Malang, Tugumalang.id – Business Coach Imam Muhajirin Elfahmi atau yang akrab disapa Coach Fahmi menekankan kepemimpinan sebagai sikap dan keputusan untuk menghadirkan perubahan.
Pesan tersebut disampaikan Coach Fahmi saat penutupan Grounded Leadership Coaching (GLC) Angkatan ke-22 di Gedung Scale Up Center, Kota Malang, Sabtu (15/8/2026) sore. Pelatihan bisnis dan kepemimpinan itu diikuti 74 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
GLC Angkatan ke-22 berlangsung selama lima hari, mulai Selasa (11/8/2026) hingga Sabtu (15/8/2026). Pelatihan tersebut tidak hanya diikuti peserta dari Malang. Sejumlah peserta datang dari luar Jawa, di antaranya Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sumatera.
Dalam penutupan yang disertai potong tumpeng itu, Coach Fahmi menekankan bahwa setiap orang memiliki peran sebagai pemimpin. Kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan, tetapi juga sikap dan keputusan dalam kehidupan.
“Kita akan jadi bagian dari perjuangan anak manusia untuk menjadi lebih baik. Setiap dari kita adalah pemimpin. Setiap dari kita akan dimintai pertanggungjawaban,” ujar Coach Fahmi.
Menurutnya, setiap individu memiliki panggilan kepemimpinan masing-masing. Hal terpenting adalah menyadari dan menjalankan panggilan tersebut dengan sungguh-sungguh.
“Kita punya panggilan kepemimpinan kita masing-masing. Tugas kita adalah menginsafi (menyadari) panggilan dan merasakannya. Kita lahir untuk suatu tujuan yang besar,” katanya.
Coach Fahmi juga memberikan perhatian khusus terhadap peran perempuan dalam keluarga dan kehidupan sosial. Ia mendorong perempuan melihat dirinya sebagai sosok utama yang memiliki peran penting dalam membangun generasi masa depan.
Baca juga: Coach Fahmi: Pemimpin Harus Hadirkan Kesuksesan dan Kebahagiaan
“Setiap perempuan harus melihat dirinya sebagai first lady. Kita punya komitmen untuk melahirkan anak-anak yang sukses dan bahagia,” tuturnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak boleh hanya menyaksikan berbagai persoalan di sekitarnya tanpa melakukan tindakan. Menurutnya, kepemimpinan tercermin dari keberanian mengambil keputusan dan melakukan upaya perbaikan, termasuk saat menghadapi persoalan sosial seperti tingginya jumlah sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan.
“Pemimpin adalah sikap. Pemimpin adalah keputusan. Termasuk keputusan untuk tidak tinggal diam melihat banyak orang menganggur. Pemimpin tidak tinggal diam melihat banyak orang kesulitan,” tegasnya.
Ia mengingatkan para peserta bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Namun, keberadaan manusia di dunia juga membawa tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri dan lingkungan di sekitarnya.
“Kita punya salah, punya dosa, tapi tugas kita di dunia ini adalah melakukan perbaikan,” ujarnya.
Bagi Coach Fahmi, upaya melakukan perbaikan tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk besar. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai dengan kapasitas, lingkungan, dan panggilan kepemimpinannya masing-masing.
Menutup sambutannya, Coach Fahmi berpesan kepada para peserta untuk membawa semangat dan pembelajaran selama mengikuti GLC ke lingkungan kerja maupun perusahaan masing-masing.
“Selamat kembali ke perusahaan masing-masing, pastikan di setiap detik Anda kembali adalah kebahagiaan dan selalu bersyukur,” katanya.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak terlalu sibuk memikirkan penilaian negatif dari orang lain. Sebaliknya, energi tersebut dapat diarahkan untuk terus membangun kapasitas dan memperbaiki diri.
“Mungkin ada yang membenci, tapi (marilah) kita menyibukkan diri untuk membangun diri kita masing-masing,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























