Oleh:
Wahyu Muryadi
WAKTU seolah enggan berjalan tergesa-gesa, mengalir tenang seperti riak air yang menyentuh tepian batu kuno. Rasa syahdu itu ada di Annecy (baca: Annesi), sebuah kota tua di bagian tenggara Prancis yang sering kali dijuluki sebagai Venesia dari Pegunungan Alpen.
Di sini, alam dan sejarah tidak saling mendahului. Keduanya memilih berdansa dalam harmoni yang sunyi, menciptakan simfoni visual yang memikat siapa saja yang datang mencari ketenangan.
Ketika pertama kali menyusuri jalan-jalan berbatu di Vieille Ville (Kota Tua), di penghujung musim panas yang sejuk, medio September baru-baru ini, aroma masa lalu langsung menyergap indra. Rumah-rumah berarsitektur abad pertengahan berdiri anggun. Deretan rumah itu dicat dengan warna-warni pastel yang lembut: merah muda yang memudar oleh zaman, kuning keemasan laksana matahari terbit, dan biru pucat seperti langit musim bersemi.
Baca juga: Surat Imajiner Buat Gus Kikin
Di setiap jendela kayu yang terbuka, rumpun bunga geranium merah menyala menggantung pasrah. Seolah-olah sengaja ditanam untuk mencuri perhatian para pejalan kaki yang tengah terbuai angan dan asmara.
Di tengah-tengah keindahan ini, Kanal Thiou membelah kota tua seperti urat nadi kehidupan. Airnya begitu jernih, memantulkan bayangan langit dan dinding-dinding batu dengan presisi seorang pelukis maestro. Crystal clear. Warna jernihnya mengalir bak guratan batu pualam atau akik kalsedon yang tembus pandang.
Berjalan di sepanjang tepian kanal ini seperti sebuah perjalanan spiritual mini. Suara gemercik air yang membentur fondasi bangunan tua terdengar seperti bisikan rahasia dari abad yang lalu. Menceritakan kisah tentang para bangsawan, pengrajin sutera, dan pelaut yang pernah menggantungkan hidup mereka di kota ini.
Tepat di tengah kanal, berdiri sebuah monumen yang menjadi simbol abadi romantisasi Annecy: Palais de l’Île. Berbentuk menyerupai haluan kapal batu yang membeku di tengah sungai, bangunan dari abad ke-12 ini pernah berfungsi sebagai istana, pengadilan, dan penjara yang dingin.
Namun, saat saya dekati, di bawah siraman cahaya matahari sore, tembok kelabu itu tak lagi tampak menyeramkan. Bangunan yang lebih sepuh dari Keraton Majapahit itu justru terlihat seperti sebuah kastil dongeng yang sengaja diletakkan di sana. Mungkin untuk mengingatkan manusia bahwa keindahan bisa tumbuh dari sudut-sudut sejarah yang paling kelam sekalipun.
Saya coba melangkah lebih jauh ke arah timur. Kota tua akan membuka jalurnya menuju sebuah mahakarya alam yang tiada tanding: Danau Annecy (Lac d’Annecy). Dikenal sebagai salah satu danau termurni di Eropa, atau mungkin terbersih di dunia seperti klaim sang pengemudi perahu kayu yang saya tumpangi. Airnya berwarna yang sulit didefinisikan dengan satu kata—sebuah gradasi magis antara hijau toska yang pekat dan biru safir yang transparan.
Baca juga: Mengupas Sosok Humanis Gus Dur dari Mata Wahyu Muryadi, Eks Kepala Protokol Presiden
Pegunungan Alpen yang memanjang berdiri gagah di latar belakang. Puncaknya yang kadang masih diselimuti salju putih tampak seperti penjaga raksasa yang melindungi kedamaian danau dari hiruk-pikuk dunia luar. Dari bekas gletser berabad silam yang meleleh, semburat di bebatuan granit, lalu mengucurkan air danau yang jernih inilah dahaga para penghuni Annecy dipertaruhkan.
Di tepi danau, terdapat sebuah jembatan kecil yang melengkung indah. Dinaungi pepohonan hijau yang rimbun. Orang-orang menyebutnya Pont des Amours (Jembatan Cinta). Legenda setempat berbisik bahwa sepasang kekasih yang berciuman di tengah jembatan ini akan dipersatukan dalam cinta yang abadi. Amboi asyiknya…
Entah mitos itu nyata atau tidak, atmosfer di sekitar jembatan ini memang dipenuhi oleh aura romansa yang kental. Angin gunung yang berembus lembut membawa aroma air tawar dan daun-daun kering. Sedangkan perahu-perahu kayuh kayu tradisional tertambat malas di dermaga, bergoyang pelan mengikuti ritme ombak kecil.
Saat senja mulai menjemput, Annecy mengubah wajahnya menjadi lebih puitis. Matahari tenggelam di balik dinding-dinding batu pegunungan. Meninggalkan semburat warna jingga, ungu, dan magenta di langit yang perlahan menggelap.
Lampu-lampu kota mulai dinyalakan satu per satu, memancarkan cahaya kuning keemasan yang hangat. Cahaya itu berpendar jatuh ke permukaan kanal dan danau. Menciptakan refleksi yang bergoyang halus laksana ribuan lilin yang dihanyutkan dalam sebuah ritual kedamaian.
Pada jam-jam seperti ini, kafe-kafe di pinggir kanal mulai dipenuhi oleh tawa lirih dan denting gelas anggur. Mereka menikmati sepiring tartiflette hangat—kuliner khas Savoie yang kaya akan keju reblochon—sambil memandangi aliran air. Adalah cara terbaik untuk merayakan kehidupan di Annecy.
Di sini, tidak ada ruang untuk kecemasan hari esok. Kota ini mengajarkan kita untuk hadir sepenuhnya di momen sekarang, momen saat ini. Saat ternyaman untuk menghirup udara pegunungan yang bersih sedalam-dalamnya dan membiarkan keindahan visual menyembuhkan jiwa yang lelah.
Annecy bukan sekadar destinasi geografi yang tertera di atas peta pelancongan. Ia adalah sebuah perasaan. Juga kerinduan yang mendalam akan ketenangan, sebuah pelarian manis ke masa lalu tatkala dunia bergerak lebih lambat dan manusia menghargai detail-detail kecil di sekitar mereka.
Ketika malam akhirnya menutup kota ini dengan selimut bintang, Annecy tidak benar-benar tidur. Ia terus berbisik melalui aliran kanalnya. Seakan berjanji kepada setiap jiwa yang pernah singgah bahwa keindahan sejati akan selalu menanti mereka di sini, di pelukan hangat Pegunungan Alpen Prancis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com































