Oleh: Aries Musnandar
Tugumalang.id – Saudaraku, Indonesia tidak akan selamat jika pendidikan hanya dipahami sebagai pabrik pencetak ijazah bagi siswa dan mahasiswa, sementara pembentukan karakter dan disiplin nasional diabaikan.
Kita tidak akan pernah maju jika kurikulum moral hanya diujikan di atas kertas sekolah, sementara di ruang-ruang kekuasaan, para elite penyelenggara negara bebas memamerkan impunitas dan melanggar kepatutan di depan mata rakyatnya sendiri. Kecuali kita berani merombak total orientasi pendidikan kita secara menyeluruh.
Baca Juga: Makan Anggaran Rp9,6 Miliar Per Tahun, Peserta Beasiswa 1.000 Sarjana Wajib Disiplin
Bahwa pembentukan karakter bukanlah kewajiban anak didik semata, melainkan kurikulum wajib bagi setiap aparat, pejabat, dan pemimpin negeri.
Sebuah proses belajar yang menanamkan disiplin bukan karena takut pada sanksi hukum, melainkan karena tunduk pada kesadaran moral yang mendalam.
Lihatlah Jepang. Bangsa yang pernah hancur lebur oleh perang, namun mampu bangkit menjadi raksasa dunia bukan karena kelimpahan minyak atau tambangnya, melainkan karena investasi pada manusianya.
Baca Juga: Gelar Monev, Wali Kota Batu Minta ASN Disiplin dan Hindari Konflik Kepentingan
Di sana, anak-anak tidak langsung dijejali rumus akademik yang rumit. Di tahun-tahun awal, mereka dididik cara mengantre, membersihkan ruang kelas, dan menghargai ruang publik.
Di saat yang sama, para pemimpin mereka menunjukkan disiplin serupa: mereka mundur saat gagal, meminta maaf saat keliru, dan menjaga integritas sebagai kehormatan tertinggi.
Kecuali bangsa ini mau belajar bahwa kemajuan tidak dimulai dari megahnya infrastruktur fisik, melainkan dari tertibnya perilaku manusia.
Kita harus menyadari bahwa watak sebuah bangsa dibentuk oleh apa yang mereka saksikan sehari-hari. Jika rakyat terus disuguhi tontonan elite yang mengabaikan etika, maka runtuhlah seluruh fondasi pengajaran karakter yang dibangun di ruang-ruang kelas kita.
Sebab, disiplin nasional tidak akan pernah tegak jika ia hanya dipaksakan sebagai beban bagi rakyat di akar rumput (grassroots). Karakter tidak bisa ditumbuhkan lewat instruksi dan ancaman pidato, melainkan lewat keteladanan yang mengalir dari puncak kekuasaan.
Sifat bangsa ini adalah meniru; ketika pemegang amanah bertindak sebagai role model yang lurus, maka rakyat di bawah dengan sukarela akan mengikutinya.
Kecuali para pemimpin, aparat hukum, dan pejabat penyelenggara negara menyadari bahwa tugas pertama mereka bukanlah membuat aturan, melainkan menjadi perwujudan hidup dari aturan itu sendiri.
Hanya ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu—mulai dari istana dan gedung parlemen hingga ke gang-gang sempit permukiman—disiplin akan berubah dari sekadar paksaan menjadi sebuah kebudayaan nasional yang mengakar kuat dan menyelamatkan masa depan kita.
Malang, 24 Juni 2026
Catatan Penulis
Tulisan ini merupakan sebuah tanggapan yang mengadaptasi cuplikan esai Yudi Latif tentang urgensi pendidikan dan pembentukan karakter. Penulis memperluas konteks tersebut dengan menekankan bahwa pembentukan karakter wajib menyasar para elite penyelenggara negara sebagai penentu utama (role model) tegaknya disiplin nasional.
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News


















