Malang, Tugumalang.id – Dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) mendorong guru memperkuat pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Upaya itu dilakukan melalui pelatihan dan workshop di SMK Ali Utsman, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Minggu (13/9/2026).
Pelatihan tersebut bertajuk “Pengembangan Modul Berbasis Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Kesiapan Kerja Siswa”.
Kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dunia pendidikan. Teknologi yang dahulu terasa futuristik kini masuk dalam berbagai aktivitas, mulai rekomendasi video di YouTube dan TikTok, penerjemahan otomatis, navigasi digital hingga chatbot layanan pelanggan.
Bagi dunia pendidikan, perkembangan tersebut membuka peluang baru bagi guru untuk bekerja lebih cepat dan kreatif. AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten dalam persiapan pembelajaran, termasuk membantu menyusun modul ajar, soal, dan asesmen.
Pemanfaatan AI bukan untuk menghilangkan peran guru. Guru justru dituntut adaptif dalam menyiapkan pembelajaran yang kreatif dan bermakna.
Workshop itu digagas Program Studi Teknik Informatika (TI) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unikama dan didukung Direktorat Pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DP3M) Unikama.
Kegiatan tersebut digelar untuk menyelaraskan kurikulum dan keterampilan siswa SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri yang kian terintegrasi dengan AI.
Workshop dipandu langsung tim dosen Prodi Teknik Informatika Unikama, yakni Moh. Ahsan, S.Kom., M.T., dan Alexius Endy Budianto, S.Kom., MM. Keduanya memaparkan materi yang memadukan pemahaman konseptual AI hingga implementasi praktis dalam pembuatan modul ajar interaktif.
AI Jadi Asisten dalam Pembelajaran
Dalam paparannya, Moh. Ahsan menyoroti pentingnya literasi dan pemanfaatan AI sejak bangku sekolah kejuruan. Menurut dia, AI bukan lagi teknologi masa depan karena keberadaannya relevan dengan kebutuhan saat ini.
“AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan kebutuhan hari ini. Melalui modul berbasis AI, para siswa diajak untuk tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi mampu memanfaatkan alat bantu AI guna mengasah problem solving, efisiensi kerja dan adaptabilitas di lingkungan profesional,” jelasnya.
Sementara itu, Alexius Endy Budianto menjelaskan perancangan modul praktik kepada para peserta. Siswa dan tenaga pendidik diajak menyusun panduan belajar berbasis studi kasus nyata yang relevan dengan tren industri teknologi saat ini.
Baca juga: Kolaborasi Bersama Diskominfo Kabupaten Malang, Dosen Unikama Beri Edukasi Implementasi Tanda Tangan Elektronik
Materi tersebut mencakup otomatisasi dasar, pemanfaatan generative AI hingga etika pemanfaatan teknologi.
Seorang guru dituntut menyelesaikan berbagai perangkat pembelajaran dalam waktu terbatas. Menyusun ide, membuat materi, menyiapkan soal hingga mengembangkan media pembelajaran juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Di sinilah AI dapat berperan sebagai asisten kreatif. Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat proses, memberikan ide awal, dan mendukung pekerjaan teknis guru.
Beberapa perangkat AI yang diperkenalkan dalam pelatihan itu yakni ChatGPT dan Gemini untuk brainstorming serta riset awal, Canva untuk membuat desain visual, dan Remove.bg untuk membantu menghapus latar belakang gambar.
Dengan bantuan tersebut, guru dapat mengalihkan sebagian waktu dari pekerjaan teknis menuju aktivitas yang lebih membutuhkan kemampuan manusia.
Meski AI mampu menghasilkan teks maupun visual dalam waktu singkat, teknologi tersebut tidak otomatis menggantikan peran manusia.
Materi pelatihan menegaskan AI berfungsi mempercepat proses, memberikan ide awal, dan membantu eksekusi teknis. Sementara itu, manusia tetap menentukan konsep, rasa estetika, keputusan akhir, dan sentuhan personal.
Dengan kata lain, guru tidak harus menjadi ahli teknologi untuk memanfaatkan AI. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami kebutuhan pembelajaran dan mengarahkan teknologi agar menghasilkan sesuatu yang relevan bagi peserta didik.
“AI itu partner kerja, bukan pesaing,” kata Alexius.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam materi pembelajaran AI. Guru masa depan bukan guru yang harus menguasai teknologi seorang diri, melainkan guru yang mampu berkolaborasi dengan teknologi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna.
Pentingnya Prompt dan Etika AI
Pemanfaatan AI juga membutuhkan kemampuan memberikan instruksi yang tepat. Dalam materi tersebut, prompt dijelaskan sebagai perintah atau permintaan yang ditulis kepada AI untuk menghasilkan keluaran tertentu.
Prompt dapat dianalogikan seperti brief yang diberikan kepada seorang desainer. Semakin jelas instruksi yang diberikan, semakin terarah hasil yang diperoleh.
Baca juga: Dosen Unikama Lolos Pendanaan Riset Inovasi BRIN, Teliti Strategi Perkuat Daya Saing UKM Jawa Timur
Guru dapat memberikan konteks berupa subjek, tujuan, gaya, target audiens, warna, ukuran hingga detail yang dibutuhkan. Sebaliknya, prompt yang terlalu singkat dan umum berisiko menghasilkan keluaran yang tidak sesuai kebutuhan.
Karena itu, kemampuan merancang prompt menjadi salah satu keterampilan penting dalam pemanfaatan AI secara efektif.
Kemampuan menggunakan AI juga harus diimbangi sikap kritis. AI dapat menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya salah atau tidak nyata. Kondisi tersebut dikenal sebagai AI hallucination.
Untuk itu, fakta dan data penting yang dihasilkan AI perlu diperiksa kembali sebelum digunakan dalam pekerjaan nyata.
Persoalan etika juga tidak boleh diabaikan. Hasil yang dibuat dengan AI belum tentu bebas dari persoalan hak cipta. Selain itu, menyalin hasil AI secara mentah tanpa proses kreatif dan penyuntingan dapat menimbulkan persoalan plagiarisme.
Artinya, kemampuan menggunakan AI harus berjalan bersama kemampuan memverifikasi informasi dan memahami etika penggunaannya.
Perubahan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
AI dapat membantu guru dalam pekerjaan yang bersifat teknis dan berulang. Namun, hubungan antara guru dan peserta didik, pemahaman terhadap karakter siswa, empati, kreativitas, serta keputusan pedagogis tetap membutuhkan peran manusia.
Kini, menjadi pengguna teknologi yang kritis, kreatif, etis, dan bertanggung jawab menjadi tantangan para guru.
AI mungkin dapat membuat materi dalam hitungan detik. Namun, guru tetap menentukan apa yang harus diajarkan, mengapa harus diajarkan, dan bagaimana pembelajaran tersebut memberikan makna bagi siswa.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko































