Malang, Tugumalang.id – Ahmad Yudhistira membangun restoran Indonesia di Istanbul, Turkiye, dari keterbatasan sebagai perantau. Pengusaha 32 tahun itu kini juga menjalankan bisnis ekspor-impor yang menjangkau pasar internasional.
Perjalanan Ahmad membangun bisnis di luar negeri tidak berlangsung instan. Ada proses panjang yang diwarnai perjuangan, ketidakpastian, hingga pengalaman hidup yang tidak mudah. Salah satu fase paling berat terjadi ketika dirinya masih berstatus mahasiswa di Turkiye.
Saat itu, Ahmad tengah menempuh pendidikan Master of Business Administration (MBA). Di tengah kehidupannya sebagai mahasiswa, ia memutuskan untuk tidak lagi bergantung kepada orang tua di Indonesia.
“Saya ke Turkiye untuk menuntut ilmu. Seketika itu saya harus bertahan hidup di luar negeri. Saya sudah tidak minta (uang) lagi sama orang tua, karena saya punya usaha,” ujar Ahmad.
Keputusan tersebut membuatnya harus mencari cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup di Turkiye. Ahmad kemudian bekerja sebagai kurir makanan. Ia memasak makanan dan mengantarkannya sendiri kepada pelanggan.

Dari aktivitas sederhana itu, muncul keyakinan bahwa dirinya harus memiliki tujuan yang lebih besar. Keyakinan tersebut perlahan diwujudkan. Pada 2022, Ahmad mulai merintis restoran Indonesia di Istanbul.
Usahanya kemudian berkembang menjadi Bakmi Indo, restoran yang berada di kawasan Haseki, Istanbul.
“Saya selalu sampaikan kepada teman-teman bahwa suatu saat kita akan punya restoran Indonesia,” katanya.
Ahmad menyebut bisnis restoran bukan satu-satunya sumber utama penghasilannya. Ia juga membangun perusahaan berbentuk limited company yang bergerak di bidang general trading dan ekspor-impor.
Sejumlah komoditas dari Indonesia dikirim ke Turkiye. Di antaranya arang briket, vanila, rempah-rempah, serta desiccated coconut atau kelapa parut kering.
Sementara itu, restoran Bakmi Indo menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus bagian dari upayanya memperkenalkan kuliner Indonesia di Turkiye.
Jauh sebelum membangun bisnis di Turkiye, Ahmad telah lebih dahulu terjun ke dunia usaha di Indonesia. Latar belakang pendidikannya bahkan bukan dari bidang bisnis. Ia menempuh pendidikan sarjana di bidang hukum.
Namun, dunia bisnis membawanya ke sektor interior design, dekorasi, konstruksi, dan kontraktor. Saat itu, ia telah memiliki puluhan karyawan dengan omzet miliaran rupiah.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika Ahmad memutuskan melanjutkan pendidikan ke Turkiye. Ia tidak hanya membawa pengalaman bisnis, tetapi juga memiliki keinginan untuk memperluas cakupan usahanya ke tingkat internasional.
Baca juga: Ikuti GLC Malang, Peserta Mulai Bidik Bisnis Skala Internasional
Dalam proses tersebut, Ahmad mengenal kelas-kelas bisnis yang digelar business coach Imam Muhajirin Elfahmi atau Coach Fahmi.
Ia pernah mengikuti Grounded Business Coaching (GBC) angkatan 41 sekitar 2018. Bertahun-tahun kemudian, Ahmad kembali mengikuti program Coach Fahmi. Kali ini Grounded Leadership Coaching (GLC) ke-22 yang berlangsung pada Selasa (11/8/2026) hingga Sabtu (15/8/2026) di Malang.
Menurut Ahmad, materi yang diperolehnya dari Coach Fahmi memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan menjalankan bisnis. Bahkan, sejumlah materi bisnis yang pernah dipelajari di Indonesia kembali ditemuinya ketika menempuh pendidikan MBA di Turkiye.
“Materi-materi Ansoff Matrix itu pernah saya pelajari di sini dari Coach Fahmi. Ketika saya belajar di luar negeri, saya mempelajari hal yang sama,” tuturnya.
Ia juga menyebutkan materi-materi lainnya yang membantunya mengembangkan bisnis. Mulai dari Business Model Canvas, analisis kompetitor, hingga pengumpulan data.
Bagi Ahmad, pengalaman mengikuti kelas bisnis tersebut tidak hanya memberikan bekal teknis. Hal yang lebih penting adalah pembentukan mental dan karakter seorang pengusaha.
Setelah mengikuti GLC ke-22, Ahmad mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai kepemimpinan dan skala bisnis. Jika sebelumnya ia cenderung berpikir dalam lingkup lokal, pembelajaran selama GLC membuatnya berani melihat peluang dalam skala internasional.
“GLC ini sangat memberikan manfaat untuk pola pikir saya. Sebelumnya saya hanya berpikir kapasitas lokal. Belajar di GLC membuka pikiran saya untuk beroperasi dengan skala internasional,” katanya.
Menurutnya, salah satu pelajaran penting yang ia dapat adalah mengenai tujuan hidup dan kapasitas seseorang untuk memberikan dampak lebih besar. Perspektif tersebut terasa relevan dengan perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
“Yang paling utama adalah saya diciptakan untuk menjadi siapa. Ternyata kita diciptakan ini bukan untuk menjadi orang yang biasa, untuk menjadi orang yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Ia mengingat salah satu prinsip yang diperolehnya dari Coach Fahmi. Seseorang perlu memiliki mental yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan.
“Saya dapat ilmu di GBC bahwa apa pun yang kita rasakan, struggle kita, kesulitan yang kita alami, itu akan jadi cerita indah nanti ketika kita sudah sukses,” katanya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko




























