Oleh: Rohim Warisi*

Aku yang kehilangan lima ribu itu.
Uangnya kusimpan di sela kitab. Di pondok, tempat paling aman menyimpan uang memang kitab. Pencuri biasanya malas membuka kitab. Mereka lebih suka membuka lemari, saku baju, kantong celana, atau tas teman yang resletingnya rusak.
Tapi Fadhil berbeda. Ia mencuri dari kitabku.
Bagi orang rumah, mungkin lima ribu uang kecil. Bagi santri pondok, lima ribu bisa berarti es teh, gorengan dua, dan sedikit perasaan bahwa hidup masih bisa diajak baik-baik meskipun lauk dapur cuma tahu yang lebih banyak anginnya daripada rasanya.
Baca juga: Kresek Kecil yang Dibawa Bapak
Sejak hari itu aku benci Fadhil.
Sebelumnya, ia hanya santri rusuh di mataku. Namanya paling sering masuk buku pelanggaran: terlambat jamaah, tidur saat ngaji, merokok di belakang kamar mandi, kabur malam-malam, berkelahi, melawan pengurus. Hampir semua aturan pernah ia langgar.
Tetapi setelah uangku hilang, Fadhil bukan lagi sekadar santri nakal. Ia pencuri, dan pencuri di pondok tidak cukup hanya dihukum; ia harus dibuat kapok. Setidaknya begitu pikirku waktu itu.
Malam itu Fadhil dibawa ke kantor keamanan. Aku berdiri di dekat pintu, pura-pura tidak ingin melihat, padahal ingin sekali. Di dalam, para pengurus duduk mengelilingi meja. Buku pelanggaran terbuka. Pulpen siap. Kopi tinggal ampas. Wajah mereka kusut, seperti orang kurang tidur yang tetap ingin dihormati.
“Ngaku!” bentak salah satu keamanan.
Fadhil menunduk.
“Uangnya buat apa?”
“Beli nasi, Kang.”
“Bukannya tadi sudah makan?”
“Sudah.”
“Terus?”
Fadhil diam sebentar.
“Laparnya datang lagi.”
Beberapa anak di luar tertawa kecil. Salah satu pengurus memukul meja.
“Lapar bukan alasan buat nyolong, Dil!”
Aku tidak kasihan. Di telingaku, jawaban itu terdengar seperti alasan murahan anak nakal yang kehabisan akal. Kalau lapar, ya bilang. Kalau tidak punya uang, ya pinjam. Kalau kurang, ya minta ke orang tua. Sesederhana itu pikirku waktu itu. Jangan mencuri dari kitab orang. Apalagi kitabku.
Malam itu namanya ditulis besar-besar di buku pelanggaran.
Fadhil mencuri uang teman.
Setelah itu hukuman dimulai. Mula-mula ia disuruh membersihkan kamar mandi. Lalu berdiri di depan aula. Lalu membaca istighfar keras-keras. Setiap kali suaranya mengecil, pengurus menyuruhnya mengulang dari awal.
“Kalau salah, jangan pura-pura lemah.”
Aku melihat dari jauh. Ada rasa puas. Tapi marahku belum juga reda. Lima ribuku memang tidak kembali, tapi setidaknya Fadhil merasakan akibatnya.
Baca juga: Rama dan Sinta (Bukan dalam Wayang)
Keamanan pondok memang begitu. Santri yang salah dibawa ke kantor. Membantah dibentak. Diam dianggap menantang. Menangis pun dibilang drama. Rasanya selalu ada cara agar seseorang tetap terlihat salah.
Tapi malam itu aku tidak peduli. Sebab kerasnya mereka sedang berpihak kepadaku.
Setelah kejadian itu, setiap melihat Fadhil, aku tidak lagi melihat santri nakal. Aku melihat tangannya. Tangan yang pernah masuk ke kitabku dan mengambil uangku.
Pernah suatu siang ia duduk di tangga kamar, sendirian. Aku lewat sambil membawa ember.
“Balekno limang ewu-ku,” kataku.
Ia menoleh sebentar.
“Nanti, Kang.”
“Nanti kapan?”
Ia diam.
Aku mendengus.
“Pencuri kok punya nanti.”
Ia tidak menjawab. Hanya menunduk lagi, seperti biasa.
Beberapa minggu kemudian, liburan diumumkan. Kamar langsung ramai. Santri mulai mencuci baju, menghitung tanggal, menunggu kiriman ongkos, dan membicarakan makanan rumah seolah-olah surga punya bentuk sambal buatan ibu.
Fadhil tidak ikut ramai.
Hari pertama liburan, saat aku dijemput, Fadhil masih duduk di tangga depan kamar dengan tas kecil di dekat kakinya. Tas itu lebih mirip tas mengaji daripada tas liburan.
Aku melihatnya, tapi tidak peduli. Bagiku, pencuri memang tidak perlu dikasihani.
Aku tidak tahu kapan ia benar-benar pulang. Yang kutahu, ketika aku kembali ke pondok sesuai jadwal, Fadhil sudah lebih dulu ada di kasur pojoknya. Tas kecilnya tergeletak dekat kaki, belum dibuka, seperti ia hanya pergi sebentar lalu cepat-cepat kembali.
“Lho, kamu balik duluan?”
Fadhil mengangkat bahu.
