Tugumalang.id – Fenomena heat dome yang memicu suhu udara di atas 40 derajat Celsius di sejumlah negara Eropa belakangan ini kecil kemungkinannya terjadi di Indonesia. Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan membuat panas lebih mudah dilepaskan ke atmosfer sehingga tidak mudah terperangkap.
Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph.D., mengatakan kondisi geografis Indonesia menjadi faktor utama yang membedakannya dengan kawasan seperti Eropa maupun Amerika Utara. Luas perairan di Indonesia membantu proses sirkulasi udara dan penguapan sehingga akumulasi panas tidak berlangsung seperti di wilayah daratan yang sangat luas.
“Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas,” jelas dia, Kamis (15/7/2026).
Baca juga: 5 Rekomendasi Bahan Pakaian untuk Cuaca Panas, Adem dan Nyaman Dipakai
Heat Dome Terjadi karena Panas Terperangkap
Prof. Adi menjelaskan, heat dome merupakan fenomena ketika tekanan udara tinggi membentuk semacam kubah yang menghambat sirkulasi udara. Akibatnya, panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terus terperangkap dan terakumulasi hingga memicu kenaikan suhu permukaan secara ekstrem.
“Heat dome itu ibaratnya seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir serupa dengan efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu,” jelasnya.

Menurut dia, fenomena tersebut lebih sering muncul di wilayah lintang menengah hingga lintang tinggi, seperti Eropa dan Amerika Utara. Karakteristik sirkulasi atmosfer serta bentang daratan yang luas membuat panas bertahan lebih lama dibandingkan di negara kepulauan.
“Di Eropa daratannya sangat luas. Panas menjadi lebih mudah terakumulasi dan sulit dilepaskan. Karena itu heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan negara kepulauan seperti Indonesia,” ujarnya.
Prof. Adi menambahkan, heat dome bukan fenomena yang mudah diprediksi karena dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer yang terus berubah. Namun, wilayah dengan daratan luas dan berada di lintang tinggi memiliki peluang lebih besar mengalaminya.
Berbeda dengan Gelombang Panas
Ia menegaskan, heat dome tidak sama dengan heat wave atau gelombang panas. Gelombang panas hanya menunjukkan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, sedangkan heat dome terjadi ketika lapisan tekanan tinggi memerangkap udara panas sehingga suhu meningkat jauh lebih ekstrem.
“Dalam heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa,” katanya.
Baca juga: Viral! Wisatawan Jepang Soroti Bau Asap Rokok Saat Berendam di Pemandian Air Panas Cangar
Tetap Waspadai Radiasi Matahari
Meski peluang heat dome terjadi di Indonesia sangat kecil, Prof. Adi mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai paparan panas matahari, terutama saat intensitas radiasi meningkat pada musim kemarau. Risiko yang lebih mungkin dihadapi masyarakat Indonesia adalah paparan sinar ultraviolet yang dapat mengganggu kesehatan jika terlalu lama beraktivitas di luar ruangan.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas ketika cuaca sangat terik, menggunakan topi, pakaian pelindung, serta tabir surya untuk mengurangi risiko akibat paparan sinar matahari.
Selain itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi mengenai cuaca ekstrem yang beredar di media sosial. Informasi tersebut sebaiknya diverifikasi melalui sumber resmi, seperti BMKG maupun instansi pemerintah terkait.
“Masyarakat perlu bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya karena justru dapat menimbulkan kepanikan,” pungkas dia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko
























