Tugumalang.id – Program bantuan sosial (bansos) pemerintah kini diarahkan bukan sekadar untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kementerian Sosial (Kemensos) ingin bantuan dan program pemberdayaan menjadi jalan keluar agar Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bisa perlahan mandiri dan lepas dari ketergantungan bantuan.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan, seluruh program Kemensos pada dasarnya memiliki satu tujuan utama, yakni mengentaskan kemiskinan.
Hal tersebut disampaikannya saat menerima audiensi Bangladesh Rural Advancement Committee (BRAC) di Kantor Kemensos, Selasa (11/8/2026).
Menurut Agus, pemerintah memang memiliki berbagai instrumen untuk mengatasi kemiskinan, mulai dari bansos hingga program Sekolah Rakyat. Namun, program-program tersebut harus tetap diarahkan pada tujuan akhir yang sama: membantu masyarakat keluar dari kemiskinan.
“Mau pakai Sekolah Rakyat, mau pakai bansos, mau pakai apa pun, tujuannya adalah pengentasan kemiskinan,” ujar Agus.
Pendamping Sosial Jadi Kunci
Kemensos juga terus mengevaluasi berbagai faktor yang membuat upaya pengentasan kemiskinan belum maksimal. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah peran pendamping sosial yang berada dekat dengan KPM.

Pendamping tidak hanya dituntut memastikan bantuan tersalurkan dengan baik. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu membantu KPM menyusun langkah agar kondisi ekonomi keluarga bisa meningkat hingga akhirnya mandiri.
Karena itu, pola pikir pendamping sosial juga perlu bergeser. Orientasinya tidak berhenti pada “bagaimana bantuan sampai ke penerima”, tetapi berkembang menjadi “bagaimana penerima bisa keluar dari kondisi yang membuat mereka membutuhkan bantuan.”
Pendekatan Graduasi BRAC
Pendekatan graduasi BRAC menjadi salah satu model yang dapat dipelajari untuk memperkuat proses tersebut. Apalagi pendekatan tersebut telah diterapkan dalam program penanggulangan kemiskinan di berbagai negara.
Pendekatan graduasi ini merupakan proses peningkatan kesejahteraan yang dilakukan secara bertahap, terukur, memiliki batas waktu, dan disertai pendampingan intensif.
BRAC menyederhanakan komponen utamanya dalam konsep ABC, yakni asset, basic needs, dan coaching.
“Yang berbeda dari pendekatan graduasi ini adalah intervensinya dilakukan secara berurutan. Pendampingannya dan ada batas waktunya,” ujar Abdurrahman Syebubakar, Country Lead BRAC Indonesia.
Kriteria graduasi juga harus disusun secara jelas sehingga KPM tidak dinyatakan mandiri hanya karena telah selesai menerima suatu program.
“Jadi kriteria graduasi itu menjadi sangat penting. Jangan sampai nanti divonis tergraduasi. Misalnya tergraduasi dari program, atau tergraduasi dari skema yang komprehensif ini. Kemudian minggu depan mereka balik lagi turun miskin. Itu tidak boleh terjadi,” kata Abdurrahman.
Dari sisi upaya pemberdayaan, pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah terkait perlu terlibat secara aktif sesuai kebutuhan KPM. Transformasi pengentasan kemiskinan juga perlu dimulai dengan mengetahui secara tepat persoalan yang terjadi di dalam sistem, kemudian menentukan intervensi yang sesuai.
“Ini hal yang baik buat kita untuk transformasi. Istilah lain dari revolusi adalah transformasi yang dipercepat,” ucap Agus Jabo menutup audiensi.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Lead Policy and Implementation Puji D. Antono, Lead MEL and Research Tania Warokka, serta Program Coordinator Zulkifli Kahar.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Kemensos
Editor: Herlianto. A


























