Jakarta, Tugumalang.id — “Emang benar kamu kena HIV? Kok kamu baik-baik saja sih? Kok enggak kurus? Kok enggak kering kerontang? Atau hidup kita sampai berapa tahun lagi ya? HIV bisa disembuhkan dengan mengonsumsi tokek?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering didengar oleh Hages Budiman, seorang survivor HIV yang kini berani berbagi pengalamannya di depan publik. Dalam wawancaranya dengan Portal berita online Kumparan.com yang tayang di channel youtube kumparan, 2 Desember 2025 lalu.

Perbedaan HIV dan AIDS
Di awal perkenalannya Hages langsung memperkenalkan dirinya dengan sapaan akrab dan penuh percaya diri. “Hai, saya Hages Budiman. Saya adalah survivor HIV. Tanya saya apa saja.”
Lebih jauh Hages menjelaskan bahwa masyarakat sering salah memahami HIV dan AIDS.
Menurutnya, HIV adalah virus yang menyerang sel kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS merupakan kondisi seseorang yang sudah terinfeksi HIV, tetapi tidak diobati hingga akhirnya muncul berbagai penyakit penyerta atau infeksi oportunistik.
“Karena sel kekebalan tubuh kita sudah habis digerogoti virus, penyakit-penyakit di luar sana itu gampang banget masuk ke dalam tubuh kita karena tidak ada perlawanan, tidak ada perlindungan,” ujarnya.
Baca juga: Lingga Indonesia Dorong Penghapusan Diskriminasi Terhadap Komunitas HIV/AIDS di Kota Malang
Cerita Terinfeksi dari Suami
Hages kemudian mengungkapkan pertama kali ia mengetahui dirinya terinfeksi HIV, dari almarhum suaminya.
“Dulu itu ketahuan aku HIV-nya justru pas di saat suami aku sakit dan aku baru melahirkan anak,” katanya.
Pada saat itu, anaknya baru berusia 40 hari. Dalam dua minggu, kondisi suaminya memburuk. Ia mengalami wasting syndrome, yaitu tubuh tiba-tiba menjadi sangat kurus dan kehilangan berat badan normal.
“Semua hasil darahnya positif. DBD, tipes, hepatitis, toksoplasma, semuanya positif,” tuturnya.
Anaknya juga sempat sakit dan ikut diperiksa. “Ternyata HIV-nya positif,” ujarnya mengenang masa itu.
Ketakutan Terbesar adalah Anak
Hages mengaku saat itu dirinya benar-benar hancur. Namun ia tidak memikirkan dirinya sendiri.
“Yang aku pikirin pada saat itu justru bagaimana dengan anak aku. Dunia aku runtuh banget saat dulu anak aku sempat terdeteksi itu,” ucapnya.
Namun berkat rekomendasi dokter, anaknya kembali diperiksa saat berusia dua tahun.
“Alhamdulillah anak saya negatif, dan di situlah kekuatan saya baru muncul lagi,” katanya lega.
Ia berkata, sang anak yang membuatnya kembali berdiri. “Apapun kamu, siapapun kamu, apapun status kamu, tetap anak mama,” begitu ungkapan penuh haru yang menggambarkan dukungan sang buah hati.
Hidup Sehat dengan ARV
Hages menegaskan bahwa orang dengan HIV tetap dapat hidup sehat dan normal selama menjalani terapi antiretroviral (ARV).
“Sama seperti manusia non-HIV, selama kita terapi obat ARV, kita enggak akan ngerasain apa-apa,” jelasnya.
Baca juga: Inilah Penyebab HIV/AIDS Masih Tinggi di Indonesia, Dibanding Negara ASEAN
Ia menambahkan, hingga saat ini obat HIV hanya satu, yaitu ARV, di seluruh dunia.
Ia lebih suka menyebutnya obat yang diminum setiap hari, bukan seumur hidup, agar terasa lebih ringan.
Tentang kesembuhan total, ia menyampaikan secara jujur. “Belum bisa. HIV belum bisa sembuh total hilang dari dalam tubuh. Belum bisa.”
Mitos Tak Masuk Akal: Tokek Menyembuhkan HIV

Ada satu mitos yang menurutnya paling membuatnya geleng kepala.
“Mitos yang paling bikin gua geleng-geleng adalah HIV bisa disembuhkan dengan mengonsumsi tokek,” ucapnya sambil tertawa.
Selama awal terinfeksi, banyak yang menyarankan dirinya makan tokek atau minum buah merah dari Papua.
“Buah merah dari Papua memang bagus untuk menaikkan sistem imun, tapi kalau untuk membunuh virusnya? Enggak. Menyembuhkan kita dari HIV? Itu mitos. Fix,” tegasnya.
Perempuan dengan HIV Tetap Bisa Melahirkan
Hages juga meluruskan anggapan bahwa perempuan dengan HIV tidak bisa memiliki anak.
“Boleh melahirkan secara normal, boleh memberikan ASI eksklusif, boleh juga hamil. Semuanya boleh,” ujarnya.
Namun, syaratnya jelas: terapi ARV harus dijalankan sejak mulai program kehamilan. Ia menegaskan bahwa HIV bukan penyakit keturunan, melainkan penyakit yang ditularkan.
“Penularan hanya melalui tiga proses: kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Jika tidak diintervensi dengan terapi ARV atau program PPIA,” ucapnya.
Stigma yang Dialami Penyintas HIV
Stigma berat membuatnya hidup seperti terasing selama bertahun-tahun.
“Dari tahun 2006 aku sangat menutup diri. Rasanya seperti hidup di dunia orang mati. Enggak pengin ketemu orang dan jangan sampai orang tahu status kesehatan aku,” kenangnya.
Ia sempat mendapatkan perlakuan diskriminatif. Teman masa kecilnya pun ikut menjauh.
“Kalau mau main ke Karawaci, suruh telepon dulu. Kalau aku datang, mereka pada pergi,” demikian cerita pahit yang masih ia ingat.
Cara HIV Menular, Bukan dari Sentuhan
Hages menekankan bahwa orang dengan HIV tidak perlu dijauhi.
“Emang mau ngapain? Karena HIV hanya bisa ditularkan melalui perilaku berisiko seperti hubungan seksual tanpa pengaman dan jarum suntik tidak steril,” jelasnya.
Sedangkan aktivitas sosial tidak berisiko.
“Makan bareng, tidur bareng, berenang bareng, itu enggak akan bisa menularkan HIV,” ujarnya.
Ajakan Edukasi untuk Masyarakat
Dalam sesi edukasi, ia juga menunjukkan berbagai contoh kontak fisik yang aman sambil mengatakan, “Aman. Aman banget. Asal jangan pakai nafsu ya.”
Sebelum menutup, Hages memberi pesan kuat untuk masyarakat:
“Kalian mainnya kurang jauh. Yuk belajar lagi dan tambah edukasinya tentang HIV. Cari tahu fakta tentang HIV itu sendiri. Terima kasih.”
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: jatmiko
redaktur: jatmiko


