“Daripada telat,” jawabnya.
Anak-anak tertawa.
Aku juga.
Waktu itu, jawaban itu terdengar seperti gaya Fadhil yang biasa: seenaknya, menyebalkan, dan tidak jelas. Aku tidak berpikir macam-macam. Bagiku, pencuri memang selalu punya cara membuat hidupnya terdengar ringan.
Malam ketika Fadhil tidak kembali, awalnya kami mengira ia kabur seperti biasa. Biasanya ia keluar lewat pagar dapur, membeli rokok di warung ujung jalan, lalu kembali sebelum subuh dengan wajah seolah baru selesai menjalankan tugas negara.
Tapi malam itu berbeda.
Ia tidak ada saat absensi kamar. Tidak ada di masjid. Tidak ada di kamar mandi, dapur, aula, atau halaman belakang. Sandalnya hilang. Lemarinya terbuka sedikit, seperti ditinggalkan tergesa-gesa.
Pengurus mulai gelisah. Buku pelanggaran masih terbuka di meja keamanan, pada halaman yang beberapa kali memuat namanya.
Malam itu aku ikut mencari sampai lewat tengah malam, tapi Fadhil tidak kembali seperti biasanya. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat orang-orang menunggu Fadhil bukan untuk menghukumnya.
Ustaz pembina menghubungi nomor keluarganya dari data santri. Kami menunggu di depan kantor keamanan. Malam dingin. Para pengurus yang biasanya sibuk menyuruh orang berdiri, malam itu justru lebih banyak diam.
Aku hanya mendengar potongan suara ustaz.
“Iya, Pak.”
“Belum pulang?”
“Kami masih cari.”
Lalu diam panjang.
Setelah telepon ditutup, salah satu pengurus bertanya, “Bapaknya bilang apa, Ustaz?”
Ustaz menatap halaman pondok yang gelap.
“Katanya kalau Fadhil pulang, suruh balik saja ke pondok.”
Tidak ada yang tertawa.
Bahkan pengurus yang dulu memukul meja saat Fadhil dihukum hanya menunduk, memainkan pulpen di tangannya.
Aku juga diam. Bukan karena langsung kasihan. Jujur saja, waktu itu aku masih bingung harus merasa apa. Sebagian diriku masih ingat lima ribu. Sebagian lain mulai merasa ada yang tidak beres, tapi belum tahu letaknya di mana.
Baca juga: Anjali dan Hal yang Tidak Kembali
Hari ketiga, barang-barangnya mulai dibereskan. Aku ikut masuk ke kamarnya, entah karena penasaran, entah karena masih merasa punya urusan dengan uangku yang hilang.
Lemarinya hampir kosong. Beberapa baju, peci pudar, sarung lusuh, dan plastik kecil berisi uang receh. Bahkan kalau semua receh itu dikumpulkan, mungkin belum tentu cukup untuk mengganti lima ribuku.
Di sela tumpukan kitab, salah satu pengurus menemukan surat izin pulang dari liburan sebelumnya. Kertasnya lecek, bekas dilipat berkali-kali. Di bagian atas tertulis nama Fadhil, kelasnya, tanggal pulang, dan tanggal kembali ke pondok.
Tanggal pulangnya dibiarkan begitu saja. Yang dilingkari Fadhil malah tanggal kembali ke pondok.
Di bawahnya ada coretan kecil dengan pulpen biru: “Balik pondok jangan telat.”
Aku membaca kalimat itu lama.
Kamar itu mendadak terasa sempit. Kasur pojok tempat Fadhil biasa tidur kelihatan biasa saja, tapi entah kenapa aku merasa seolah-olah baru melihatnya untuk pertama kali.
Aku tidak menangis. Aku juga tidak tiba-tiba menjadi orang baik. Aku tetap ingat uangku hilang. Aku tetap tahu mencuri itu salah. Kalau besok ada orang mengambil uangku lagi, mungkin aku tetap marah seperti dulu.
Tapi sejak melihat surat itu, lima ribuku terasa tidak sebesar sebelumnya.
Barangkali Fadhil tidak bosan di rumah. Barangkali ia hanya tidak tahu cara mengatakan bahwa ia ingin kembali ke tempat yang setiap minggu menghukumnya, karena tempat lain yang disebut rumah terasa lebih jauh darinya.
Pondok tetap berjalan seperti biasa. Subuh tetap berjamaah. Ngaji tetap berlangsung. Dapur tetap mengepul. Santri yang terlambat tetap dihukum. Buku pelanggaran tetap dibuka setiap malam.
Nama Fadhil tetap ada di sana: pencuri, perokok, pembolos, pembangkang. Semuanya benar. Tidak ada yang palsu. Buku itu tidak berbohong.
Hanya saja, buku itu terlalu kecil untuk menulis semua hal yang tidak sempat kami tanyakan. Ia punya kolom nama, kelas, pelanggaran, dan hukuman. Tapi tidak punya kolom untuk menulis takut pulang.
Dulu aku mengira buku pelanggaran adalah tempat mencatat santri yang susah diatur.
Setelah Fadhil pergi, aku baru tahu, kadang buku itu juga mencatat hal-hal yang gagal kami mengerti.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Khodimul Ma’had
Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin Sukosari
editor: jatmiko























