Kota Batu, Tugumalang.id – Ancaman gagal panen membayangi petani cabai di tengah musim kemarau yang berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Keterbatasan air dapat menurunkan produktivitas tanaman, bahkan membuat tanaman gagal tumbuh dan berdampak pada berkurangnya pasokan cabai di pasaran.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam konferensi pers pada 22 September lalu menyampaikan musim hujan tahun ini datang lebih lambat. Puncak musim hujan diperkirakan bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia, mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.
Kondisi tersebut membuat petani hortikultura, khususnya cabai, perlu menyiapkan langkah mitigasi agar tanaman tetap bertahan di tengah keterbatasan air.
Baca juga: 7 Tanaman Pekarangan yang Dapat Dibudidayakan saat Musim Kemarau
Menanggapi kondisi tersebut, Akademisi Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., mengatakan salah satu mitigasi yang dapat dilakukan petani adalah menggunakan sistem irigasi drip atau irigasi tetes. Sistem tersebut memungkinkan pemberian air dan nutrisi langsung ke area perakaran tanaman secara lebih terukur.
“Cabai itu tipikalnya tidak suka terlalu banyak air, tetapi kalau kurang air juga akan mati. Karena itu, irigasi drip bisa menjadi salah satu solusi agar tanaman tetap mendapatkan air dan nutrisi,” jelasnya.
Menurut Ary, penerapan irigasi drip membutuhkan investasi awal sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta untuk pemasangan selang dan pipa. Meski membutuhkan tambahan biaya, sistem tersebut dapat membantu petani mengatur penggunaan air secara lebih efisien selama musim kering.
Pria yang juga petani cabai di Banyuwangi itu mengaku telah menerapkan sistem irigasi tersebut sebagai salah satu langkah mitigasi. Ia juga mendorong petani menyiapkan sumber air alternatif, seperti sumur dan pompanisasi, sehingga tidak hanya bergantung pada irigasi persawahan.
“Kalau sudah terlanjur tanam, instalasi drip adalah solusinya agar tanaman tetap mendapat nutrisi air yang masuk. Perawatannya juga tetap dilakukan, minimal dua hari sekali, seperti pemberian perangsang bunga, insektisida, dan nutrisi,” katanya.
Di sisi lain, kenaikan harga cabai menurutnya berkaitan dengan berkurangnya produktivitas selama musim kering. Per 23 September, harga cabai rawit varietas ori kecil di tingkat petani berada di kisaran Rp58 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah besar sekitar Rp16 ribu per kilogram.
Ia menjelaskan, harga di tingkat konsumen dapat lebih tinggi karena adanya margin pada setiap rantai distribusi. Harga cabai rawit di tingkat konsumen diperkirakan berada pada kisaran Rp80–90 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah besar sekitar Rp30–42 ribu.
Baca juga: Musim Kemarau Tiba, BPBD Kota Batu Petakan Wilayah Rawan Kebakaran Hutan
Bagi petani yang belum mulai menanam, Ary menyarankan untuk tidak terburu-buru melakukan budidaya. Menurutnya, kondisi cuaca perlu dipantau terlebih dahulu sambil mempersiapkan sumber air dan kebutuhan mitigasi lainnya.
“Mitigasi yang diperlukan petani hortikultura, khususnya cabai, adalah menyiapkan alternatif sumber air dari sumur. Kedua, bisa melakukan tunda tanam. Mengingat intensitas panas saat ini, jika dipaksakan menanam bisa berujung pada tingginya angka gagal tanam,” ujarnya.
Ia menegaskan, tunda tanam bukan berarti menghentikan budidaya, melainkan menunggu kondisi cuaca yang lebih mendukung. Petani dapat melakukan wait and see hingga hujan mulai turun, misalnya sekitar pertengahan November.
“Kalau masih belum nanam, wait and see dulu terhadap cuaca. Sambil menunggu, petani bisa mempersiapkan mitigasinya, terutama sumber air dan sistem irigasi, sehingga ketika kondisi sudah memungkinkan tanaman bisa segera ditanam,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko































