Tugumalang.id – Joko Anwar kembali menjadi sorotan karena film terbarunya yang berjudul Ghost in the Cell. Berbeda dengan film-film sebelumnya, film ini menggabungkan genre horor dan komedi.
Perpaduan ini menghadirkan suasana tegang dengan selipan unsur komedi. Dengan sentuhan khas sang sutradara, film ini tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga kekuatan cerita. Tidak heran jika sejak awal diumumkan, film ini sudah menjadi perbincangan.
Berikut beberapa fakta menarik dari film Ghost in the Cell:
1. Menggabungkan genre horor dan komedi
Setelah sukses dengan berbagai film horornya, kini Joko Anwar menggabungkan genre horor dan komedi di film terbarunya. Perpaduan dua genre ini memberikan variasi dalam penyajian cerita.
Baca Juga: Rekomendasi Film Horor Komedi Indonesia dengan Rating Tinggi dan Cerita Menarik
Adegan-adegan menyeramkan dan menegangkan tetap terasa kuat walaupun diselingi dengan humor. Justru, humor yang muncul membuat momen horor terasa lebih mengejutkan.
2. Latar film diambil di penjara
Latar penjara dalam film ini tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya cerita, tetapi juga berfungsi sebagai metafora tentang keadilan dan sistem hukum.
Mengutip dari Popmama.com, Morgan Oey, salah satu aktor dalam film ini, menyampaikan bahwa latar penjara menyinggung berbagai isu, mulai dari ketimpangan sosial dan lingkungan, hubungan antar manusia, hingga konsep sebab-akibat dalam kehidupan.
Penjara digambarkan sebagai tempat yang penuh tekanan dan konflik. Lingkungan tersebut membuat suasana film terasa lebih mencekam.
3. Lagu cicak-cicak di dinding sebagai soundtracknya
Lagu cicak-cicak di dinding biasa berhubungan dengan lagu anak-anak yang ceria, tetapi di film ini, lagu cicak-cicak di dinding terdengar menjadi lagu horor yang memberi kesan menyeramkan. Pemilihan lagu tersebut dikarenakan paling mirip dengan Tokek yang merupakan karakter uama dalam film ini.
Baca Juga: 4 Film Populer yang Dibintangi Cillian Murphy, Dari Peran Antagonis hingga Ilmuwan Jenius
Selain itu, penggunaan lagu ini memengaruhi suasana dalam beberapa adegan. Hal ini menunjukkan elemen sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang menegangkan.
4. Dibintangi banyak aktor papan atas
Film ini diperkuat oleh deretan aktor papan atas Indonesia. Mulai dari Morgan Oey, Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, ikut meramaikan film ini.
Kehadiran para aktor ini menunjukkan kolaborasi dari berbagai latar belakang perfilman. Setiap tokoh memiliki peran dalam membangun alur cerita. Hal ini membantu penonton lebih mudah terhubung dengan cerita.
Selain itu, keterlibatan beberapa aktor yang sudah dikenal membuat film ini lebih banyak diperhatikan. Hal ini juga membuat lebih banyak orang mengetahui film ini.
5. Akan tayang di 86 negara
Film Ghost in the Cell tidak hanya menarik perhatian dalam negeri, tetapi juga beberapa negara lainnya. Film ini dikabarkan akan tayang di 86 negara di dunia, bahkan sebelum resmi dirilis di Indonesia.
Mengutip dari IDN Times, film ini diminati banyak negara karena mengangkat tema ketidakadilan yang bisa dipahami oleh berbagai kalangan. Joko Anwar sendiri menyebut bahwa isu yang diangkat bersifat universal dan dekat dengan kehidupan banyak orang.
Hal ini menunjukkan bahwa film Indonesia mulai mendapat pengakuan global. Selain itu, hal ini juga mencerminkan jangkauan film Indonesia di pasar global.
Ghost in the Cell menjadi salah satu film Indonesia yang menghadirkan konsep yang berbeda. Film ini menghadirkan perpaduan cerita yang unik dengan pendekatan yang tidak biasa.
Selain itu, kualitas produksi dan jajaran pemainnya juga menambah daya tarik tersendiri. Film karya Joko Anwar ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Intan Adelia/ Magang
Editor: Herlianto. A





























