Oleh: Dr. Aries Musnandar*
MALANG, Tugumalang.id – Ada bias konseptual yang sering terjadi di tengah masyarakat kita saat mengartikan dunia pendidikan Islam tradisional.
Banyak yang mengira kata santri adalah serapan Arab, padahal ia mewarisi gen kebudayaan Sansekerta pra-Islam, entah dari kata shastri yang memiliki arti orang yang mendalami kitab suci, atau cantrik yakni murid pengikut resi.
Jejak linguistik ini memperlihatkan kejeniusan para penyebar Islam awal di tanah Jawa dalam melakukan pribumisasi ajaran. Mereka tidak meruntuhkan wadah budaya lokal, melainkan mengubah substansi isinya menjadi bernafaskan tauhid.
Baca Juga: Menata Ulang Pencegahan Kekerasan dan Bullying di Pesantren
Secara empiris di lapangan, khususnya dalam dinamika pesantren di Tanah Jawa. Masyarakat juga ditantang untuk jeli membedakan antara pesantren dan pondok.
Berdasarkan pengamatan empiris sosiologi pendidikan di Jawa, relasi keduanya menggambarkan evolusi kultural yang unik. Pesantren, pada hakikatnya, adalah payung besar proses transmisinya: tempat seorang Kyai mentransfer ilmu kitab kuning kepada masyarakat secara cair.
Sementara Pondok yang berasal dari kata funduq yang berarti asrama, masuk sebagai penguat struktur fisik ketika santri-santri dari luar daerah mulai bermukim.
Baca Juga: RMI PBNU Bahas Peran Bu Nyai Wujudkan Pesantren Aman
Realitas di Jawa menunjukkan bahwa tidak semua pesantren melahirkan sistem pondok. Keberadaan Santri Kalong yang pulang-pergi mengaji memperlihatkan betapa menyatunya pesantren dengan ekosistem sosiologis warga sekitar.
Fleksibilitas institusi ini sejalan dengan rangkaian karya tulis ilmiah saya yang berfokus meneliti eksistensi pesantren.
Dalam berbagai publikasi ilmiah yang pernah dirilis, penulis menekankan bahwa pesantren di Indonesia bertindak sebagai laboratorium besar pendidikan karakter sekaligus benteng nasionalisme yang menjaga integritas moral bangsa.
Inilah yang menjadi alasan mengapa peran pesantren begitu penting dan masih relevan di tengah gempuran tren modernisasi global yang cenderung sekuler-pragmatis, pesantren berhasil mempertahankan model pendidikan yang mengintegrasikan etika, nilai spiritual, kearifan lokal, dan praktik komunal.
Sintesis nilai inilah yang membangun resiliensi yani ketahanan sosial masyarakat. Pesantren tidak sekadar mengajarkan ritual keagamaan yang bersifat pasif, melainkan mengasah kedisiplinan dan perdamaian berbasis batiniah (tazkiyatun nafs), menjadikannya episentrum pembentukan moral yang relevan di era digital.
*Penulis adalah dosen Pascasarjana, Universitas Islam Raden Rahmat Malang
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com. Setiap tulisan wajib disertai foto penulisnya.
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News































