Malang, Tugumalang.id – Tim dosen Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan alat deteksi dini ketergantungan AI pada remaja. Instrumen itu juga mengukur gejala penurunan kemampuan berpikir.
Instrumen bernama Skala Asesmen AI-Dependency & Cognitive Atrophy (AI-DCA) tersebut dikembangkan tim yang dipimpin Prof. Dr. Arbin Janu Setiyowati, M.Pd dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM.
AI-DCA dirancang mengenali tanda awal ketergantungan AI dan cognitive atrophy, yakni penurunan kapasitas berpikir akibat pelimpahan beban kognitif secara berlebihan kepada algoritma.

Menurut Prof. Arbin, pola interaksi manusia dengan AI kini telah berubah sehingga instrumen lama tidak lagi memadai untuk membaca persoalan tersebut.
“Remaja saat ini hidup dalam realitas yang berbeda. Mereka bukan hanya sekadar ‘kecanduan gawai’, tetapi mulai kehilangan kemampuan berpikir mandiri karena segala sesuatu ditanyakan dan dikerjakan oleh AI.”
Baca juga: Inovasi UM, Skala Persepsi Teacher Toxicity sebagai Solusi Baru untuk Pendidikan Berkualitas
Selama ini, alat ukur yang tersedia lebih banyak berfokus pada kecanduan internet secara umum. Padahal, instrumen tersebut dinilai belum mampu menangkap fenomena baru.
Seperti menurunnya self-efficacy maupun generative imposter phenomenon, yaitu perasaan tidak percaya diri karena tugas dan pekerjaan lebih banyak diselesaikan oleh mesin.
Karena itu, AI-DCA tidak hanya mengukur intensitas penggunaan AI, tetapi juga dampaknya terhadap daya ingat, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis yang menjadi indikator utama cognitive atrophy.
Pengembangan instrumen tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yakni Pendidikan Berkualitas.
Sejumlah kajian literatur global menunjukkan AI mampu meningkatkan personalisasi pembelajaran, tetapi penyalahgunaannya berpotensi memperlebar kesenjangan, sekaligus menurunkan kemampuan intelektual apabila tidak diimbangi etika dan infrastruktur yang memadai.
Prof. Arbin menegaskan, pengembangan AI-DCA merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Ini adalah investasi jangka panjang. Kami tidak hanya membuat alat ukur, tetapi menyelamatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Jika dibiarkan, kita akan melahirkan generasi yang pintar menggunakan AI tetapi lemah dalam berpikir.”
Baca juga: Transformasi Pembelajaran di Era Digital, Tim Dosen UM Gelar Asistensi Pembuatan Media Pembelajaran Micro Learning
Ke depan, AI-DCA siap diterapkan di berbagai institusi pendidikan sebagai instrumen deteksi dini untuk mencegah degradasi intelektual maupun masalah kesehatan mental pada remaja.
Melalui asesmen tersebut, sekolah dan orang tua diharapkan dapat melakukan intervensi lebih awal sebelum dampak cognitive atrophy maupun fenomena brain rot berkembang semakin jauh.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Tim dosen FIP Universitas Negeri Malang
editor: jatmiko


























