Rabu, Oktober 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia

M Ulul Azmy by M Ulul Azmy
Juli 15, 2026 6:17 pm
in News
Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia

Ilustrasi fenomena heat dome. Foto: iStock

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Fenomena heat dome yang memicu suhu udara di atas 40 derajat Celsius di sejumlah negara Eropa belakangan ini kecil kemungkinannya terjadi di Indonesia. Karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan membuat panas lebih mudah dilepaskan ke atmosfer sehingga tidak mudah terperangkap.

Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph.D., mengatakan kondisi geografis Indonesia menjadi faktor utama yang membedakannya dengan kawasan seperti Eropa maupun Amerika Utara. Luas perairan di Indonesia membantu proses sirkulasi udara dan penguapan sehingga akumulasi panas tidak berlangsung seperti di wilayah daratan yang sangat luas.

READ ALSO

DPRD Kota Malang Dorong Regulasi Penataan Kabel Semrawut

DPRD Kabupaten Malang Temukan Masalah Penyerahan PSU Perumahan di Pakis

“Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas,” jelas dia, Kamis (15/7/2026).

Baca juga: 5 Rekomendasi Bahan Pakaian untuk Cuaca Panas, Adem dan Nyaman Dipakai

Heat Dome Terjadi karena Panas Terperangkap

Prof. Adi menjelaskan, heat dome merupakan fenomena ketika tekanan udara tinggi membentuk semacam kubah yang menghambat sirkulasi udara. Akibatnya, panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terus terperangkap dan terakumulasi hingga memicu kenaikan suhu permukaan secara ekstrem.

“Heat dome itu ibaratnya seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir serupa dengan efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu,” jelasnya.

Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia
Akademisi Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph. D. Foto: Dok

Menurut dia, fenomena tersebut lebih sering muncul di wilayah lintang menengah hingga lintang tinggi, seperti Eropa dan Amerika Utara. Karakteristik sirkulasi atmosfer serta bentang daratan yang luas membuat panas bertahan lebih lama dibandingkan di negara kepulauan.

“Di Eropa daratannya sangat luas. Panas menjadi lebih mudah terakumulasi dan sulit dilepaskan. Karena itu heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan negara kepulauan seperti Indonesia,” ujarnya.

Prof. Adi menambahkan, heat dome bukan fenomena yang mudah diprediksi karena dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer yang terus berubah. Namun, wilayah dengan daratan luas dan berada di lintang tinggi memiliki peluang lebih besar mengalaminya.

Berbeda dengan Gelombang Panas

Ia menegaskan, heat dome tidak sama dengan heat wave atau gelombang panas. Gelombang panas hanya menunjukkan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, sedangkan heat dome terjadi ketika lapisan tekanan tinggi memerangkap udara panas sehingga suhu meningkat jauh lebih ekstrem.

“Dalam heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa,” katanya.

Baca juga: Viral! Wisatawan Jepang Soroti Bau Asap Rokok Saat Berendam di Pemandian Air Panas Cangar

Tetap Waspadai Radiasi Matahari

Meski peluang heat dome terjadi di Indonesia sangat kecil, Prof. Adi mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai paparan panas matahari, terutama saat intensitas radiasi meningkat pada musim kemarau. Risiko yang lebih mungkin dihadapi masyarakat Indonesia adalah paparan sinar ultraviolet yang dapat mengganggu kesehatan jika terlalu lama beraktivitas di luar ruangan.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas ketika cuaca sangat terik, menggunakan topi, pakaian pelindung, serta tabir surya untuk mengurangi risiko akibat paparan sinar matahari.

Selain itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi mengenai cuaca ekstrem yang beredar di media sosial. Informasi tersebut sebaiknya diverifikasi melalui sumber resmi, seperti BMKG maupun instansi pemerintah terkait.

“Masyarakat perlu bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya karena justru dapat menimbulkan kepanikan,” pungkas dia.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko

Tags: Akademisi UBBMKGefek rumah kacafenomena alamheat domeheat waveperubahan iklimUB Malanguniversitas brawijaya

Related Posts

DPRD Kota Malang Dorong Regulasi Penataan Kabel Semrawut
News

DPRD Kota Malang Dorong Regulasi Penataan Kabel Semrawut

Senin, 12 Okt 2026
DPRD Kabupaten Malang Temukan Masalah Penyerahan PSU Perumahan di Pakis
News

DPRD Kabupaten Malang Temukan Masalah Penyerahan PSU Perumahan di Pakis

Senin, 12 Okt 2026
KH Marzuqi Mustamar Mengaku Batal Umrah karena Tak Diizinkan Masuk Arab Saudi
News

KH Marzuqi Mustamar Mengaku Batal Umrah karena Tak Diizinkan Masuk Arab Saudi

Minggu, 11 Okt 2026
Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Malang Dimakamkan Setelah 4 Minggu
News

Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Malang Dimakamkan Setelah 4 Minggu

Minggu, 11 Okt 2026
Ketum PPI Dukung Tagline Baru Polri Polisi Bersama Masyarakat
News

Ketum PPI Dukung Tagline Baru Polri Polisi Bersama Masyarakat

Minggu, 11 Okt 2026
Konsumsi BBM Malang 720 Kiloliter per Hari, Pertamina Tambah Distribusi Akhir Pekan
News

Konsumsi BBM Malang 720 Kiloliter per Hari, Pertamina Tambah Distribusi Akhir Pekan

Sabtu, 10 Okt 2026
Next Post
Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

Libur Sekolah 2026 Dongkrak Wisata Kota Batu, Kunjungan Tembus 340.600 Orang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.