Kota Batu, Tugumalang.id – Tata ruang Alun-Alun Kota Batu terus menjadi sorotan publik. Kawasan yang seharusnya menjadi wajah kota dan ruang publik representatif justru tercoreng oleh dominasi lahan parkir yang mengelilingi area utama. Fungsi esensial alun-alun sebagai ruang terbuka hijau, ruang interaksi sosial, dan ikon kota perlahan tereduksi oleh kepadatan kendaraan.
Pemandangan ini telah berlangsung bertahun-tahun dan melahirkan pertanyaan publik yang semakin relevan: Alun-Alun Kota Batu ini ruang publik atau justru parkiran terbuka? Ironisnya, meski menjadi destinasi utama wisatawan baik pada akhir pekan maupun hari biasa, kontribusi retribusi parkir tepi jalan di kawasan tersebut tercatat masih rendah.
Sorotan tajam datang dari Anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Sujono Djonet. Menurutnya, sebagai pusat keramaian yang ikonik, keberadaan parkir yang mengelilingi alun-alun secara langsung merusak estetika tata kota dan mengganggu kenyamanan wisatawan.

Makin Ke Sini Makin Rembes
Djonet menjelaskan bahwa filosofi awal pembangunan Alun-Alun Kota Batu adalah sebagai etalase potensi lokal, mulai dari apel, bunga mawar, hingga sapi perah. Namun seiring waktu, konsep tersebut semakin memudar dan digantikan oleh kesan “rembes” atau belepotan.
Kesan “rembes” yang dimaksud adalah menyatunya area parkir dengan ruang terbuka hijau, bahkan secara perlahan menelan ruang publik yang seharusnya menjadi daya tarik utama alun-alun sebagai identitas kota. Komposisi ruang, menurutnya, kini sudah tidak ideal dan kehilangan nilai estetika.
“Alun-alun ini adalah wajah kota. Namanya wajah itu harus cantik, tidak boleh ada kesan ‘rembes’ atau tidak ramah. Kalau saya lihat, area parkir ini sudah menjadi seperti bagian dari taman. Ini sangat tidak indah. Padahal kita ke Kota Batu itu ingin sejauh mata memandang itu indah, sejuk seperti udaranya,” ujar Djonet.
Baca juga: Wisatawan Keluhkan Getok Parkir Mobil Rp10 Ribu di Alun-alun Kota Batu
Urgensi Gedung Parkir Terpadu
Djonet kemudian membandingkan dengan penataan kawasan Kayutangan Heritage di Kota Malang yang telah membangun gedung parkir terpadu. Model tersebut berhasil menghilangkan parkir tepi jalan, membuka akses pejalan kaki, dan memperbaiki wajah kawasan wisata.
Sementara itu, Alun-Alun Kota Batu yang telah lama menjadi ikon kota hingga kini belum mendapatkan intervensi signifikan. Ia berharap Pemkot Batu di era kepemimpinan Nurochman – Heli Suyanto mampu melakukan gebrakan konkret dalam menata wajah kota.
Menurutnya, keberadaan kawasan parkir terpadu memiliki manfaat strategis jangka panjang, terutama dalam mencegah kebocoran retribusi parkir, meningkatkan transparansi sistem, serta memberikan rasa aman bagi pengunjung.
“Tidak ada lagi yang namanya getok parkir, karena tempatnya sudah disediakan dengan sistem yang transparan. Selain itu, kualitas pariwisata kita saya yakin juga akan semakin baik,” ungkapnya.
Ia juga mendukung wacana pemindahan kabel ke bawah tanah atau sistem ducting di kawasan Alun-Alun Kota Batu. Selain itu, ia menyarankan agar jalan-jalan penghubung menuju alun-alun dikembalikan sebagai area resapan tanpa aspal demi memperkuat fungsi ekologis kawasan pusat kota.
“Nantinya, kita juga ingin kawasan ini dimekarkan menjadi pusat wisata terintegrasi. Jalan-jalan di sekitarnya harus menjadi daerah resapan agar tidak ada lagi banjir di tengah kota. Ini adalah tuntutan yang rasional bagi kota wisata seperti kita, soal mewujudkan taman kota yang ramah lingkungan,” tambahnya.
Dukungan serupa disampaikan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Batu, Endro Wahyu Wijoyono. Ia menegaskan bahwa penataan Alun-Alun Kota Batu sudah bersifat mendesak dan tidak bisa lagi ditunda.
“Alun-alun adalah wajah Kota Batu. Tapi saat ini, wajah itu tertutup oleh deretan motor dan mobil yang parkir di sembarang tempat. Estetikanya hilang, yang ada justru kesan kumuh dan macet,” ujar Endro, yang akrab disapa Abah Endro.

Baca juga: Uji Coba E-Parkir Alun-Alun Kota Batu Ditargetkan Mulai Desember 2025
Ia menambahkan, kapasitas parkir yang tersedia saat ini tidak lagi mampu menampung volume kendaraan, terutama saat akhir pekan dan musim libur panjang. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menghambat aksesibilitas pejalan kaki serta arus lalu lintas di jantung kota.
Endro pun mendorong Pemkot Batu segera merancang pembangunan Gedung Parkir Terpadu, dengan merujuk pada keberhasilan kantong parkir di kawasan Kayutangan Heritage Malang yang mampu memindahkan kendaraan dari bahu jalan ke gedung parkir khusus.
“Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan parkir di pinggir jalan. Solusinya adalah membangun gedung parkir vertikal yang representatif. Dengan begitu, area sekitar Alun-Alun bisa steril dari kendaraan,” tegasnya.
Baca juga: 10 Destinasi Wisata Ikonik Malang Raya yang Bisa Dijangkau Bus Trans Jatim
DPRD Dorong Wali Kota Bikin Gebrakan
Meski menyadari potensi gesekan dengan pelaku usaha dan juru parkir, Djonet menegaskan bahwa semangat utama wacana ini adalah penataan demi kepentingan bersama. Ia menilai sudah saatnya Wali Kota Batu yang baru melakukan gebrakan nyata dalam pembenahan tata kota.
Ia juga mendesak pemerintah kota melalui dinas teknis untuk segera melakukan kajian mendalam, agar wisatawan tetap dapat parkir dengan nyaman tanpa merusak estetika kawasan pusat kota.
“Kalau tidak ada inovasi, tinggal tunggu tanggal mainnya saja kita akan disalip oleh daerah lain. Kami di Dewan sangat mendukung perubahan ini sebagai daya dobrak untuk pembenahan tata kota Batu,” pungkas Djonet.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























