Tugumalang.id – Pemprov Jatim memberikan perhatian serius terhadap fungsi pembangunan drainase di kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat) Kota Malang. Pasalnya, kawasan ini ternyata masih banjir saat diguyur hujan lebat. Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak memberikan catatan usai melakukan peninjauan langsung.
Drainase Suhat dibangun melalui APBD Pemprov Jatim senilai Rp 32 miliar. Panjang drainase mencapai 1,3 kilometer. Pembangunan drainase itu disebut sebut sebagai upaya penganan banjir kronis yang selalu melanda Suhat. Namun setelah rampung dibangun, kawasan Suhat ternyata masih banjir.
Setidaknya, ada 4 catatan yang disampaikan Emil Dardak atas kondisi banjir yang masih melanda kawasan Suhat. Pertama, yakni soal keberadaan sampah yang menyumbat saluran air menuju drainase Suhat.
Baca Juga: Kota Malang Dikepung 21 Titik Banjir, Jalan Suhat Masih Tergenang
Sebagai solusinya, Pemprov Jatim dan Pemkot Malang berkomitmen melakukan pembersihan kolektif. Lalu juga ada modivikasi penyaringan sampah menuju drainase Suhat agar air tetap mengalir meskipun sampah berukuran besar, seperti bongkahan kayu, ban, hingga bantal tertahan.
“Sampah sambah ukuran besar tetap akan tertahan, tapi yang kecil masih bisa mengalir. Sehingga air tidak meluap ke jalan. Kalau semua tertahan bisa seperti tembok sampah,” kata Emil.
Catatan kedua, yakni soal sedimen trap atau perangkap sedimen yang masih menyisakan material pengerjaan drainase Suhat. Emil mengakui bahwa drainase Suhat masih belum steril dari sisa material pengerjaan drainase. Untuk itu, ia meminta ada pembersihan.
“Sedimen trap ini kami akui kemarin waktu pengerjaan materialnya belum bersih. Jadi yang tertinggal di dalam itu sisa material aspal yang dipakai untuk menutup. Maka teman teman bekerja membersihkan dan kami lihat alirannya sudah lebih lancar,” ungkapnya.
Baca Juga: Jalan Suhat Kota Malang Masih tetap Banjir
Ketiga yakni soal pengelolaan pintu air yang berada kawasan Suhat. Emil menegaskan bahwa pintu air tersebut harus dalam kondisi tertutup saat terjadi hujan lebat agar air dapat ditampung oleh saluran utama.
“Kalau pintu ini terbuka saat air besar, larinya ke sungai di daerah Ciliwung dan Kedawung yang kemarin banjir. Tapi kalau ditutup, saluran ini masih bisa menampung,” jelasnya.
Emil juga menegaskan bahwa keputusan untuk menutup pintu air saat banjir merupakan langkah yang diambil demi kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Keempat, yakni soal penataan trotoar di kawasan Suhat. Emil menegaskan bahwa pekerjaan drainase Suhat yang terlihat saat ini belum sepenuhnya rampung. Masih ada pekerjaan trotoar.
“Tahun 2026, kami memang akan memperbaiki bagian atasnya, termasuk aspek estetika dan kenyamanan,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A
























