Rabu, Juli 15, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia

Redaksi by Redaksi
Juli 15, 2026 6:17 pm
in News
Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia

Ilustrasi fenomena heat dome. Foto: iStock

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Fenomena heat dome yang memicu suhu udara di atas 40 derajat Celsius di sejumlah negara Eropa belakangan ini kecil kemungkinannya terjadi di Indonesia. Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan membuat panas lebih mudah dilepaskan ke atmosfer sehingga tidak mudah terperangkap.

Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph.D., mengatakan kondisi geografis Indonesia menjadi faktor utama yang membedakannya dengan kawasan seperti Eropa maupun Amerika Utara. Luas perairan di Indonesia membantu proses sirkulasi udara dan penguapan sehingga akumulasi panas tidak berlangsung seperti di wilayah daratan yang sangat luas.

READ ALSO

Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

Wali Kota Batu Sidak MPLS, Pastikan Hari Ketiga Berjalan Aman dan Bebas Bullying

“Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas,” jelas dia, Kamis (15/7/2026).

Baca juga: 5 Rekomendasi Bahan Pakaian untuk Cuaca Panas, Adem dan Nyaman Dipakai

Heat Dome Terjadi karena Panas Terperangkap

Prof. Adi menjelaskan, heat dome merupakan fenomena ketika tekanan udara tinggi membentuk semacam kubah yang menghambat sirkulasi udara. Akibatnya, panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terus terperangkap dan terakumulasi hingga memicu kenaikan suhu permukaan secara ekstrem.

“Heat dome itu ibaratnya seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir serupa dengan efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu,” jelasnya.

Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia
Akademisi Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph. D. Foto: Dok

Menurut dia, fenomena tersebut lebih sering muncul di wilayah lintang menengah hingga lintang tinggi, seperti Eropa dan Amerika Utara. Karakteristik sirkulasi atmosfer serta bentang daratan yang luas membuat panas bertahan lebih lama dibandingkan di negara kepulauan.

“Di Eropa daratannya sangat luas. Panas menjadi lebih mudah terakumulasi dan sulit dilepaskan. Karena itu heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan negara kepulauan seperti Indonesia,” ujarnya.

Prof. Adi menambahkan, heat dome bukan fenomena yang mudah diprediksi karena dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer yang terus berubah. Namun, wilayah dengan daratan luas dan berada di lintang tinggi memiliki peluang lebih besar mengalaminya.

Berbeda dengan Gelombang Panas

Ia menegaskan, heat dome tidak sama dengan heat wave atau gelombang panas. Gelombang panas hanya menunjukkan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, sedangkan heat dome terjadi ketika lapisan tekanan tinggi memerangkap udara panas sehingga suhu meningkat jauh lebih ekstrem.

“Dalam heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa,” katanya.

Baca juga: Viral! Wisatawan Jepang Soroti Bau Asap Rokok Saat Berendam di Pemandian Air Panas Cangar

Tetap Waspadai Radiasi Matahari

Meski peluang heat dome terjadi di Indonesia sangat kecil, Prof. Adi mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai paparan panas matahari, terutama saat intensitas radiasi meningkat pada musim kemarau. Risiko yang lebih mungkin dihadapi masyarakat Indonesia adalah paparan sinar ultraviolet yang dapat mengganggu kesehatan jika terlalu lama beraktivitas di luar ruangan.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas ketika cuaca sangat terik, menggunakan topi, pakaian pelindung, serta tabir surya untuk mengurangi risiko akibat paparan sinar matahari.

Selain itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi mengenai cuaca ekstrem yang beredar di media sosial. Informasi tersebut sebaiknya diverifikasi melalui sumber resmi, seperti BMKG maupun instansi pemerintah terkait.

“Masyarakat perlu bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya karena justru dapat menimbulkan kepanikan,” pungkas dia.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko

Tags: Akademisi UBBMKGefek rumah kacafenomena alamheat domeheat waveperubahan iklimUB Malanguniversitas brawijaya

Related Posts

Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang
News

Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

Rabu, 15 Jul 2026
Wali Kota Batu Sidak MPLS, Pastikan Hari Ketiga Berjalan Aman dan Bebas Bullying
News

Wali Kota Batu Sidak MPLS, Pastikan Hari Ketiga Berjalan Aman dan Bebas Bullying

Rabu, 15 Jul 2026
Prakiraan Cuaca Malang Rabu 15 Juli 2026: Didominasi Cerah Berawan, Lowokwaru dalam Kondisi Udara Kabur
News

Prakiraan Cuaca Malang Rabu 15 Juli 2026: Didominasi Cerah Berawan, Lowokwaru dalam Kondisi Udara Kabur

Rabu, 15 Jul 2026
29 SD Negeri di Kota Malang Kekurangan Siswa
News

29 SD Negeri di Kota Malang Kekurangan Siswa

Selasa, 14 Jul 2026
Getok Parkir hingga Karcis Bekas, Aksi Jukir Problematik Kembali Coreng Wisata Kota Batu
News

Getok Parkir hingga Karcis Bekas, Aksi Jukir Problematik Kembali Coreng Wisata Kota Batu

Selasa, 14 Jul 2026
Tak Dilibatkan Jelang TKD, Karang Taruna Kecamatan se-Kota Malang Layangkan Surat Terbuka
News

Jelang TKD, Lima Karang Taruna Kecamatan di Kota Malang Layangkan Surat Terbuka ke PNKT dan Wali Kota

Selasa, 14 Jul 2026
Next Post
Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

BERITA POPULER

  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.