarakat di Desa Kucur. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menjalankan kegiatan sosial. Mulai mengajar anak-anak taman kanak-kanak (TK), membersihkan tempat ibadah, melakukan penghijauan, hingga menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan.
Dalam kegiatan bakti sosial tersebut, siswa bersama pihak sekolah menyalurkan 100 paket sembako kepada masyarakat sekitar. Mereka juga memberikan santunan kepada 15 anak yatim.
Aksi sosial lainnya diwujudkan melalui kegiatan bersih-bersih empat musala dan satu masjid di wilayah Kucur. Para siswa turut menyerahkan parsel berisi alat kebersihan, sajadah, kerudung, serta infak untuk masjid dan musala yang menjadi lokasi pengabdian.
Menurut Ika, keterlibatan siswa tidak sebatas menjalankan kegiatan yang telah disiapkan sekolah. Mereka juga ikut merencanakan program, menggalang infak harian, menyiapkan paket bantuan, hingga mengemas perlengkapan untuk kegiatan mengajar anak-anak TK.
“Anak-anak sudah kami libatkan sejak awal. Mereka ikut berpartisipasi melalui infak harian, menyiapkan paket bakti sosial, sampai merancang kegiatan untuk anak-anak TK,” ungkapnya.
Siswa Terlibat Langsung dalam Pengabdian Masyarakat
Setelah menyelesaikan pengabdian masyarakat, para siswa melanjutkan kegiatan dengan menginap selama satu malam di Pondok Pesantren Ar-Rahmah. Siswa putra mengikuti kegiatan di Pondok Pesantren Ar-Rahmah Putra, sedangkan siswa putri berada di Pondok Pesantren Ar-Rahmah Putri.
Selama mengikuti kegiatan nyantri, siswa menjalani evaluasi hafalan Al-Qur’an selama tiga bulan terakhir. Setoran hafalan dilakukan bersama musyrif dan musyrifah dari kalangan siswa SMA Ar-Rahmah. Mereka juga mengikuti tajwid challenge untuk menguji pemahaman bacaan Al-Qur’an.
Selain itu, siswa mengikuti kajian yang disampaikan ustaz dan ustazah Pondok Pesantren Ar-Rahmah. Kegiatan diisi dengan ibadah bersama, termasuk qiyamul lail dan salat berjamaah, serta aktivitas kebersamaan dan kepramukaan sebelum penutupan.
Ika mengatakan, pengalaman belajar di pesantren diharapkan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenal lingkungan pendidikan yang berbeda. Nilai-nilai positif dari kehidupan pesantren diharapkan dapat diterapkan dalam keseharian maupun di lingkungan sekolah.
Baca juga: SMPIT Insan Permata Malang Hadirkan Ulama Palestina dalam Kajian Dhuha dan Baksos Ramadan
Melalui Gema Qur’ani Berkhidmah, SMPIT Insan Permata Malang menargetkan tumbuhnya keimanan dan ketakwaan, kepedulian sosial, rasa kebangsaan, kemampuan komunikasi, kesehatan, penalaran kritis, kreativitas, serta dimensi profil lulusan lainnya. Nilai-nilai tersebut dibangun melalui perpaduan kegiatan keagamaan, sosial, dan kerja sama antarsiswa.
Lebih dari sekadar agenda sekolah, kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk belajar bersyukur dan memahami pentingnya berbagi. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, siswa diharapkan memahami bahwa ilmu dan nilai-nilai Al-Qur’an perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ika berharap pengalaman selama dua hari tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Para siswa diharapkan membawa pulang pelajaran tentang kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab untuk diterapkan setelah kembali ke sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
“Harapannya, anak-anak benar-benar bisa mengambil pelajaran dari kegiatan pengabdian masyarakat sampai nyantri sehari di Pondok Pesantren Ar-Rahmah. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga memahami bagaimana menerapkan apa yang sudah dipelajari,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko


































