Oleh: Aries Musnandar*
PENDIDIKAN hari ini sering kali tampak megah. Berbagai inovasi terus diperbincangkan, mulai dari perkembangan teknologi, capaian nilai akademik, hingga perubahan kurikulum yang terus mengikuti perkembangan zaman. Namun, di balik kemajuan itu, muncul kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Berbagai kasus perundungan, tawuran, hingga memudarnya sikap hormat anak kepada sesama menunjukkan bahwa pendidikan karakter masih menghadapi tantangan besar.
Fenomena tersebut menjadi alarm bahwa ada mata rantai penting dalam pendidikan yang mulai terlepas. Jauh sebelum istilah peace education maupun moderasi beragama dikenal luas, Al-Qur’an dan Hadis telah mengajarkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk akhlak yang mulia. Rasulullah SAW diutus bukan sekadar menyampaikan ilmu, melainkan menyempurnakan akhlak manusia.
Ketika akhlak anak mulai melemah, persoalan itu tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Pendidikan akhlak ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi terdapat guru di sekolah, sedangkan di sisi lain ada orang tua di rumah. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk karakter anak.
Baca juga: Merawat Adab dalam Pendidikan: Refleksi Hari Pendidikan Nasional
Guru: Kurikulum yang Bernyawa
Madrasah formal bernama sekolah menjadi tempat menanamkan nilai-nilai kehidupan. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik. Nilai ketulusan, keikhlasan, kedamaian, dan sikap saling menghargai tidak cukup diajarkan melalui materi maupun soal ujian.
Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui keteladanan guru, kesabaran dalam membimbing, kelembutan saat mengingatkan, serta keadilan dalam memperlakukan setiap murid. Karena itu, menghadirkan guru yang matang secara spiritual dan emosional menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Guru diharapkan mengajar bukan semata menjalankan kewajiban administratif, tetapi memandang pendidikan sebagai bagian dari pengabdian.
Rumah: Sajadah Pertama Pendidikan
Namun, pendidikan di sekolah tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan keluarga. Anak hanya berada di sekolah selama beberapa jam setiap hari, sedangkan sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Karena itu, rumah merupakan madrasah pertama (al-madrasatul ula), sementara orang tua menjadi pendidik utama dalam pembentukan karakter.
Pendidikan akhlak di sekolah akan sulit berhasil apabila di rumah anak justru menyaksikan pertengkaran, pengabaian, atau pola asuh yang minim keteladanan. Oleh sebab itu, pembinaan orang tua perlu dilakukan secara lebih terarah. Pemerintah perlu menghadirkan Program Parenting TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif) sebagai gerakan nasional.
Gerakan ini harus ditiupkan menjadi ruh baru dalam kebijakan negara, bukan lagi sekadar seminar pelepas penat yang bersifat opsional:
• Terstruktur: Negara harus hadir mengulurkan tangan, menyediakan panduan pengasuhan yang jelas di setiap fase usia anak. Sebuah panduan yang memadukan kehangatan sains pengasuhan modern dengan kedalaman tuntunan agama serta kearifan lokal.
• Sistematis: Gerakan ini harus dijalin erat ke dalam urat nadi sistem kemasyarakatan. Ia bisa mewujud menjadi ruang dialog wajib berkala saat orang tua menjemput rapor, atau disisipkan melalui denyut nadi majelis taklim, posyandu, dan institusi keagamaan di desa-desa.
• Masif: Gerakan ini harus digulirkan laksana ombak kesadaran kolektif. Menggunakan seluruh media, mengetuk pintu hati para tokoh agama, budayawan, hingga pembuat konten, agar setiap orang tua sadar bahwa mengasuh anak dengan cinta dan batasan adalah tugas suci yang tak bisa diwakilkan.
Baca juga: Unira Malang Bersama LP Maarif dan Lakspedam Malang Ajak 10 PTS Belajar ke Malaysia dan Singapore
Mengetuk Pintu Keikhlasan
Mewujudkan sinergi agung antara guru yang berkualitas dan gerakan parenting TSM ini menuntut satu mahar yang tidak murah: ketulusan dan keikhlasan yang mendalam. Pemerintah harus ikhlas mengalokasikan perhatian dan sumber daya terbaiknya untuk membangun moral bangsa, bukan sekadar mengejar angka-angka statistik ekonomi sesaat.
Guru dan orang tua pun harus tulus saling menggenggam tangan, menjatuhkan ego untuk tidak saling menyalahkan ketika sang anak sedang tersesat langkah.
Melalui proses tarbiyah yang teduh di sekolah dan pelukan pengasuhan yang penuh keteladanan di rumah, budi pekerti agung anak-anak kita akan mekar dengan sendirinya. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya tangguh menantang badai peradaban global, tetapi juga memiliki hati yang lembut, membawa kedamaian, dan memancarkan kebaikan Rahmatan lil ‘Alamin bagi bumi pertiwi.
Sebelum malam berganti dan karakter generasi kita terlanjur membatu, langkah berani ini harus segera kita mulai.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Pengamat Pendidikan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang)
editor: jatmiko


















