Minggu, Juni 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Guru dan Orang Tua: Dua Sisi Mata Uang Pendidikan Akhlak

Redaksi by Redaksi
Juni 28, 2026 8:00 am
in Catatan
Pendidikan Akhlak

Aris Musnandar.do/pribadi

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Aries Musnandar*

PENDIDIKAN hari ini sering kali tampak megah. Berbagai inovasi terus diperbincangkan, mulai dari perkembangan teknologi, capaian nilai akademik, hingga perubahan kurikulum yang terus mengikuti perkembangan zaman. Namun, di balik kemajuan itu, muncul kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Berbagai kasus perundungan, tawuran, hingga memudarnya sikap hormat anak kepada sesama menunjukkan bahwa pendidikan karakter masih menghadapi tantangan besar.

Fenomena tersebut menjadi alarm bahwa ada mata rantai penting dalam pendidikan yang mulai terlepas. Jauh sebelum istilah peace education maupun moderasi beragama dikenal luas, Al-Qur’an dan Hadis telah mengajarkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk akhlak yang mulia. Rasulullah SAW diutus bukan sekadar menyampaikan ilmu, melainkan menyempurnakan akhlak manusia.

READ ALSO

Membaca Fenomena Selebrasi Gen-Z Pasca Sidang Skripsi

Rama dan Sinta (Bukan dalam Wayang)

Ketika akhlak anak mulai melemah, persoalan itu tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Pendidikan akhlak ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi terdapat guru di sekolah, sedangkan di sisi lain ada orang tua di rumah. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk karakter anak.

Baca juga: Merawat Adab dalam Pendidikan: Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Guru: Kurikulum yang Bernyawa

Madrasah formal bernama sekolah menjadi tempat menanamkan nilai-nilai kehidupan. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik. Nilai ketulusan, keikhlasan, kedamaian, dan sikap saling menghargai tidak cukup diajarkan melalui materi maupun soal ujian.

Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui keteladanan guru, kesabaran dalam membimbing, kelembutan saat mengingatkan, serta keadilan dalam memperlakukan setiap murid. Karena itu, menghadirkan guru yang matang secara spiritual dan emosional menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Guru diharapkan mengajar bukan semata menjalankan kewajiban administratif, tetapi memandang pendidikan sebagai bagian dari pengabdian.

Rumah: Sajadah Pertama Pendidikan 

Namun, pendidikan di sekolah tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan keluarga. Anak hanya berada di sekolah selama beberapa jam setiap hari, sedangkan sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Karena itu, rumah merupakan madrasah pertama (al-madrasatul ula), sementara orang tua menjadi pendidik utama dalam pembentukan karakter.

Pendidikan akhlak di sekolah akan sulit berhasil apabila di rumah anak justru menyaksikan pertengkaran, pengabaian, atau pola asuh yang minim keteladanan. Oleh sebab itu, pembinaan orang tua perlu dilakukan secara lebih terarah. Pemerintah perlu menghadirkan Program Parenting TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif) sebagai gerakan nasional.

Gerakan ini harus ditiupkan menjadi ruh baru dalam kebijakan negara, bukan lagi sekadar seminar pelepas penat yang bersifat opsional:

•⁠ ⁠Terstruktur: Negara harus hadir mengulurkan tangan, menyediakan panduan pengasuhan yang jelas di setiap fase usia anak. Sebuah panduan yang memadukan kehangatan sains pengasuhan modern dengan kedalaman tuntunan agama serta kearifan lokal.

•⁠ ⁠Sistematis: Gerakan ini harus dijalin erat ke dalam urat nadi sistem kemasyarakatan. Ia bisa mewujud menjadi ruang dialog wajib berkala saat orang tua menjemput rapor, atau disisipkan melalui denyut nadi majelis taklim, posyandu, dan institusi keagamaan di desa-desa.

•⁠ ⁠Masif: Gerakan ini harus digulirkan laksana ombak kesadaran kolektif. Menggunakan seluruh media, mengetuk pintu hati para tokoh agama, budayawan, hingga pembuat konten, agar setiap orang tua sadar bahwa mengasuh anak dengan cinta dan batasan adalah tugas suci yang tak bisa diwakilkan.

Baca juga: Unira Malang Bersama LP Maarif dan Lakspedam Malang Ajak 10 PTS Belajar ke Malaysia dan Singapore

Mengetuk Pintu Keikhlasan

Mewujudkan sinergi agung antara guru yang berkualitas dan gerakan parenting TSM ini menuntut satu mahar yang tidak murah: ketulusan dan keikhlasan yang mendalam. Pemerintah harus ikhlas mengalokasikan perhatian dan sumber daya terbaiknya untuk membangun moral bangsa, bukan sekadar mengejar angka-angka statistik ekonomi sesaat.

Guru dan orang tua pun harus tulus saling menggenggam tangan, menjatuhkan ego untuk tidak saling menyalahkan ketika sang anak sedang tersesat langkah.

Melalui proses tarbiyah yang teduh di sekolah dan pelukan pengasuhan yang penuh keteladanan di rumah, budi pekerti agung anak-anak kita akan mekar dengan sendirinya. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya tangguh menantang badai peradaban global, tetapi juga memiliki hati yang lembut, membawa kedamaian, dan memancarkan kebaikan Rahmatan lil ‘Alamin bagi bumi pertiwi.

Sebelum malam berganti dan karakter generasi kita terlanjur membatu, langkah berani ini harus segera kita mulai.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Pengamat Pendidikan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang)

editor: jatmiko

Tags: Aries MusnandarguruKarakter AnakkeluargaModerasi beragamaOrang TuaParentingpendidikan akhlakPendidikan IndonesiaPendidikan Karakterpengamat pendidikanRahmatan lil AlaminSekolahtarbiyahUnira Malang

Related Posts

Gen-z
Catatan

Membaca Fenomena Selebrasi Gen-Z Pasca Sidang Skripsi

Minggu, 28 Jun 2026
Rama dan Sinta
Catatan

Rama dan Sinta (Bukan dalam Wayang)

Sabtu, 27 Jun 2026
Aries Musnandar. Foto/dok
Catatan

Belajar Disiplin dari Negeri Matahari Terbit

Jumat, 26 Jun 2026
Fairouz Huda. Foto/dok
Catatan

Menjauhkan NU dari Pengemis Kekuasaan, KH Azaim Sukorejo Bisa Menjadi Jangkar Spiritual

Rabu, 24 Jun 2026
M. Lutfi Khoirudin, M.Pd. Foto/dok
Catatan

Munas dan Kombes NU, Serta asal Muasal wilayah Kediri jadi Pantangan untuk Didatangi Presiden RI

Rabu, 24 Jun 2026
Bagian 1 Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny (1976-2026) tentang perjalanan takdir dan pohon cinta. /Foto: Tugumalang.id/Bagus Rachmad Saputra
Catatan

Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 1: Perjalanan Takdir dan Pohon Cinta

Selasa, 23 Jun 2026
Next Post
Meta AI

Meta AI Hadir di WhatsApp, Begini Manfaatnya untuk Promosi UMKM Malang

BERITA POPULER

  • Bapenda Kota Malang

    Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.