MALANG, Tugumalang.id – Tren Barcode Korea di TikTok telah merambah pelajar yang ada di Indonesia. Barcode Korea merupakan istilah yang merujuk pada tindakan melukai diri sendiri menggunakan benda tajam dalam bentuk garis paralel seperti barcode.
Sebanyak 11 pelajar SD di Situbondo menjadi korban tren ini dan menyayat lengan mereka pada Oktober 2023 lalu. Saat ditanya oleh guru, mereka mengaku mengikuti tren yang ada di TikTok.
Baca Juga: TikTok Shop Resmi Ditutup, Asa Pedagang Pakaian di Pasar Kota Malang Bangkit
Melihat adanya tren ini, Polres Malang akan melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah agar pelajar di Kabupaten Malang tidak mengikuti tren berbahaya tersebut. Ini merupakan salah satu upaya Polres Malang dalam melindungi kesehatan dan kesejahteraan mental generasi muda.
“Fenomena seperti ini sangat mengkhawatirkan, terlebih jika tidak segera ditangani dengan serius, bisa menjadi permasalahan kesehatan mental yang lebih besar di kalangan pelajar,” ujar Kasihumas Polres Malang, Iptu Ahmad Taufik, Selasa (14/11/2023).
Baca Juga: Parkir Vertikal Kayutangan Bakal Dibangun Awal 2024, Lokasinya Eks DLH
Menurut Taufik, tren Barcode Korea ini tak hanya bisa membahayakan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental pelajar yang terlibat dalam tren tersebut. “Fenomena Barcode ini dapat menjadi tanda bahwa anak-anak tersebut sedang mengalami masalah mental dan emosional yang mendorong mereka untuk melakukan tindakan menyakiti diri sendiri,” imbuh Taufik.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam mencegah fenomena ini di kalangan pelajar. Orang tua pun diimbau agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak di rumah, sementara para guru juga diharapkan bisa memberi perhatian ekstra terhadap siswa-siswinya.
“Tidak hanya memberikan pendidikan formal, namun para guru juga harus peka terhadap perubahan perilaku anak-anak mereka. Dengan kerjasama yang baik antara keluarga dan sekolah, kita dapat mencegah dampak negatif yang lebih lanjut dari tren berbahaya ini,” kata Taufik.
Melalui sosialisasi dan pengawasan orang dewasa, Taufik berharap fenomena ini bisa diatasi dan tercipta lingkungan pendidikan yang aman bagi generasi muda. Ia pun mengimbau semua pihak agar turut berperan aktif dalam melindungi kesehatan mental dan fisik anak-anak.
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor:Herlianto. A