Malang, Tugumalang.id – Popularitas Schedule 1, sebuah game simulator bertema perdagangan narkoba yang dirilis pada Maret 2025, terus melejit. Dengan hampir 460.000 pemain aktif di Steam, game ini menjelma sebagai salah satu judul indie paling viral tahun ini. Namun, di balik prestasinya, Schedule 1 memantik kontroversi yang kembali membuka perdebatan klasik: apakah game bertema narkoba dapat memengaruhi moral pemainnya?

Game Schedule 1, Terlalu Dekat dengan Bahaya?
Schedule 1 menyajikan simulasi kehidupan sebagai pengedar narkoba dalam dunia bergaya kartun. Walau tampil dengan nuansa humoris, konten permainan ini berfokus pada aktivitas ilegal seperti produksi, distribusi, hingga negosiasi narkotika. Hal ini membuat pemerintah Australia langsung menarik game ini dari katalog Steam karena dianggap melanggar regulasi konten interaktif mereka.
Baca juga: 5 Rekomendasi Game PC Bertema Kucing yang Wajib Kamu Coba, Seru, Menggemaskan, dan Bikin Ketagihan!
Tak hanya soal konten, Schedule 1 juga dituduh menjiplak Drug Dealer Simulator, game besutan Movie Games S.A. yang lebih dulu hadir dengan konsep serupa. Movie Games mengklaim adanya kemiripan signifikan dalam desain antarmuka, sistem ekonomi permainan, hingga alur cerita. Meski belum ada gugatan hukum resmi, kontroversi ini memicu perdebatan di kalangan komunitas game indie, yang menilai studio besar mencoba membungkam kreativitas pengembang kecil lewat ancaman legalitas.
Apakah Game Bertema Narkoba Berdampak Buruk bagi Moral?
Pertanyaan seputar dampak moral game kembali mencuat. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa Schedule 1 bisa menormalisasi atau bahkan mengglorifikasi gaya hidup kriminal, terutama bagi pemain muda. Gaya visual yang cerah dan nada sarkastik dinilai berpotensi menyamarkan pesan moral di balik permainan.
Baca juga: Love and Deepspace: Game Visual Novel Sci-Fi Romantis yang Bikin Baper dan Tegang
Padahal, pengembang game ini telah menyisipkan peringatan eksplisit di awal permainan: bahwa game ini tidak mendukung penggunaan narkoba dan justru menunjukkan bagaimana kehidupan sebagai pengedar adalah jalan menuju kehancuran. Sayangnya, pesan ini bisa tenggelam di tengah penyajian yang satir dan ringan.
Sebaliknya, Drug Dealer Simulator memilih pendekatan yang lebih gelap dan realistis. Dengan visual suram serta penekanan kuat pada konsekuensi tindakan kriminal, game ini dianggap lebih “serius” dalam mengangkat tema berat tersebut. Meski demikian, hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa bermain game bertema narkoba akan mendorong perilaku serupa di dunia nyata.
Hiburan atau Bahaya Terselubung?
Seperti perdebatan lama seputar game kekerasan, tema narkoba dalam video game masih berada di area abu-abu. Apakah ia hanya fiksi hiburan? Atau ada potensi dampak psikologis yang belum sepenuhnya dipahami?
Yang jelas, kontroversi Schedule 1 membuka diskusi penting tentang bagaimana media digital—termasuk video game—mampu membentuk persepsi publik, terutama di kalangan generasi muda. Ini menjadi tantangan besar bagi industri game: bagaimana menyajikan tema sensitif secara bertanggung jawab, tanpa memicu glorifikasi tindakan kriminal.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Veri Adrianto Ivansa / Magang
redaktur: jatmiko
























