Kamis, Juli 9, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Cologne, Katedral dan Masjid 

Redaksi by Redaksi
Juli 9, 2026 10:56 pm
in Catatan
Cologne,  Katedral, dan Masjid 

Didit Saleh menikmati suasana kota Cologne (Köln), Jerman. Foto/Didit Saleh

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Didit Saleh *

Tugumalang.id – Salah satu kota yang paling menarik untuk dikunjungi di Jerman adalah Cologne (Köln), sebuah kota yang terletak di tepi Sungai Rhein dan dikenal sebagai salah satu pusat sejarah, budaya, dan perdagangan terpenting di negara ini.

READ ALSO

Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik

Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan

Berbeda dengan banyak kota lain yang identitasnya hanya bertumpu pada masa lalu atau modernitas semata, Cologne memperlihatkan bagaimana sejarah panjang, kehidupan perkotaan modern, dan keberagaman masyarakat dapat bertemu dalam satu ruang yang harmonis.

Baca Juga: Kassel, Kota yang Menyimpan Luka

Saya pertama kali mengunjungi Cologne pada tahun 2024 dalam rangka perjalanan pekerjaan. Saat itu saya tiba di Cologne Hauptbahnhof (Hbf), stasiun utama yang berada tepat di samping Katedral Cologne.

Saya sempat berhenti sejenak dan mengambil foto dengan latar belakang Katedral Cologne yang megah, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Bonn sekitar tiga puluh menit dari Cologne untuk menghadiri serangkaian pertemuan.

Saat itu saya datang sendirian sebagai bagian dari tugas pekerjaan dengan jadwal yang padat dan waktu yang sangat terbatas untuk benar benar menikmati kota ini.

Di sela perjalanan tersebut sebelum meninggalkan Cologne menuju Berlin saya masih mengingat satu momen yang cukup personal. Saya berdiri tidak jauh dari katedral, memandang langit, dan dalam hati berdoa.

Cologne,  Katedral, dan Masjid 
Didit Saleh bersama keluarga di kota Cologne (Köln), Jerman. Foto/Didit Saleh

Saya berharap suatu saat dapat kembali ke kota ini bukan lagi dalam rangka pekerjaan melainkan bersama keluarga kecil saya, istri dan putri saya, untuk menikmati suasana Cologne dengan lebih tenang dan utuh. Harapan itu saya simpan diam diam tanpa banyak kata, hanya menjadi sebuah doa kecil yang saya titipkan pada waktu.

Setahun kemudian pada November  2025 saya kembali berdiri di tempat yang hampir sama. Namun kali ini suasananya berbeda. Saya tidak lagi sendiri. Istri dan putri saya berada di sisi saya.

Baca Juga: Berbicara di Kantor Rosa Luxemburg Stiftung

Kami berjalan bersama menikmati kota tanpa tekanan agenda pekerjaan. Pada saat itu saya merasakan bahwa perjalanan yang dulu hanya berupa harapan pelan pelan menemukan bentuknya sendiri dalam realitas.

Di momen itu saya teringat sebuah ungkapan yang saya kenal sejak belajar di Pondok Pesantren Sukorejo, Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil.

Ungkapan ini tidak lagi saya pahami sebagai kalimat motivasi sederhana, tetapi sebagai cara hidup yang bekerja pelan, sering tidak terlihat, namun meninggalkan jejak dalam perjalanan panjang manusia.

Ada usaha yang tidak langsung terlihat hasilnya, ada doa yang tidak langsung dijawab, dan ada waktu yang baru mempertemukan semuanya setelah kita hampir lupa pernah memintanya.

Di hadapan kami berdiri Katedral Cologne (Kölner Dom), bangunan megah bergaya Gotik yang menjadi simbol kota ini. Dengan dua menara setinggi lebih dari 150 meter, katedral tersebut menjadi salah satu gereja terbesar di Eropa dan situs warisan dunia UNESCO.

Pembangunannya dimulai pada abad ke 13 dan baru selesai lebih dari enam abad kemudian. Katedral ini menjadi simbol ketekunan manusia dalam membangun sesuatu yang melampaui satu generasi.

Ketika memandang bangunan tersebut saya tidak hanya melihat sebuah karya arsitektur yang luar biasa. Saya juga melihat sebuah pelajaran bahwa hal hal besar membutuhkan kesabaran, keteguhan, dan waktu yang panjang untuk diwujudkan.

