Tugumalang.id – Rangkaian kegiatan Pesona Gondanglegi 2025 tidak hanya menampilkan kemegahan kostum dan pertunjukan budaya, tetapi juga menghadirkan kisah menarik dari para penonton dan pedagang yang bertahan dua hari penuh di lokasi acara.
Pada Minggu, 16 November 2025, penonton masih sangat antusias menggambarkan besarnya semangat masyarakat meski kondisi cuaca panas.
Salah satu penonton, Julaikah, warga Kota Batu, hadir bersama keluarganya sejak Sabtu petang. Ia tiba di lokasi usai waktu Magrib dan memilih untuk tetap berada di area acara hingga Minggu siang. “Sangat puas karena kostumnya bagus-bagus,” ujarnya.
Baca Juga: Kostum Legenda Garuda Wisnu Kencana Tampil Mencolok pada Gelaran Pesona Gondanglegi 2025
Tanpa persiapan khusus, ia bertahan dengan mengonsumsi kopi, camilan, serta beristirahat seadanya di sekitar lokasi. Jarak rumah yang cukup jauh membuatnya enggan pulang sebelum rangkaian acara selesai. “Nanggung kalau pulang. Sekalian menunggu sampai akhir,” tuturnya.
Meski menikmati jalannya acara, Julaikah sempat terkejut saat melihat beberapa peserta membawa properti pisau asli. “Terkaget-kaget,” katanya, meski hal tersebut tidak mengurangi minatnya untuk tetap menonton.
Penonton lainnya, Alif, yang juga berasal dari Batu, menunjukkan tingkat ketahanan yang tidak kalah tinggi. Ia datang sejak Jumat, tepat ketika sesi pengecekan tata suara berlangsung, dan masih berada di lokasi hingga Minggu siang.

Selama berada di Gondanglegi, ia dan keluarganya tidur di dalam mobil yang diparkir di area SPBU Putat Lor. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan acara tahun ini.
Namun, ia menilai jarak antara satu titik tata suara dengan titik lainnya terlalu jauh sehingga membuat penonton lama menunggu. “Seharusnya acara dimulai pukul 13.00, tetapi baru dapat berjalan sekitar pukul 15.00 atau setelah Asar,” jelasnya.
Baca Juga: Pesona Gondanglegi XII Berlangsung Meriah Meski Diguyur Hujan
Meski demikian, ia tetap memilih bertahan hingga akhir. “Tidak bisa keluar, sekalian menunggu selesai karena jarak dari rumah cukup jauh. Bahkan saya sampai mengambil jatah libur kerja,” ujarnya.
Alif juga menyatakan bahwa variasi kostum tahun ini terlihat lebih menonjol dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
Dari sisi pedagang, pengalaman datang dari Fathurrozi, penjual ayam geprek asal Putat Lor. Ia mulai berjualan sejak Sabtu pagi hingga Minggu siang dan tetap berada di lokasi meskipun dagangannya telah habis.
“Puas sekali. Acara dan kostumnya sangat berbeda dari tahun lalu,” ungkapnya.
Meskipun sebagian pedagang lain memilih pulang lebih awal, Fathurrozi memutuskan bertahan karena menganggap Pesona Gondanglegi sebagai momentum penting yang menghadirkan pembeli dari berbagai daerah, tidak hanya dari Gondanglegi.

Baginya, momen ini juga menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman berjualan pada acara berskala besar. Ia bahkan membagikan pengalaman lucu ketika dagangannya habis dan ia harus kembali ke kontrakan untuk mengambil bahan tambahan.
“Karena kewalahan, saya sempat digoda oleh beberapa penonton. Tapi itu menjadi pengalaman yang menghibur,” ujarnya.
Pada Minggu pagi, situasi di area acara mulai lengang. Banyak penonton dan pedagang terlihat bersiap pulang, sementara suhu udara meningkat cukup signifikan.
Meski demikian, pengalaman kelelahan, kepuasan, dan interaksi pengunjung yang beragam menunjukkan bahwa Pesona Gondanglegi 2025 tidak hanya menawarkan kemeriahan pertunjukan, tetapi juga meninggalkan kesan yang kuat bagi masyarakat yang setia mengikuti jalannya acara hingga penghujung kegiatan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Jazuli (magang)
Editor: Herlianto. A
























