Kota Batu, Tugumalang.id – Prevalensi stunting di Kota Batu naik sekitar 2 persen, dari sebelumnya 10,19 persen menjadi 12,75 persen pada 2026. Pemkot Batu langsung membentuk Tim Percepatan dan Penurunan Stunting (P3S) Kota Batu.
Tim tersebut melibatkan konvergensi intervensi lintas sektor. Masalah gizi buruk tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada Dinas Kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif kecamatan, kelurahan, hingga desa.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu Alfi Nurhidayat mengungkapkan, pemenuhan nutrisi bukan satu-satunya faktor penentu kesehatan dan tumbuh kembang balita. Kualitas lingkungan juga memegang peranan yang sangat dominan.
“Apakah kecukupan gizi hanya tergantung pada makanan saja? Jelas tidak. Ketersediaan sanitasi layak dan lingkungan bersih sangat memengaruhi derajat kesehatan balita di masyarakat hingga 70 persen,” tegasnya.
Atas dasar tersebut, Alfi menginstruksikan perangkat daerah terkait, khususnya bidang perumahan, kawasan permukiman, dan cipta karya, untuk mempercepat penyediaan sarana sanitasi dasar serta utilitas air bersih di kawasan permukiman warga.
Baca juga: Angka Stunting Kota Batu Turun hingga di 14,8 Persen
Di tengah tantangan ekonomi keluarga yang kerap membatasi daya beli nutrisi seimbang, Pemkot Batu juga mendorong solidaritas sosial di tingkat tapak.
Alfi mengapresiasi para kepala desa, lurah, dan kader posyandu yang gigih mendampingi warga. Ia berharap penanganan stunting juga diimbangi budaya gotong royong warga sekitar.
“Ketika ada anak-anak yang kesulitan makan atau berasal dari keluarga kurang mampu, muncul rasa tanggung jawab sosial, kebersamaan, dan kesadaran patungan. Itulah wujud nyata konvergensi lintas sektoral yang kita dorong untuk bersama-sama mengentaskan stunting,” jelasnya.
Data kenaikan angka stunting tersebut disebut menjadi bagian dari transparansi data pemerintah. Pemkot Batu mengungkap data itu ke publik dan mulai mempercepat penanganan.
Alfi menegaskan Pemkot Batu secara sadar menghindari praktik manipulasi data demi menjaga reputasi atau pencitraan daerah. Keterbukaan data penting sebagai pengingat pengabdian para abdi masyarakat untuk terus melayani publik.
Baca juga: Dinkes Kota Batu Ungkap Tipologi Baru Stunting, Banyak Berawal dari Bayi Lahir Sehat
Menurut Alfi, kenaikan grafik stunting bukan disebabkan memburuknya kualitas penanganan gizi di lapangan, melainkan efektivitas dan perluasan jangkauan pendataan.
Tim medis bersama relawan diterjunkan langsung untuk menyisir status gizi balita hingga tingkat tapak menggunakan instrumen Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan aplikasi kesehatan daerah.
Dengan pendataan yang lebih presisi, peta sebaran balita terindikasi stunting menjadi jauh lebih transparan. Hal ini memudahkan pemerintah merumuskan langkah penanganan yang tepat sasaran dan cepat.
“Dengan masifnya tim medis dan relawan yang turun langsung ke lapangan, tingkat akurasi data menjadi jauh lebih tinggi. Kita sendiri yang justru berani membuka kondisi riil status stunting yang terdata,” jelasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko































