Malang, Tugumalang.id — Platform media sosial sempat dipenuhi konten tentang Girl Math dan Boy Math. Tren ini menggambarkan cara unik perempuan dan laki-laki dalam memandang uang, yang kerap dianggap tidak masuk akal satu sama lain. Fenomena tersebut kemudian menarik perhatian YouTuber sekaligus penggiat matematika, Jerome Polin.
Dalam sebuah video di kanal YouTube Malaka, Jerome membahas fenomena ini dari sudut pandang yang lebih mendalam. Meski awalnya ia mengaku terhibur melihat bagaimana orang-orang melakukan pembenaran atau ‘ngeles’ atas pengeluaran mereka, Jerome menemukan adanya kaitan erat antara tren ini dengan perilaku ekonomi manusia secara riil.
Girl Math vs Boy Math
Jerome mengawali pembahasannya dengan mengurai esensi dari Girl Math. Salah satu contoh yang populer adalah anggapan bahwa belanja menggunakan uang tunai terasa seperti gratis karena tidak mengurangi saldo di aplikasi mobile banking.
“Buatku dan mungkin para cowok di luar sana, ini tuh kayak enggak masuk akal, enggak make sense. Karena secara matematis kita tetap ngeluarin uang, kan?” ujar Jerome.
Ia kemudian memberikan ilustrasi sederhana. Jika seseorang memiliki saldo Rp5 juta dan menarik Rp500 ribu untuk belanja tunai, secara objektif saldo tersebut tetap berkurang menjadi Rp4,5 juta. Namun, bagi penganut Girl Math, selama angka di layar ponsel tidak berubah, pengeluaran itu seolah tidak pernah terjadi.
Baca juga: Ingin Pensiun Dini? Ini Strategi Bebas Keuangan ala Raditya Dika
Sebaliknya, Boy Math menyoroti standar ganda dalam pengeluaran pria. Jerome mencontohkan bagaimana seorang pria mungkin merasa berat mengeluarkan Rp50 ribu untuk makan sendiri, tetapi menganggap Rp1 juta sebagai harga yang murah jika digunakan untuk menyenangkan pasangan. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi mahal atau murah sering kali bergantung pada siapa yang menikmati pengeluaran tersebut.
Mengenal Konsep Mental Accounting
Pembahasan kemudian berkembang ke ranah yang lebih serius ketika Jerome memperkenalkan konsep Mental Accounting. Konsep ini dicetuskan oleh ekonom asal Amerika Serikat, Richard Thaler.
Jerome menjelaskan bahwa manusia cenderung tidak memperlakukan semua uang secara sama. Setiap orang secara tidak sadar membuat “buku besar” di dalam pikiran berdasarkan sumber atau tujuan uang tersebut.
“Secara psikologis, kita kasih label emosi ke setiap sumber uang. Inilah yang menjelaskan kenapa cashback terasa seperti penghasilan tambahan, padahal itu sebenarnya uang kita sendiri yang kembali,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyinggung konsep amortisasi atau depresiasi. Konsep ini umum digunakan dalam akuntansi dan perpajakan, tetapi sering diterapkan secara tidak sadar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, membeli barang seharga Rp300 ribu lalu membaginya dengan lama pemakaian. Jika digunakan selama tiga bulan, biayanya terasa hanya Rp3.000 per hari sehingga tampak lebih ringan.
Baca juga: Pengeluaran Kecil yang Bisa Bikin Tabungan Kering di Akhir Bulan
Waspada Bias Finansial
Meski tren Girl Math dan Boy Math terasa menghibur, Jerome memberikan catatan penting. Ia menegaskan bahwa pembenaran semacam ini merupakan bentuk bias yang berpotensi membuat seseorang tidak rasional dalam mengambil keputusan keuangan.
“Kita bisa jadi ngerasa hemat padahal boros. Kita bisa spend uang berlebihan ke barang yang sebenarnya enggak kita butuhin,” tegasnya.
Sebagai solusi, Jerome menyarankan pentingnya disiplin dalam menyusun anggaran. Baik uang tunai, saldo e-wallet, maupun investasi tetap merupakan sumber daya yang harus dikelola secara bertanggung jawab.
Ia pun menyimpulkan bahwa matematika bersifat netral, objektif, dan universal. Sementara penggunaan istilah math dalam tren ini hanyalah label untuk menggambarkan sisi psikologis manusia dalam memandang nilai suatu barang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/Magang
redaktur: jatmiko


















