Tugumalang.id – Universitas Islam Malang (Unisma) kembali menegaskan kontribusinya mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui kegiatan The International Conference on Biological Technology for Sustainable Nature (BioTESTA 2025), Unisma menegaskan perannya dalam kelestarian lingkungan hidup.
Konferensi internasional yang digelar pada Sabtu (20/9/2025) di KH Abdurrahman Wahid Hall Unisma itu turut dihadiri para akademisi, dosen hingga mahasiswa baik dari dalam maupun luar negeri.
Secara spesial, konferensi itu menghadirkan Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nurofiq yang hadir secara daring.
Baca Juga: Unisma Perluas Jejaring Internasional, Teken MoU dengan INTI University dan KBRI Malaysia
Sebagai informasi, konferensi internasional ini adalah implementasi dari nota kesepahaman atau MoU yang ditandatangani bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Juli 2025 lalu.
MoU berkaitan soal ajakan kepada perguruan tinggi lebih aktif mendukung agenda pemerintah menjaga keberlanjutan lingkungan.

Melalui konferensi BioTESTA 2025, Unisma ingin turut andil dalam menjawab tantangan pelestarian lingkungan hidup tersebut. Dalam kegiatan ini, Unisma menghadirkan sejumlah mitra dari berbagai negara sebagai keynote speakers, meski sebagian hadir secara daring.
”Mulai 2 kampus mitra kita di Inggris, yaitu Manchester University dan King’s College, kemudian ada juga dari Australia hingga Taiwan, turut hadir berpartisipasi dalam konferensi ini,” terang Prof Drs H Junaidi Mistar PhD, Rektor Unisma.
Baca Juga: Unisma Jalin MoU dengan University Malaya-Wales dan SEGi University Malaysia, Perkuat Jejaring Internasional
Prof. Jun menegaskan bahwa konferensi ini bukan hanya sekedar seremoni akademik, melainkan sebagai awal sebuah gerakan. Apalagi, mengingat situasi keanekaragaman hayati di Indonesia sudah menjelma menjadi ancaman serius.

Sebagai contoh, Indonesia menghadapi ancaman serius seperti deforestasi yang mencapai 10 juta hektare dalam dua dekade terakhir dan kerusakan terumbu karang.
“Visi kita untuk hidup harmonis dengan alam pada tahun 2050 adalah sebuah ambisi yang esensial. Bagi Indonesia, ini bukan hanya janji, tetapi sebuah tanggung jawab,” tegasnya.
Diketahui, konferensi tersebut membahas sebuah tema besar “Probing Valuable Bio-Technology for Sustainable Nature”. Unisma menghadirkan jajaran pembicara kunci dari dalam dan luar negeri.
Selain kehadiran menteri Lingkungan Hidup H.E Mr. Hanif Faisol Nurofiq dan Prof. Nour Athiroh dari Indonesia, hadir pula pakar internasional ternama.
Mereka adalah Prof. Mulyoto Pangestu dari Australia, Assoc. Prof. Bin Huang dari Taiwan, Prof. Delvac Oceandy dari Inggris, Dr. Miao Guo dari King College London (UK), serta Prof. Anelie Petrissans dari Prancis, yang berbagi gagasan secara daring maupun luring.
Sementara, Conference Chair, Ahmad Syauqi menambahkan bahwa untuk mendukung gerakan ini, Unisma telah memiliki dua program studi andalan yang ditargetkan bisa berkontribusi lebih terhadap gerakan ini.
Keduanya yakni Biologi dan Kedokteran yang menurut dia memiliki basis riset yang kuat pada pemanfaatan keanekaragaman hayati.
“Di prodi Biologi, kekhasan kami adalah konservasi keanekaragaman hayati. Sementara di Fakultas Kedokteran, ciri khasnya ada penelitian biodiversitas untuk kesehatan. Riset kami banyak berfokus pada pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan,” ungkap pria yang juga dosen Bioteknologi Dasar FMIPA Unisma.
Ia mencontohkan beberapa penelitian yang telah dilakukan dosen Unisma, seperti pemanfaatan biji buah tertentu dan riset tiga jenis tumbuhan, termasuk pegagan, yang terbukti berpotensi untuk kesehatan jantung.
“Riset-riset ini tak hanya berkontribusi untuk kebutuhan daerah, tetapi juga menjawab tantangan di tingkat nasional secara lebih luas,” tegasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























