MALANG, Tugumalang.id – Meski gaungnya tidak terlalu santer, Kabupaten Malang diam-diam memiliki perkebunan kakao dengan produksi yang stabil serta varietas yang masuk kategori kualitas terbaik.
Pada 2025, produksi kakao di Kabupaten Malang mencapai 1.144 ton. Biji kakao kering tersebut dihasilkan dari lahan seluas 3.046 hektare yang tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Malang.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera mengatakan, kecamatan dengan potensi kakao terbesar berada di Donomulyo, Sumbermanjing Wetan, Pagak, Dampit, dan Poncokusumo.
“Kakao ini cocok ditanam di Malang. Sejak zaman penjajahan Belanda dulu sudah ada perkebunan kakao di sini,” kata Avi beberapa waktu lalu.
Kakao Kabupaten Malang Ada Varietas Terbaik
Varietas yang paling banyak ditanam di Kabupaten Malang adalah MCC 02 dan Sulawesi 02. Selain itu, terdapat varietas criollo yang dikenal sebagai varietas premium atau fine cocoa dan tergolong langka di dunia.
Baca juga: Serunya Menikmati Es Cokelat Sambil Menyaksikan Proses Pengolahan Kakao di Kedai Seduh Kakao
Criollo memiliki kandungan lemak tinggi sehingga menghasilkan cita rasa yang lembut. Namun, varietas ini cukup rentan terhadap hama dan penyakit sehingga tidak banyak dibudidayakan.
Pemilik perusahaan pengolahan kakao Finestco, Agatha Virdhi Saputra mengatakan, dirinya telah bekerja sama dengan petani kakao di Kabupaten Malang sejak 2021 dan melihat potensi besar dari komoditas tersebut.
“Potensinya luar biasa karena punya sejarah yang panjang dan fine cocoa yang bernama criollo. Tidak semua daerah di Indonesia punya criollo,” kata Agatha.
Saat mulai mengenal petani kakao di Kabupaten Malang, ia melihat pengolahan biji kakao pascapanen masih belum maksimal. Petani saat itu masih menjual biji kakao secara curah.

Karena itu, pihaknya mulai melakukan pembinaan kepada petani agar produk biji kakao memiliki nilai tambah.
“Saya bekerja sama dengan DTPHP untuk meningkatkan mutu fermentasi biji kakao yang ada di Malang,” ujarnya.
Dengan produktivitas mencapai 770 kilogram per hektare, biji kakao dari perkebunan di Kabupaten Malang terserap di pasar lokal hingga Kampung Cokelat Blitar.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang juga telah mengusulkan program budidaya dan hilirisasi produk cokelat ke Kementerian Pertanian.
Ke depan, petani kakao di Kabupaten Malang diharapkan mampu mengolah biji kakao secara mandiri dan menjualnya dalam bentuk produk olahan seperti cokelat batangan maupun cokelat bubuk. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani kakao.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