Dalam banyak hal, filosofi itu tidak jauh berbeda dengan perjalanan hidup manusia sendiri, yang sering kali tidak bergerak lurus tetapi bertahap, tertunda, lalu tiba pada waktunya.

Tidak jauh dari katedral mengalir Sungai Rhein, salah satu sungai terpenting di Eropa. Sejak berabad abad lalu, sungai ini menjadi jalur perdagangan utama yang menghubungkan berbagai kota dan wilayah di Eropa Barat. Sampai hari ini, Rhein tetap menjadi urat nadi ekonomi Jerman dan menjadi bagian penting dari identitas Kota Cologne.

Di atas Sungai Rhein berdiri Jembatan Hohenzollern (Hohenzollernbrücke), salah satu landmark paling terkenal di kota ini. Dari jembatan tersebut pengunjung dapat menikmati panorama Katedral Cologne yang menjulang megah di seberang sungai.

Pemandangan ini sering muncul dalam berbagai kartu pos dan promosi wisata Cologne, namun pengalaman langsung di tempat memberikan kesan yang jauh lebih dalam. Di sana sejarah, mobilitas modern, dan kehidupan sehari hari warga kota berpadu secara natural dalam satu lanskap yang hidup.

Berjalan di sepanjang tepian Rhein bersama keluarga memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Kami melihat kapal kapal yang melintas, menikmati udara dingin yang menusuk lembut, dan menyaksikan warga kota yang berjalan santai atau bersepeda.

Di ruang seperti ini saya merasakan bagaimana kota modern tidak hanya dibangun untuk bekerja dan bergerak cepat, tetapi juga untuk berhenti sejenak, bernapas, dan hidup dengan ritme yang lebih manusiawi.

Cologne juga memperlihatkan wajah Jerman yang semakin beragam dan multikultural. Salah satu simbolnya adalah Masjid Agung Cologne (Zentralmoschee Köln), salah satu masjid terbesar di Jerman.

Bangunan ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi komunitas Muslim, terutama masyarakat keturunan Turki yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan Jerman selama beberapa dekade.

Keberadaan masjid ini mencerminkan perubahan sosial yang terjadi di Jerman modern. Jika Katedral Cologne merepresentasikan sejarah panjang tradisi Kristen di Eropa, maka Masjid Agung Cologne menunjukkan bagaimana masyarakat Jerman terus berkembang menjadi lebih beragam. Menariknya, kedua simbol tersebut berdiri dalam kota yang sama dan menjadi bagian dari identitas Cologne yang kompleks sekaligus inklusif.

Bagi saya, Cologne memberikan pelajaran penting bahwa kemajuan tidak harus menghapus sejarah, dan keberagaman tidak harus menghilangkan identitas. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan bersama dan saling memperkaya.

Kota ini menunjukkan bahwa masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu menghormati masa lalunya sekaligus membuka ruang bagi berbagai kelompok untuk hidup berdampingan.

Perjalanan ke Cologne bukan hanya tentang mengunjungi sebuah kota yang indah. Perjalanan ini juga menjadi pengingat bahwa harapan yang disertai usaha sering kali menemukan jalannya sendiri untuk menjadi kenyataan.

Dari doa sederhana di depan Katedral Cologne pada tahun 2024 hingga kesempatan kembali bersama keluarga pada tahun 2026, saya kembali memahami makna yang pernah saya pelajari di pesantren: Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh sungguh, berikhtiar, dan tidak berhenti berharap, pada waktunya akan menemukan jalan menuju apa yang dicita citakan.

 

*Penulis adalah alumni Unisma Malang dan sedang studi di Universität Kassel, Jerman

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Editor: Herlianto. A

Tags: CologneJermanmasjid

Related Posts

Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik
Catatan

Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik

Kamis, 9 Jul 2026
Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan
Catatan

Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan

Rabu, 8 Jul 2026
Kota Malang dan El Nino
Catatan

Kota Malang dan El Nino

Rabu, 8 Jul 2026
Piala Dunia 2026
Catatan

Di Balik Sorak dan Air Mata: Membaca Kebahagiaan dan Kesedihan dari Piala Dunia 2026

Selasa, 7 Jul 2026
Kresek Kecil
Catatan

Kresek Kecil yang Dibawa Bapak

Minggu, 5 Jul 2026
Ruang hijau
Catatan

Malang dan Ilusi Pembangunan: Ketika Ruang Terbuka Hijau Dikorbankan, Siapa yang Dilayani?

Senin, 29 Jun 2026

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.