Oleh: Dr Ir Wahyu Hidayat M.M, PJ Wali Kota Malang
Tugumalang.id – Begitu besar makna Idul Adha yang bisa kita ambil pelajarannya, hingga kini. Idul Adha yang identik dengan berkurban, baik itu sapi dan kambing, mengajarkan kita banyak hal.
Salah satunya adalah soal ke-ikhlasan dan kesadaran. Ikhlas berarti, menyucikan hati bahwa kita ini sejatinya adalah makhluk. Sebagai seorang makhluk, kita harus ikhlas ketika Allah SWT memerintahkan kita berbuat apapun.
Perintah yang nyata dan menjadi kewajiban kita adalah shalwat lima waktu. Sebagai seorang hamba, kita harus ikhlas melaksanakan itu. Selain sebagai kewajiban, shalat juga kebutuhan seorang hamba untuk mendekat dengan penciptanya.
Baca Juga: Pj Wali Kota Malang Pastikan Inflasi Terkendali Jelang Iduladha 2024
Ke-ikhlas-an inilah yang diajarkan oleh Nabi Ibarahim yang diperintah menyembelih anak satu-satunya yakni Nabila Ismail. Sang anak yang dinanti begitu lama, oleh Allah SWT diminta untuk disembelih.
Sejatinya, Nabi Ibrahim tidak diminta menyembelih sang anaknya. Tapi, beliau diminta menyembelih rasa kepemilikan yang begitu besar kepada sang anak. Rasa kepemilikan inilah yang sejatinya juga harus kita sembelih.
Bahwa, sejatinya jabatan, harta, anak, dan istri kita, yang mungkin sangat kita cintai, sejatinya adalah milik Allah SWT. Kita harus “menyembelih” rasa kepemilikan itu dengan menganggap bahwa semuanya hanyalah milik Allah SWT. Jika itu sudah ada dalam diri kita, maka kita tidak akan kecewa berlebihan ketika semua yang kita miliki hilang.
Selanjutnya, pelajaran kedua adalah soal kesadaran. Yakni, kesadaran bahwa sebagai seorang makhluk, kita harus menjadi rahmat bagi makhluk yang lain. Kita harus mau berkorban, untuk manusia yang lain.
Dengan demikian, sebagai seorang abdi negara, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Malang harus mempunyai kesadaran sebagai pelayan. Begitu juga pimpinan yang ada di Kota Malang, harus mempunyai jiwa pelayan dan ikhlas layaknya Nabi Ibrahim.
Baca Juga: Ratusan Atlet Meriahkan Kejuaraan Nasional Ngalam Roller Sport Piala Pj Wali Kota Malang XI 2024
Apalagi, sejatinya pemimpin adalah pelayanan yang harus mempunyai kesadaran untuk bekerja secara ikhlas. Begitu juga dengan staf di lingkungan Pemkot Malang, juga mempunyai jiwa itu.
Terlebih, seseorang disebut pemimpin itu, bukan hanya mereka yang mempunyai jabatan. Seorang staf tapi mempunyai dampak dan pengaruh luar biasa, dalam melayani masyarakat, bagi saya seorang staf tersebut, sudah menjadi seorang pemimpin.
Jika itu terjadi, mengutip Jhon Maxwell, bahwa seorang tersebut sudah menduduki kepemimpinan Pinnacle atau pemimpin puncak. Yakni, mereka yang tidak hanya mempunyai pengaruh besar, tapi juga mampu menciptakan perubahan dan transformasi yang luar biasa.
Mari kita semua memimpin perubahan untuk Kota tercinta ini dengan sikap ikhlas dan dengan kesadaran penuh. Menyitir mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, bahwa perubahan harus kita mulai dari kita sendiri, dari dimulai saat ini.
“Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau waktu lain. Kita adalah orang-orang yang kita tunggu-tunggu. Kita adalah perubahan yang kita cari,” kata Obama.
Yuk, kita maknai Idul Adha ini sebagai momen untuk menjadi ikhlas dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Selamat merayakan Idul Adha bersama keluarga tercinta. Salam.
Editor: Herlianto. A




























