Kota Batu, Tugumalang.id – Angka kasus bencana di Kota Batu, Jawa Timur, sepanjang 2025 terus meningkat. Hingga 26 November 2025, tercatat sebanyak 192 kejadian bencana. Dari jumlah tersebut, tanah longsor masih menjadi ancaman terbesar bagi warga.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kota Batu, dari total 192 kejadian, tanah longsor mendominasi dengan 121 kejadian. Berikutnya cuaca ekstrem 39 kejadian, banjir 21 kejadian, kebakaran 10 kejadian, dan karhutla 1 kejadian.
Dampak seluruh bencana itu menyebabkan 224 warga terdampak atau mengungsi dan 26 orang meninggal dunia. Selain itu, terdapat 69 rumah terdampak. Kecamatan Bumiaji menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak sebanyak 92 kejadian, disusul Kecamatan Batu 70 kejadian dan Junrejo 30 kejadian.

Plt Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko, menjelaskan bahwa Kecamatan Bumiaji menjadi wilayah paling rawan bencana. Secara geografis, wilayah tersebut berada di kawasan perbukitan dengan kontur tanah miring.
Baca juga: Tertinggi, Bencana di Kota Batu Tembus 206 Kejadian tahun 2023
‘‘Kondisi ini membuat wilayah di sana sangat rentan terhadap longsor, terutama ketika curah hujan tinggi maupun cuaca ekstrem,’’ ungkapnya, Jumat (12/11/2025).
Lonjakan Kasus Bencana di Akhir Tahun
Suwoko menyampaikan bahwa peningkatan angka bencana mulai terlihat sejak awal November. Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Kota Batu membuat potensi tanah longsor semakin besar. Material tanah dan batu bahkan sempat menutup akses jalan warga, merusak rumah, hingga mengganggu infrastruktur dasar.
“Sepanjang tahun ini tercatat ada 20 rumah rusak ringan, 13 rusak sedang, 18 rusak berat dan 14 rumah terendam banjir,” bebernya.
Tak hanya pemukiman, fasilitas publik turut terdampak. Ada 4 sekolah, 9 kios, dan sejumlah jaringan infrastruktur vital yang mengalami kerusakan. BPBD mencatat kerusakan pada 4 jaringan air bersih, 11 jaringan listrik dan lampu penerangan, 5 jaringan telekomunikasi, serta ruas jalan sepanjang 0,003 kilometer. Sektor pertanian pun tak luput, dengan 1 hektare sawah dan 0,175 hektare lahan mengalami kerusakan.
Strategi Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Ke depan, BPBD memperkuat mitigasi berbasis masyarakat demi menekan risiko bencana. Langkah yang dilakukan mulai dari pemetaan daerah rawan bencana, pemasangan sistem peringatan dini, hingga pelatihan kesiapsiagaan bagi warga dan relawan di desa-desa rawan longsor.
“Kami mengimbau warga tidak acuh terhadap tanda-tanda alam. Jika muncul retakan di tanah, pohon miring, atau air keruh mengalir deras dari lereng, segera lapor ke BPBD,” tegas Suwoko.
Wali Kota Batu, Nurochman, menambahkan bahwa Pemkot terus memperkuat strategi mitigasi. Tahun ini, revitalisasi saluran air menggunakan box culvert dilakukan bersama pemetaan ulang zona rawan bencana dan susur sungai di 94 titik, termasuk di Sungai Sumberbrantas, Pusung Lading, Glagah Wangi, dan Krecek.
Selain infrastruktur, peningkatan kesadaran warga juga menjadi fokus. Pelatihan relawan, simulasi tanggap darurat, dan program sekolah aman bencana terus digiatkan.
“Penanganan bencana harus bergeser dari pola reaktif menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kolaborasi adalah kunci,” ujarnya.
Penanganan terpadu tersebut menunjukkan hasil. Berkat sinergi antara Pemkot, Forkopimda, dunia usaha, ormas, dan masyarakat, indeks risiko bencana Kota Batu turun dari 81,0 pada 2023 menjadi 75,21 pada 2024.
Dengan curah hujan yang masih tinggi hingga akhir tahun, Pemkot Batu mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga.
“Kita tidak bisa menghentikan bencana, tapi kita bisa meminimalkan dampaknya,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























