Malang, Tugumalang.id – Peternak ayam petelur di Kabupaten Malang mengeluhkan anjloknya harga telur dalam tiga bulan terakhir. Kondisi itu semakin berat karena harga pakan justru terus naik.
Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Wagiman, mengatakan harga telur di tingkat peternak selama tiga bulan terakhir belum mampu memberikan keuntungan.
Menurutnya, harga ideal telur setidaknya berada di kisaran Rp23 ribu-Rp24 ribu per kilogram agar peternak bisa memperoleh keuntungan. Namun, awal September 2026 ini, harga telur di tingkat peternak baru menyentuh Rp21 ribu per kilogram.

Ia menyebut usaha peternakan yang dijalankannya kini hanya berada dalam posisi bertahan. Penghasilan dari penjualan telur digunakan untuk mempertahankan operasional kandang dan memenuhi kebutuhan pakan ayam.
“Kalau harga telur segini, kami nggak dapat keuntungan. Saya sampai menguras tabungan supaya bisa tetap memberi makan ayam-ayam,” kata Wagiman saat ditemui di rumahnya, Rabu (2/9/2026).
Baca juga: Harga Telur Ayam Sekilo di Kota Batu Tembus Rp30 Ribu
Wagiman menyebut, satu bulan lalu harga telur sempat berada di kisaran Rp17 ribu-Rp18 ribu per kilogram. Di sisi lain, biaya produksi justru meningkat. Beberapa bulan terakhir, harga pakan mengalami kenaikan berulang kali.
Wagiman mengatakan harga pakan ayam yang biasa ia gunakan kini mencapai Rp452 ribu per sak dengan berat 50 kilogram. Padahal, sebelumnya harga pakan tersebut hanya berkisar Rp380 ribu-Rp385 ribu per sak.
“Harganya naik bertahap,” kata Wagiman.
Wagiman saat ini memiliki sekitar 2.800 ekor ayam petelur. Dalam sehari, produksi telurnya berkisar 90-100 kilogram.
Telur tersebut dipasarkan ke sejumlah toko, pedagang, hingga pelanggan seperti toko roti dan kafe. Dalam memasarkan telur, ia harus bersaing dengan peternak lainnya, termasuk yang berasal dari luar Malang.
Baca juga: MBG Libur, Harga Kebutuhan Pokok di Kota Malang Serentak Turun
Kondisi pasar yang lesu membuat peternak tidak leluasa menaikkan harga. Wagiman mengatakan dirinya harus menjaga harga agar pelanggan tidak beralih ke pemasok lain.
Menurut Wagiman, salah satu faktor yang membuat harga telur di tingkat peternak anjlok adalah lemahnya penyerapan pasar. Kondisi tersebut diperparah dengan masuknya telur dari luar daerah seperti Blitar.
Di samping itu, lemahnya penyerapan membuat banyak telur peternak lain menumpuk di gudang. Mereka kemudian menjualnya dengan harga murah untuk menghindari kerugian lebih besar akibat telur rusak atau busuk.
“Di gudang itu telur numpuk. Mungkin karena daripada busuk, jadi dijual murah. Ya sudah, jadi harga tambah hancur,” ungkapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko































