Tugumalang.id – Kementerian Sosial (Kemensos) mendorong pendekatan yang lebih menyeluruh dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial dengan memperhatikan kebutuhan spiritual dan emosional masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Seminar Nasional yang digelar Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung.
Mengangkat tema “Layanan Pendampingan Spiritual, Emosional, dan Kemanusiaan (Chaplaincy) dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial”, seminar tersebut membahas pentingnya layanan sosial yang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik maupun materi.
Baca Juga: Digitalisasi Bansos Diperluas ke 258 Kabupaten/Kota, Kemensos Dukung Perlinsos Digital
Pendekatan chaplaincy dinilai dapat melengkapi layanan kesejahteraan sosial melalui pendampingan yang turut menyentuh aspek spiritual, emosional, dan kemanusiaan. Dengan pendekatan tersebut, penanganan persoalan sosial diharapkan dapat dilakukan secara lebih komprehensif.

Seminar nasional ini diikuti sekitar 650 peserta dari beragam latar belakang. Mereka antara lain berasal dari sivitas akademika, Kementerian Sosial, praktisi pelayanan sosial, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.
Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, menekankan bahwa penguatan layanan kesejahteraan sosial harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Menurutnya, tenaga yang terlibat dalam pelayanan sosial perlu memiliki wawasan yang luas agar mampu memahami sekaligus merespons kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Kemensos Siagakan Logistik dan Tagana
Peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pendampingan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan penerima layanan.
“Pendamping harus mampu memahami kebutuhan penerima layanan dari berbagai sisi sehingga intervensi yang dilakukan tidak bersifat parsial,” kata Zubaedi saat membuka kegiatan di Auditorium Kampus Poltekesos Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).
Dalam sambutannya, Direktur Poltekesos Suharma menuturkan pengembangan layanan kesejahteraan sosial perlu berjalan seiring dengan pemahaman terhadap berbagai dimensi kehidupan penerima layanan dan perlu melihat manusia secara utuh.
“Tidak hanya persoalan sosial dan fisiknya, tetapi juga kondisi emosional, spiritual, serta kebutuhan untuk mendapatkan dukungan secara manusiawi,” ujar Suharma.
Lebih lanjut, Suharma berharap hasil seminar dapat dituangkan menjadi modul, yang akan menjadi pedoman untuk para pekerja kesejahteraan sosial. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat dikembangkan modul yang dapat menjadi bahan pembelajaran,” katanya.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dan kepakaran dalam penyelenggaraan layanan sosial berbasis pendampingan spiritual, emosional, dan kemanusiaan.
Seperti Peneliti dan Penulis Buku Muslim Chaplaincy Indonesia RR Rhetno Arobiatul Jauzak, dan Ketua Yayasan Anugrah Bhakti Barokah Ecek Karyan.
Kemudian, narasumber lainnya yaitu Anggota Yayasan Pondok Inabah Suryalaya Sri Nurhayati, Anggota Yayasan Welas Asih Eka Sukmawati, serta Sekretaris Pelayanan Wanita Teritorial Elsi Hariyati Sarimin.
Penyampaian materi dimoderatori oleh Wakil Direktur I Bidang Akademik Poltekesos, Lina Favourita Sutiaputri. Sesi seminar berlangsung dalam format dialog interaktif, para peserta tampak antusias sepanjang kegiatan, terlihat dari beberapa peserta yang menyampaikan pandangan dan pertanyaan, sehingga tercipta diskusi yang hangat.
Lina menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam penanganan isu kesejahteraan sosial di lapangan. Ia menuturkan pelayanan sosial tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan aspek fisik atau materi semata.
“Chaplaincy ini adalah pendekatan spiritual dalam menangani masalah kesejahteraan sosial. Jadi, masalah kesejahteraan sosial itu tidak hanya membutuhkan pelayanan yang bersifat fisik atau materi, tetapi juga perlu secara komprehensif,” kata Lina.
Lina mencontohkan dengan pendekatan spiritual yang disentuh lebih awal dapat menggugah kesadaran penerima bantuan sosial (bansos) agar tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah. Perubahan pola pikir ini diyakini mampu membuat penyaluran bansos menjadi lebih tepat sasaran.
“Andaikan spiritualnya dulu yang disentuh, mungkin misalnya bantuan sosial, banyak orang miskin, mungkin kalau spiritualnya sudah disentuh dan memahami makna arti hidup, mungkin dia akan berpikir sendiri, tidak akan mau lama-lama menjadi penerima bantuan sosial,” jelasnya.
Sementara itu, Peneliti dan Penulis Buku Muslim Chaplaincy Indonesia, RR Rhetno Arobiatul Jauzak menyebutkan bahwa pendekatan spiritual berfungsi sebagai pilar pendukung utama untuk memulihkan martabat serta resiliensi para penerima manfaat.
“Dalam pekerjaan sosial kita pun sebetulnya ada yang kita namakan spirituality in social work yang saya kira saat ini kita bisa memberikan perhatian lebih untuk materi ini, dan saya kira ini akan mendukung layanan chaplaincy di Indonesia,” kata Rhetno.
Melalui seminar nasional ini, Poltekesos terus mendorong penguatan kapasitas dan wawasan sivitas akademika serta para pegiat kesejahteraan sosial dalam mengembangkan pendekatan pelayanan yang komprehensif terhadap kebutuhan penerima layanan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Kemensos
Editor: Herlianto. A































