Oleh: Narudin Pituin
Tugumalang.id – Sebagai seorang penulis dan kritikus sastra yang membedah lembar demi lembar perjalanan kreatif dalam buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976-2026), saya menyadari bahwa karya ini bukanlah sekadar dokumentasi romantisme pernikahan emas selama setengah abad.
Dalam kacamata tasawuf, teks autobiografis, prosa liris, dan puisi di dalamnya menjelma menjadi sebuah hikayat tentang perjalanan ruhani (safar al-qulub).
Sebagaimana ditegaskan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulum Al-Din, hati manusia ibarat cermin; jika ia dibersihkan dari debu duniawi melalui zikir dan tobat, ia akan memantulkan cahaya Ilahi. Surya dan Sjenny merefleksikan cermin hati yang bersih itu melalui kesetiaan yang diuji oleh waktu.
Baca Juga: Membaca Sastra 50 Tahun Surya dan Sjenny
Dalam pembacaan sufistik yang saya lakukan, waktu senja yang kerap dinarasikan oleh Surya bukanlah simbol kelemahan, melainkan manifestasi dari fana — peleburan ego personal menuju kesadaran kosmik bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Sang Pencipta.
Hal ini sejalan dengan pandangan teoretis Ibnu Taimiyah dalam kerangka akidah Islam yang murni, di mana amal perbuatan manusia tidak memiliki nilai hakiki kecuali jika disandarkan pada keikhlasan mutlak dan kepasrahan total kepada takdir Allah Swt. Jika fana dimaknai sebagai keikhlasan dan tawakal, maka ia sejalan dengan penekanan Ibnu Taimiyah tersebut.
Perjalanan Surya melintasi batas-batas geografis dunia — dari Nusantara hingga Malaysia, Inggris, hingga Jepang — bukanlah ekspansi ambisi duniawi, melainkan sebuah bentuk perjalanan untuk mencari ilmu (rihlah ilmiyah) dan manifestasi risalah kekhalifahan di muka bumi.
Baca Juga: Penuh Kesan dan Menginspirasi, Tasyakuran Pernikahan 50 Tahun Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain
Saya secara jeli menangkap esensi puitis ini dengan menyejajarkan gaya kepengarangan Surya dengan tradisi prosa liris Imam Al-Ghazali. Ketika Surya merumuskan filsafat hidupnya melalui metafora “kebun durian” — di mana duri kesusahan menyembunyikan manisnya ilmu dan keberkahan — ia sedang mengajarkan konsep sabar dan syukur secara aplikatif.
Tasawuf tidak mengajarkan umatnya untuk lari dari dunia, melainkan hadir di tengah carut-marut kehidupan sosial untuk menjadi “cahaya bagi sesama”. Konsep filantropi pendidikan yang mengantarkan lebih dari 700 generasi muda menembus pendidikan global adalah bentuk nyata dari amal jariyah, di mana tangan kanan memberi tanpa membiarkan tangan kiri mengetahuinya.
Ibnu Taimiyah dalam berbagai risalahnya sering mengingatkan pentingnya menempatkan akal dan ikhtiar di bawah bimbingan syariat serta orientasi kemaslahatan umat.
Surya mempraktikkan pandangan ini tatkala ia memandang bahwa keberhasilan tertinggi bukanlah seberapa banyak harta yang digenggam, melainkan seberapa besar kemampuan seseorang untuk memerdekakan pikiran orang lain dari belenggu kebodohan.
Puisi-puisi yang saya analisis dalam buku ini, seperti “Filosofi Kehidupan”, mempertegas bahwa ikhtiar insaniah harus selalu diiringi dengan kepasrahan total kepada kehendak Allah (la hawla wala quwwata illa billah).
Akhirnya, ulasan sastra yang saya hadirkan menegaskan bahwa buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny adalah sebuah monumen kemanusiaan. Perjalanan 50 tahun ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati dan pengabdian sosial yang tulus adalah kendaraan paling ampuh untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, menitiskan kedamaian jiwa di usia senja, dan meninggalkan warisan abadi bagi peradaban. (*)
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


















